Posted by: danummurik | April 17, 2015

Mahasiswa Sufistik atau Pejuang Skripsi

Tahukah anda mahasiswa yang sedang menulis skripsi dan ingin segera lulus, mereka mengalami perilaku kesufian. Saya tidak menyampaikan kuantitas kesufian tersebut, tetapi melihat kepada indikator sufistik dalam sikap mahasiswa. Indikator tersebut dapat saya ketahui ketika sedang membimbing skripsi mahasiswa.

Berikut ini lima indikator mahasiswa sufistik.

  1. Zuhud

Zuhud adalah faham yang menomorkan-duakan kepentingan duniawi. Hal ini pulalah yang dilakukan mahasiswa penulis skripsi. Pertama, mereka menghindari keramaian, menyepi dan konsentrasi menyelesaikan skripsi dan memperbaiki koreksi dari dosen. Pada saat itulah, mereka jarang berinteraksi dengan teman-teman di kampus, bahkan kepada teman satu angkatan sekalipun jarang berjumpa demi menyelesaikan skripsi. Jadwal datang ke kampus lebih fokus untuk menyerahkan koreksi skripsi atau bimbingan skripsi dengan dosen pembimbing.

Andai saja perilaku zuhud ini diamalkan sejak semester awal, pasti mahasiswa mengalami ledakan kecerdasan dalam dunia intelektual. Namun, menjelang lulus berperilaku demikian tentu saja lebih baik dari pada tidak sama sekali.

  1. Bakti Kepada Orang Tua

Masa-masa riang gembira, mengobrol dan tertawa bersama teman-teman nyaris terlewatkan bagi mahasiswa penggarap skripsi. Pikirannya tidak hanya tertuju kepada penyelesaian skripsi tetapi ingat orang tua di kampung halaman. “Pa, orang tua saya ingin sekali agar saya segera menjadi jadi sarjana” demikian kata seorang mahasiswa kepada saya beberapa tahun lalu. Seolah mengamini pendapat temannya, mahasiswa yang lain menambahkan “Orang tua saya selalu bertanya, kapan saya lulus? Padahal teman-teman seangkatan sudah ada yang lulus”. Atas nama bakti anak kepada orang tua inilah salah satu rayuan mahasiswa kepada dosen pembimbing agar segera menyetujui skripsinya untuk diujikan.

  1. Uang Ternyata Berharga

Jika selama ini menerima uang kiriman dari orang tua di kampung halaman adalah biasa saja. Saat penggarapan skripsi dan mendekati batas semester, ternyata uang ada harganya. “Pa, kalau tidak lulus semester ini, berarti saya harus bayar SPP lagi semester depan” terang seorang mahasiswa kepada saya. Jawabannya saya enteng saja, “iya kalau bayar SPP memang harus pakai uang”. Kalau dia agak bingung, saya melanjutkan penjelasan “memang selama ini kuliah tidak bayar?”

  1. Keinginan Menunaikan Sunnah Rasul

Semakin tinggi tingkat semester seorang mahasiswa akan paralel dengan bertambah usia mahasiswa tersebut. Maka secara psikologis dan biologis keinginan untuk menikah menjadi sesuatu yang wajar. Apalagi menikah adalah sunnah rasul. Ini pula jadi arsenal mahasiswa kepada dosen pembimbing. “Pa, saya mesti lulus semester ini karena ingin menikah”. Agak lama saya memikirkan korelasi antara kawin dan skripsi, padahal ada saja mahasiswa yang menikah pada saat kuliah. Jawaban saya pun sederhana saja, “menikah saja kamu. Toh menikah hanya sekali saja kan. Paling banter menikahi empat orang istri”. Jika alasan saya kurang dipahami, saya akan balas bertanya, “apa hubungan kawin dengan skripsi. Kalau kawin itu biasanya malam hari, atau tidak dilakukan sepanjang hari. Kamu masih bisa mengerjakan skripsi”

  1. Sangat Menghargai Waktu

Waktu adalah hal sangat berharga, bahkan dalam ajaran agama, Tuhan bersumpah demi waktu. Nabi pun bersabda, jagalah waktu senggangmu sebelum datang waktu sempitmu. Nah perkara waktu ini pulalah sangat amat disadari mahasiswa. Begini katanya, “Pak, saya angkatan tua, kalau belum lulus semester ini maka saya akan DO”. Barangkali mahasiswa baru sadar pepatah Arab, waktu itu laksana pedang, sedikit lengah tubuh kita jadi sasarannya. Saya diam termangu dan hanya bisa membatin “selama ini anda kemana saja. Jarang masuk kuliah, tidak mengerjakan tugas, waktu lebih banyak begadang untuk main kartu atau playstation?”

 Tidak Semuanya…

Ternyata mahasiswa tidak hanya melakukan pendekatan sufistik kepada dosen untuk memuluskan skripsinya. Ada pula mahasiswa yang pantang menyerah. Mereka memilih fight dan menempuh batas kemampuannya menulis. Mahasiswa tipe pantang menyerah ini terdiri dari beberapa karakter.

  1. Pejuang Skripsi

Mereka adalah mahasiswa yang terus-menerus mengerjakan skripsi, berkonsultasi kepada dosen pembimbing dan mengoreksi skripsi, kemudian menyerahkan kembali skripsinya kepada dosen. Di dalam hati mereka tentulah berharap segera lulus, tetapi itu disembunyikan saja dan ditutupi keinginan kuat agar proses bimbingan skripsi dan mendapatkan persetujuan dosen pada semester yang dijalani. Namun, mereka juga ingin skripsinya memang benar-benar murni disetujui dosen karena layak untuk diuji.

Ada kalanya di antara mereka memang berada pada batas akhir semester, jika tidak lulus semester ini kemungkinan drop out (DO). Ternyata istilah “DO” tidak dijadikan mantera untuk meluluhkan hati dosen pembimbing. Di saat kritis ini, mereka mampu berada pada posisi turning point dan terus berjuang dengan memaksimalkan kemampuan. Sekali lagi, mereka mampu membuktikan bahwa skripsi mereka benar-benar layak diuji. Mahasiswa kategori ini biasanya memiliki semangat kuat, mental baja, dan berusaha maksimal. Saya salut dengan mahasiswa tipe pejuang tersebut.

  1. Biarlah Semester ini Berlalu

Saya mesti jujur, “skripsi anda belum layak untuk diujikan sekarang” Artinya jika ingin skripsi tersebut ingin berkualitas, apa boleh buat,perlu proses dan panjang sehingga akan siap diuji semester depan. Ini pilihan sulit, tapi dosen juga manusia, “kalau kamu mau diuji semester ini, tentu dengan kualitas seadanya, saya siap menandatangani”.

Bagi mereka yang memilih biarlah semester ini berlalu, adalah mahasiswa yang berlapang dada. Mahasiswa tipe ini menyadari upaya menuju skripsi yang berkualitas tidak secara instan dan memerlukan proses. Mereka menjalani pilihan tidak enak tetapi ada kelegaan di hati karena mampu melewati masa-masa sulit.

 ***

Mahasiswa sufistik dan mahasiswa pantang menyerah tentu saja memiliki motivasi berbeda. Mahasiswa ‘sufistik’ tipe short cut atau mengambil jalan pintas. Mereka nothing to lose, berapapun nilainya yang penting lulus. Meski ada juga yang mendapatkan nilai A.

Adapun mahasiswa pantang menyerah, mereka menyadari kemampuan terbatas tetapi juga percaya diri. Mahasiswa tipe ini rela mengarungi belantara intelektual merintis peta jalan pemikirannya dan menemukan kristalisasi ilmu pengetahuan melalui skripsi. Kebanyakan mahasiswa pantang menyerah ini mendapatkan nilai A. Meskipun saya belum menggali korelasi dengan pekerjaan, tetapi mereka rata-rata mendapatkan pekerjaan yang memadai untuk menghidupi diri dan sesekali pergi berlibur.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: