Posted by: danummurik | June 9, 2015

Menguak Fenomena Gila Batu Akik

Oleh: Nasrullah
IMG_20150519_081221

Mica, keponakanku berjualan ‘akik’ yang diambilnya dari halaman rumah.

Tahun 2014, bangsa Indonesia terkotak-kotak oleh hasrat berkuasa dan keberpihakan kepada salah seorang calon legislatif, calon kepala daerah hingga calon Presiden. Sebaliknya, tahun 2015 ini, kearifan lokal bangsa Indonesia menyatukan kembali pengkotakan itu dengan adanya ‘kegilaan’ bersama terhadap batu akik, atau batu apapun yang dilekatkan pada sebuah cincin.

Di mana-mana orang membicarakan batu akik, baik di pinggir jalan hingga di gedung parlemen, bahkan pembicaraan tentang batu itu mengalahkan isu besar apapun. Isu beras plastik, kritik terhadap pidato presiden, hari buruh, pembekuan PSSI dan isu lain yang dominan tidak mampu menggeser wacana batu.

Anak kecil hingga dewasa dengan bangga memamerkan cincin batu akik di jari tangan masing-masing. Semua orang menjadi gila batu, atau keranjingan cincin batu akik. Di ranah publik, misalnya walikota Banjarmasin menganjurkan agar pegawai negeri sipil di jajaran pemkot hingga pegawai kelurahan menggunakan cincin batu red borneo.

Di jejaring sosial, fenomena batu ini membuat orang menampilkan

Pecakapan Pocong

Pecakapan Pocong

kepemilikan cincin batu akik dengan berbagai gaya dari biasa hingga nyentrik. Ada pula yang kreatif menampilkan gambar tentang percakapan pocong dalam bahasa Banjar. Sasat tarus unda bulik ka kuburan, lingai nisan kaya tanah (Saya selalu tersesat ketika pulang ke kuburan, nisan menjadi rata dengan tanah) keluh pocong kepada temannya. Pocong yang lain menjawab Iya am batu kuburan habis digusuki buhannya pas borneo larang nih (Iya sih, batu di kuburan habis digosok mereka bersamaan dengan harga batu berneo ini mahal).

Membaca percakapan pocong ini membuat siapa saja menjadi tersenyum dan membenarkan betapa batu yang semula tidak berharga, kini dicari-cari banyak orang. Lantas bagaimana menjelaskan fenomena nasional tentang batu ini? Pertama-tama, fenomena gila batu akik, atau batu apapun namanya yang tengah dialami bangsa Indonesia benar-benar menetralisir friksi di antara warga Indonesia pasca pemilu 2014 dan menyatukan ke dalam satu hobby yakni hobby batu akik. Kedua, fenomena nasional batu akik telah mengalihkan isu kekuasaan dominan pasca pemilu kepada wacana manusia sebagai animal symbolicum dan homo luden.

Sebagai Simbol

Cincin batu akik yang dikenakan pada jari-jari tangan tidak hanya sekedar perhiasan, tetapi menjadi simbol prestise dan kelas pemakainya. Simbol itulah yang mengikat makna sebagai konsensus bersama bahwa jenis batu tertentu sangat penting.

Menurut Appadurai, benda memiliki sejarah sosial, dan demikian juga terhadap batu. Batu pada mulanya adalah benda yang tidak bermakna apa-apa karena tertimbun di dalam tanah atau saling bertumpukkan di antara bebatuan. Mengingat manusia sebagai makhluk yang menggunakan simbol, membuat jenis batu tertentu dimaknai sebagai benda yang memiliki nilai tinggi lebih dari sekedar perhiasan. Sehingga dimanapun batu itu berada akan dicari sampai ditemukan.

Cincin batu akik yang digunakan sang pemakainya, memiliki cerita tentang khasiat batu, sejarah kepemilikan batu, asal usul batu, mitos batu dan sebagainya. Cerita itu melebihi kualitas batu sebagai rumus kimia belaka maupun nama-nama latin batu yang dikenal di kalangan ilmuwan.

Status batu semakin membumbung tinggi karena tidak hanya dilihat pada kualitas batu, tetapi kualitas pemakai batu tersebut. Wajar saja orang-orang berebutan memilki batu cincin yang digunakan oleh seorang ulama, atau tokoh terkenal.

Batu juga menjadi bermakna kalau ditautkan pada cerita asalnya, seperti batu Lumut Aceh, batu Bacan dari Maluku, batu Sungai Dareh dari Sumatera Barat, Pancawarna Garut, Bungur Lampung, Badar Hijau Papua, batu Kecubung, Red Borneo dari Kalimantan dan lain sebagainya. Penamaan daerah yang melekat pada batu ini membawa kebanggaan bagi pemakai dari daerah asalnya, juga bagi pemakai batu dari daerah lain. Status seseorang akan naik dari pemakai menjadi kolektor apabila memiliki berbagai jenis batu dari berbagai daerah.

Permainan Mata

Gila batu akik ini pula yang menggembalikan fitrah manusia sebagai homo ludens atau makhluk yang suka bermain-main. Para penggila batu akik menjalani tiga tahapan permainan yakni mengagumi batu, memiliki dan menampilkan batu. Pertemuan orang-orang yang menggilai batu akik dapat menghabiskan waktu berjam-jam untuk sekedar berdiskusi membahas batu yang dimiliki.

Menerawang batu akik, melihat lekuk batu, menemukan fragmen warna-warni kemilau batu, mendapati tulisan atau gambar tertentu di dalam batu yang terbentuk oleh proses alami adalah permainan mata yang mengasyikkan. Kemudian bercerita sambil mengamati batu akik adalah dua kombinasi permainan yang menyenangkan. Orang dapat terbuai bermain-main dengan batu karena wacana tentang batu bertransformasi dalam imaginasi penggemarnya dari fisik ke mistik hingga menimbulkan rasa kekaguman terhadap batu.

Kekaguman itulah yang memotivasi hasrat manusia untuk memiliki batu. Kepemilikian terhadap jenis batu tertentu dapat bermakna kebebasan untuk memainkan batu, mengamati secara mendalam dan meletakkan dalam tempat khusus. Namun, kepemilikan pribadi pada dasarnya bukan konsumsi pemilik itu sendiri, sebab fenomena ini adalah gambaran kontestasi individu kepada individu lain untuk menunjukkan eksistensi diri di masyarakat.

Akhirnya, fenomena gila batu akik yang mampu menyatukan bangsa Indonesia dalam wacana batu secara estetis dan sangat kultural tidak lain karena kepemilikan individu. Kuasa setiap pribadi atas batu merupakan suatu metafora dalam kearifan lokal sebagai solusi atas dominasi kuasa kelompok atau kuasa individu terhadap pihak lain. Maka tinggi atau rendah kualitas dan harga pada sebuah batu akik bukanlah yang utama, sebab yang terpenting adalah semua orang bisa memiliki batu sendiri dan menampilkan kepada orang lain. Jadi, istilah sederhana terhadap fenomena batu akik adalah dengan memodifikasi kata bijak filsuf, Descartes, “saya punya batu, maka saya ada”

Banjarmasin Post, h. 13, Senin 8 Juni 2015

Versi online http://banjarmasin.tribunnews.com/2015/06/08/menguak-fenomena-gila-batu-akik/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: