Posted by: danummurik | July 13, 2014

Mengkritisi Krisis Gaza

Oleh: Nasrullah

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

(Composed by Michael Heart)

Jarak fisik antara Indonesia dengan Gaza, Palestina, tentulah sangat jauh, jangankan menempuh perjalanan melalui laut menggunakan pesawat sekalipun membutuhkan waktu yang lama. Jarak yang begitu jauh itu, rupanya berbeda dengan hati perasaan bangsa Indonesia terhadap orang-orang yang sedang bertarung menyabung nyawa di sana. Hati dan perasaan bangsa Indonesia tidak ada jarak sedikit pun dengan orang-orang menderita di jalur Gaza, Palestina.

Perang antara Israel dan Hamas adalah perang asimetris (tidak seimbang) akibatnya di Gaza rumah, masjid, sekolah, gedung hancur luluh. Banyak yang terluka, berdarah, meninggal dunia bahkan anak kecil pun dibantai, atas penderitaan itu bangsa Indonesialah yang terlebih dahulu ikut merasakannya. Bangsa kitalah yang berada di barisan depan meneriakkan dengan lantang protes keras dan kutukan kepada Israel dan Amerika. Setiap hari, ribuan bahkan ratusan ribu orang berunjuk rasa kepada perwakilan PBB di Indonesia dan kedutaan besar Amerika. Beberapa kota mendirikan posko relawan yang siap diterjunkan ke medan perang Gaza, mereka berlatih peperangan meskipun tidak peduli kalau yang dihadapi adalah meriam tank, mortir dan roket Israel. Tidak hanya itu, empati kepada penderitaan penduduk Gaza kita menyumbangkan bantuan berupa pengumpulan dana serta pengiriman obat-obatan.

Namun, karena begitu biadabnya Israel sehingga dunia pun ikut mengutuknya. Isu agama dalam krisis Gaza berubah menjadi isu kemanusiaan, Michael Hearth membuat lagu khusus untuk Gaza sebagai mana kutipan di atas. Dari Vatikan, Paus Benediktus pun angkat bicara untuk memprotes kekejaman Israel. Sikap keras dari berbagai negara sebagai bukti konkret protes tersebut dilakukan pemerintah Venezuela dan Bolivia dengan mengusir duta besar Israel, menyusul Mauritania dan Suriah yang memutuskan hubungan ekonomi dan diplomatik dengan Israel.

Di balik semua itu, perlu dikritisi bahwa apa yang terjadi di Gaza sebagai refleksi dari keadaan Timur Tengah. Isu Palestina tidak hanya milik umat Islam semata, Gaza sudah menjadi isu kemanusiaan. Jauh sebelum itu, Edward Said (2002) sudah melakukan kritik tajam terhadap bias pemberitaan media Barat terhadap dunia Islam. Dari krisis Gaza terlihat pertolongan negara-negara Arab terkesan lamban. Ketika orang-orang di Gaza setiap hari meregang nyawa terkena rudal, roket, peluru Israel, mereka malah sibuk berdebat satu sama lain. Tindakan konkret malah dilakukan oleh Hugo Chavez yang terang-terangan mengejek sikap pengecut tentara Israel. Kita tidak menemukan negara Arab berani secara terang-terangan melakukan hal demikian, kecuali Iran yang sejak dulu menunjukkan sikap menentang Israel.

Dari krisis Gaza, sebuah pertanyaan besar muncul ada apa dengan negara (pemimpin Arab) di Timur Tengah? Amien Rais yang telah meneliti dunia Arab paham betul betapa sulitnya posisi Mesir dan Saudi Arabia. Bahkan duta besar Palestina untuk Indonesia dalam sebuah acara dialog di Metro TV (19/01/09) menjelaskan, masalah di Gaza sekarang tidak sesederhana dibayangkan. Negara-negara Arab telah dibagi oleh Amerika menjadi negara yang baik dan negara yang jahat. Hegemoni Amerika telah merambah Timur Tengah dan hanya sedikit yang berani menentang kekuasaan Amerika. Itulah sebabnya Israel begitu berani menyerang Gaza karena di belakangnya bercokol Amerika, sedangkan Amerika sendiri di dalamnya terdapat orang-orang Israel yang dapat mempengaruhi kebijakan Amerika.

Sebelum Israel menarik pasukannya dari Gaza seperti sekarang, Jeremy Biwen menganalisa dua kemungkinan alasan untuk itu. Yang pertama memperlihatkan bahwa mereka harus mencapai tujuan militer yang sudah ditentukan. Yang kedua memperlihatkan banyaknya waktu yang tersisa sebelum tekanan internasional agar gencatan senjata ditetapkan menjadi tidak mungkin untuk ditolak. Jam diplomatik ini berjalan seiring dengan jumlah kematian warga sipil, dan dengan jumlah warga Palestina yang tewas demikian tinggi, jam itu berdetak semakin kencang (BBC Indonesia, 30/12/08). Nampaknya alasan kedua lah yang memaksa Israel menarik pasukannya dari Gaza, tapi di mana peran negara-negara Arab. Apalagi kalau melihat pertemuan di Doha yang secara khusus membahas Gaza dilakukan setelah lebih dari seribu orang meninggal dunia, bahkan Mesir dan Saudi Arabia tidak mengirimkan utusannya.

Kenyataan seperti ini setidaknya membuka mata kita untuk melihat lebih dalam masalah Gaza, Palestina dan Timur Tengah secara umum. Di satu sisi, krisis Gaza adalah masalah kemanusiaan yang harus segera ditangani baik secara diplomasi maupun dengan cara lebih tegas baik bantuan medis hingga militer. Sisi lain, terjadi perpecahan/perbedaan di negara-negara Arab, baik karena intervensi Amerika maupun di kalangan intern mereka sendiri seperti Palestina yang terdiri dari Hamas dan Fatah. Kedua faksi itu kerap terlibat konflik bersenjata. Barangkali inilah yang membuat mereka lambat untuk bergerak dan membantu Palestina. Padahal untuk urusan kemanusiaan sudah selayaknya didahulukan daripada urusan politik.

Atas dasar hal demikian, Sebagai negara yang mayoritas muslim, Indonesia mesti berperan aktif dalam urusan Timur Tengah sebagai agenda politik luar negeri yang bebas aktif sebab apapun yang terjadi di sana akan selalu mendapat respons dari rakyat Indonesia. Pelajaran penting ketika Indonesia berfikir panjang membuka kantor perwakilan PLO di Jakarta, setiap kali Sidang umum PBB mengagendakan kasus Timor-Timur, sekitar 20 negara Arab bersikap abstain (Amien Rais, 2008:154). Urusan di depan mata saat ini adalah Gaza memerlukan bantuan serius, tapi kepentingan jauh ke depan diperlukan peran pemerintah dan rakyat Indonesia agar tidak hanya mengecam Amerika dan Israel, lebih dari itu perjuangan diplomatis di PBB untuk memperjuangkan Palestina secara maksimal. Pengaruh pemimpin Indonesia maupun para tokoh agama sesungguhnya diperlukan untuk mendorong hubungan erat antar negara Arab, agar di antara mereka dapat terbuka dialog dan saling bantu membantu serta peduli dengan penderitaan sesamanya. Dengan demikian, sebagaimana pendapat Akbar Ahmed dalam Discovering Islam, akan terwujud semangat Islam tidak mengenal batas negara, perbedaan kelas dan tidak ada penghalang ras.

 Terbit di Harian Banjarmasin Post, Bulan Januari 2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: