Posted by: danummurik | June 25, 2016

Tujuh Destinasi Menarik di Kecamatan Kuripan

Jambu Baru

Oleh : Nasrullah

Tidak lengkap kalau hanya mengenal Kecamatan Kuripan kabupaten Barito Kuala hanya dari keterpencilannya. Sebagaimana sebuah koin memiliki dua sisi berbeda, begitu pula kecamatan Kuripan yang terletak bagian hulu (utara) Batola selalu ramai oleh lalu lintas sungai yang menghubungi tiga kawasan utama: Ke arah hulu adalah kota-kota tua di pesisir sungai Barito, yakni Buntok, Muara Teweh dan Puruk Cahu, sedangkan ke bagian hilir sebelah kiri adalah kota Marabahan dan Banjarmasin. Adapun bagian kanan persimpangan Sungai Barito adalah menelusuri sungai Pulau Petak akan bertemu dengan kota Kuala Kapuas. Lalu lalang perahu besar tug boat membawa tongkang berisi batu bara, rakit kayu, kapal-kapal barang dan penumpang dari dan ke kota-kota tersebut di atas adalah pemandangan yang biasa di Kecamatan Kuripan.

Selain itu, Kecamatan Kuripan yang terdiri dari desa Tabatan Lama, Tabatan Baru, Rimbun Tulang, Kuripan, Asia Baru, Jarenang, Kabuau, Hampelas dan Jambu Baru sebenarnya memiliki tujuh tempat yang menarik dikunjungi.

  1. Zona Kerbau Rawa

Tidak perlu ke Eropa untuk melihat para rodeo atau para penunggang kuda mengendalikan bintang ternak; sapi, kuda, banteng. Datanglah ke desa Tabatan Baru dan Tabatan Lama, anda akan menyaksikan penduduk dengan tangkasnya berdiri di ujung jukung sambil memegang tongkat bambu (teken) menghalau ratusan kerbau rawa agar naik ke atas kandang yang disebut kalang. Kerbau-kerbau itu, meski punya tubuh raksasa dan sering mendengus kesal ternyata sangat patuh sama pengembalanya.

Bentang alam terdiri dari rumput dan areal hutan galam yang memanjang dari desa Rimbun Tulang hingga Tabatan adalah habitat bagi ratusan hingga ribuan kerbau rawa tersebut. Di musim air pasang, kerbau rawa hanya terlihat moncong dan tanduknya saja di permukaan air. Jika anda ingin menemui mereka cukup membawa sesaji berupa garam di dalam ember niscaya mereka akan datang berbondong-bondong.

Pada musim kemarau, anda akan merasakan gempa lokal jika rombongan kerbau rawa itu melintas. Bagaimana tidak, berat satu ekor saja mencapai ratusan kilogram apalagi jumlahnya mencapai ratusan ekor. Para fotografer kebanyakan mengabadikan kerbau rawa ini pada musim air pasang yakni ketika mereka berenang atau berada di atas kalang. Padahal di musim kemarau, menonton pergerakan rombongan kerbau rawa ini tak ubahnya melihat kehidupan migrasi binatang purba. Momen ini pantas diabadikan.

Hanya saja yang harus diperhatikan. Anda tidak boleh mendekati betina yang baru melahirkan. Instink seorang ibu dengan naluri ke-hadangan-nya tidak sekedar melindungi baby kerbau, tetapi sangat agresif terhadap pihak asing yang dianggap mengganggu. Jadi hati-hatilah.

Sebaliknya, jika ada acara keramaian seperti perkawinan, upacara kematian, atau hari raya kurba, kerbau rawa merupakan pilihan premium untuk dijadikan hidangan. Daging kerbau dimasak dengan cara apapun terasa sangat enak di lidah.

  1. Memandang dari Ketinggian di Menara Pandang TVRI
Koleksi  Alfitri

Koleksi Alfitri

Tidak perlu ke Banjarmasin kalau hanya sekedar berada di menara pandang. Di desa Rimbun Tulang terdapat menara TVRI yang berdiri sejak era Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) hingga sekarang. Dari atas menara pandang itu, kita dapat mengedarkan pandangan ke segenap penjuru. Terlihat hutan membentang, sungai Barito yang mengular, orang-orang di bawah serupa noktah saja.

Sayangnya menara pandang ini bukan milik publik dan juga bukan untuk kepentingan wisata mata. Jadi kalau mau naik ke atas mesti izin dulu sama penjaga menara itu.

  1. Rimbun Tulang dan Kuripan: Kampung Atlet

Saya tidak mengada-ada kalau menyatakan desa Rimbun Tulang dan desa Kuripan adalah kampung atlet. Akhir tahun 1990-an, pemuda Kuripan mengharumkan Barito Kuala melalui raihan prestasi juara perahu naga tingkat daerah, tingkat propinsi hingga tingkat nasional. Prestasi atlet Kuripan dalam lomba dayung dibentuk oleh alam dan latihan keras. Mereka terlahir sebagai pendayung karena dalam keseharian hanya menggunakan jukung untuk bepergian dan bekerja, maka ketika terlibat dalam lomba dayung, orang-orang Kuripan hanya butuh penyesuaian.

Tempaan alam saja tidak cukup bagi atlet Kuripan. Mereka berlatih dengan keras. Desa Rimbun Tulang dan desa Kuripan saling menyambung, menyusuri jalan darat sepanjang dua desa itulah para atlet melakukan pemanasan dengan berlari beberapa kali sebelum menaiki perahu.

Soal perahu adalah keunggulan atlet Kuripan. Tak punya perahu standar untuk berlatih, apalagi dayung khusus, mereka menerapkan model latihan mendayung “kalotok kahem”. Sebuah perahu kelotok yang digunakan untuk berlatih diisi air separo kelotok tersebut.  Mendayung sebuah kelotok sudah berat, semakin berat ketika mereka mendayung kelotok yang telah diisi airnya tersebut. Justru di situlah semangat atlet, bahkan mereka bergembira dapat melampaui sebuah kelotok yang membawa banyak penumpang dari arah Kapuas ke Hulu Sungai.

Terbiasa berlatih dengan perahu karam dan dayung berat membuat semuanya terasa ringan ketika mereka berlomba dengan perahu standar, dayung standar, dan peralatan standar lainnya. Para atlet dayung desa Rimbun Tulang dan desa Kuripan adalah beranjak dari tim yang tidak diperhitungkan menjadi tim yang yang ditakuti.

Kini era dayung sudah berlalu, tak ada sponsor atau pihak yang peduli. Seorang atlet dayung yang pernah berprestasi hingga PON, saya lihat berada di atas jukung sambil memasang rawai. Saya pernah menanyakan, mengapa ia tidak pindah ke propinsi lain demi bertahan diajang lomba dayung. Reaksinya hanya menggeleng kepala sambil menarik tali rawai tersebut.

  1. Pasar Kabuau: Denyut Nadi Ekonomi Kecamatan Kuripan

Setiap hari ahad digelar pasar. Pasar itulah yang mempertemukan seluruh warga kecamatan Kuripan dari berbagai desa. Sesuainya namanya, pasar itu ada di desa Kabuau, tapi itu sudah belasan tahun. Entah kenapa lokasi pasar tersebut berpindah ke desa Jarenang. Meski berpindah tempat lidah warga sudah akrab menyebut pasar Kabuau hingga sekarang.

Ketika hari ahad tiba, ratusan kelotok bergerak menuju pasar Kabuau. Di pasar itu, nyaris tersedia berbagai kebutuhan warga dari sembako, pakaian, mainan anak-anak, alat elektronik, hingga perhiasan emas ada dijual. Di pasar pula, para gadis dan pemuda desa menunjukkan gaya sehebat mungkin tentunya untuk saling tebar pesona.

  1. Gosong: Pantai Mini di Jambu-Baru

Anggapan selama ini jodohnya pantai adalah laut, tetapi di Kuripan berbeda. Ini lain cerita, pantai ada di tepi sungai yang ditemukan di daerah Kuripan khususnya di desa Jambu Baru terdapat sepasang pantai yang terletak di bagian hulu dan hilir kampung. Pantai itu oleh penduduk disebut sebagai gosong yakni endapan pasir yang menumpuk di pinggir sungai. Tumpukan pasir itu lama kelamaan membentuk pola seperti pantai berukuran kecil.

Gosong banyak ditemukan di tikungan sungai yang membentuk teluk, tepatnya pada bagian ujung patahan tikungan. Daerah tersebut sangat memungkinkan terjadinya endapan pasir atau lumpur persis seperti pantai.

Jika ingin mengunjungi pantai gosong tersebut sebaiknya datang pada musim kemarau. Pada saat itu pantai gosong akan terlihat seutuhnya karena tidak terendam oleh genangan air. Mengabadikan moment melalui kilatan kamera ketika berada di gosong akan menciptakan suasana berbeda dibandingkan di pantai tepi laut.

Namun gosong saat ini masih terkesan angker, terutama selalu terdapat ulek barito (pusaran air)  di depan gosong. Kondisi ini menyebabkan perahu atau kelotok sulit untuk merapat di gosong. Selain itu, gosong dianggap tempat berjemur sejumlah buaya sungai yang sebenarnya saat ini tidak pernah ditemukan lagi.

  1. Surga bagi Paunjunan

“Mancing mania. Mantappp”

Begitulah slogan para pemancing ikan. Namun, Jauh sebelum acara mancing mania ditayangkan di televisi swasta, sebenarnya kecamatan Kuripan merupakan surga bagi para pemancing mania atau paunjunan atau pamisian.  Hampir setiap kawasan di kecamatan Kuripan merupakan tujuan menarik untuk memancing ikan. Ikan yang didapatkan dari memancing adalah haruan, papuyu dan ikan sepat.

Demi menyaluran hobby memancing, biasanya para paunjunan yang berasal dari Banjarmasin sudah tiba sejak pagi buta di desa Jambu-Baru. Jika sudah tiba sejak pagi buta, dapat dibayangkan jadwal keberangkatan para pemancing ini dari kota Banjarmasin dilaksanakan sekitar pukul 10 atau pukul 11 malam. Target memancing di alam terbuka bukanlah dari jumlah ikan yang didapatkan, melainkan dari rasa dan konsentrasi merasakan rasa penasaran akibat jarujut ikan pada mata pancing.

Seorang pemancing mania sesungguhnya tak ubahnya seperti sniper. Ia diam tak bergerak seperti mematung dengan konsentrasi penuh melihat dengan seksama pada tali pancing. Demi pencapaian konsentrasi tingkat tinggi, para paunjunan rela berkamuflase dengan lingkungan sekitarnya. Oleh karea mereka berubah menjadi bunglon, atau menjadi apapun seperti tumbuhan di dekatnya. Daun pisang menjadi penutup kepala, rumput-rumput  menyelimuti tubuh para paunjunan.

Areal pemancingan di alam terbuka yang terletak di padang atau belakang pemukiman warga inilah menjadi kawasan kecamatan Kuripan sebagai destinasi bagi para paunjunan. Setiap hari minggu, atau hari libur lainnya, mereka rela menghabiskan waktu libur yang berharga demi kenikmatan memancing ikan di alam terbuka.

  1. Menatap Matahari Tenggelam

Senja

Beberapa tahun lalu, saya mengajak seorang teman yang berasal dari Yogyakarta pulang ke kampung, desa Jambu Baru. Sore hari, menjelang magrib, atau bagi orang Bakumpai di sebut andau sarak saru, ia duduk di pelataran rumah yang menghadap ke arah sungai Barito. Secara kebetulan darii tempat itu, ia langsung menatap matahari tenggelam.

Saya menyuruh dia untuk masuk ke dalam rumah, apalagi hari semakin gelap dan banyak nyamuk. Sambil memukul nyamuk yang bersiap menghisap darahnya, teman ini berkata, “Biarlah saya di sini dulu. Saya ingin menatap matahari tenggelam di tepi sungai Barito”.

Saya terperajat mendapati pengakuannya. Bukankah pemandangan matahari tenggelam atau sunset itu  menarik dilihat dari tepi pantai. Bukankah pula di Yogya ada pantai Parang Tritis dan pantai-pantai lain yang menyediakan keindahan untuk menikmati sunset. “Orang ini aneh” demikian saya membatin.

Namun saat itu saya menjadi sadar, keindahan alam di sungai Barito dan matahari tenggelam itu hanya disadari jika kita memiliki perbandingan dengan daerah lain yang sangat bertolak belakang. Tenggelamnya matahari di dasar laut adalah keindahan yang selama ini mendoktrn pikiran kita, sehingga kita mengabaikan keindahan matahari yang tertusuk oleh pepohonan sepanjang sungai Barito. Bukankah begitu dekatnya matahari di ufuk barat, kalau dilihat dari tepi sungai Barito dibanding memandang matahari tenggelam sempurna nun jauh di ujung samudera sana.

  1. Selagi Masih Ada: Ayo ke Kuripan

Tujuh tahun lalu, saya datang ke Kutai Barat dan bertemu antropolog bernama Lahajir. Beliau menceritakan tesisnya ekosistem hutan di Tanjung Paku merupakan riset terakhir tentang ekosistem di sana. Setelah itu, menurutnya, ekosistem hutan itu sudah berubah menjadi areal perkebunan. Sejak itu pula, tamatlah segenap ritual, simbolik, dan apapun terkait aktivis orang Dayak dengan lingkungannya.

Begitu pula tulisan saya ini. Ekosistem hutan galam, air pasang surut: banjir atau kemarau berkepanjangan yang menjadi teman hidup orang Bakumpai di kecamatan Kuripan selama berabad-abad ini, tidak ada jaminan akan bertahan atau pun menjadi lebih baik di masa akan datang. Selama di belakang kampung, koorporasi plantasi mencengkeram lahan gambut, merubah hutan galam menjadi kebun sawit, maka selama itu pula segala kemungkinan akan terjadi.

Maka selagi masih ada, selagi semuanya belum banyak berubah maka datanglah ke Kuripan. Nikmati keindahannya.

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1437. Semoga kita termasuk orang yang bertaqwa.

 


Responses

  1. Luar biasa….. tulisan ini mmbuat saya bersyukur bs kenal dan hidup bersama dg salah satu pemuda kuripan (yg jg mantan atlit dayun) dan bs begitu dekat dg “kuripan” si kampung yg menyimpan byk pesona. Thanks a lot mr. Nasrullah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: