Posted by: danummurik | April 14, 2014

Keajaiban Yogya

Malam itu, tepatnya sekitar delapan tahun lalu, aku mengayuh sepeda ontel sambil berharap keajaiban. Dari Pringgolayan, aku menyusuri jalan di tepi Selokan Mataram, kemudian menyeberang jalan Gejayan (Sekarang Affandi), melewati kampus UNJ, Fakutas Kedokteran Hewan UGM dan terus menyusuri jalan Bulak Sumur menuju ATM di depan kantor BNI UGM. Di benakku, keajaiban itu adalah masih ada sisa uang yang bisa ditarik dalam Anjungan Tunai Mandiri (ATM).

Sepeda yang menemani hari-hariku

Sepeda yang menemani hari-hariku

Aku hanya bermodal nekat menjadi mahasiswa S2, tanpa beasiswa dengan sesekali mendapat kiriman orang tua, dan orang-orang yang bersimpati atas kenekatanku menuntut ilmu, maka harapan ada uang kiriman menghuni saldo rekeningku adalah sangat kecil sekali. Hal berbeda dengan teman-teman yang mendapatkan beasiswa dari berbagai donator. Aku berkecil hati ketika mendengarkan rancangan belanja mereka menjelang uang beasiswa cair. Ada yang ingin membeli buku, baju, laptop, dan berbagai keperluan lainnya. Seorang temanku, yang sama-sama mahasiswa non beasiswa acapkali merasa mengalami pusing mendengar ocehan mereka itu.

Sepedaku sudah semakin dekat tujuan, kini melintasi gedung anggun dan megah rektorat UGM. Beberapa kali mengayuh sepeda terlewati pula Grha Shaba Pramana, tempat yang aku idam-idamkan untuk menjadi peserta wisuda. Sementara dinginnya angin malam Yogya tak sanggup menahan peluhku yang keluar dari pori-pori kulit. Antara sedikit harapan dan lebih banyak cemas, semakin dekatlah bangunan harapan bernama ATM itu.

Aku menambahkan tenaga pada kedua otot kaki untuk melawan gravitasi bumi melalui sebuah tanjakan menaiki pelataran gedung BNI UGM. Setelah memarkir sepeda ontelku, yang juga pinjaman tanpa berbayar dari budi-baik Mas Dhana hingga lulus kuliah, aku menghela nafas sejenak. Nampak olehku beberapa orang keluar masuk ATM. Senyum manis tersungging dari bibir mereka, sambil menarik uang dari mesin ATM dan memasukkan lembaran uang tersebut ke dalam dompetnya.

Aku pun masuk dalam barisan antrian menuju ATM. Agaknya malam ini tidak begitu banyak yang antri, barangkali karena bulan tua. Di belakangku, ada seorang anak muda, mungkin sedang menempuh pendidikan S1 nampak agak gelisah. Tak kuhiraukan dia, karena perempuan di depanku sudah masuk ATM dan sebentar lagi dia akan keluar.

Giliranku tiba untuk masuk ruang atm. Dari beberapa ATM, maka yang paling mungkin untuk ku pilih adalah yang bisa mengeluarkan uang dengan nominal terendah yakni Rp 20.000,- Aku yakin keajaiban akan terjadi di ATM ini.

“Bukankah aku kuliah hanya dengan target tiga bulan saja, tapi sekarang sudah lewat tiga semester” aku mencoba meyakinkan diri sendiri.

Tanpa ku cek saldo, langsung ku tekan tombol penarikan uang terendah tersebut. Mesin ATM diam sejenak, tiba-tiba pesan pendek muncul di layar mesin itu bahwa saldo uang dalam tabunganku tidak mencukupi. Aku tidak segera putus asa, boleh jadi mataku yang salah meliat. Jangan-jangan sebenarnya stok uang di ATM ini yang habis. Kualihkan opsi dari pengambilan uang kepada tombol informasi saldo. Benar saja, meski saldo tabunganku lebih sedikit dari Rp 20.000,- tetapi tetap tidak mampu mengeluarkan uang.

Kubayangkan malam ini akan kelaparan. Aku tidak bisa menikmati nasi kucing di angkringan Pak Kabul yang tidak jauh dari tempat kostku. Apalagi untuk menikmati paha ayam bakar atau telor puyuh bakar. Tak kusesali nasib karena tak punya uang, tapi aku sadar bakal dilanda kelaparan malam ini. Keajaiban yang kuharapkan rupanya butuh proses yang entah sampai kapan.

Aku keluar dengan gontai. Barangkali akulah satu-satunya orang yang keluar dengan kepala tertunduk dari dalam ATM. Berbeda dengan orang-orang sebelumnya, mereka selalu menyunggingkan senyum karena dompet mereka sudah menjadi tebal.

Keluar dari ATM, aku berniat mengambil sepeda dan segera mengayuhnya pulang ke kost.

“Kenapa bang?” kata anak muda yang ikut antri di belakangku. Agaknya dia mampu menangkap ekspresi kekecewaan dari raut wajahku.

“Uangnya tidak cukup”, jawabku jujur. Tidak ada yang perlu kusembunyikan atau dipermalukan. Toh dia juga melihat kendaraan hebat non BBM yang kutanggangi, menandakan aku orang biasa saja. Aku ingin segera berlalu dan tidak ingin melihat anak-muda itu keluar dengan wajah ceria yang membuatku iri hati.

“Begini bang…” dia mencegahku untuk segera pulang. Aku menatapnya.

“Uang saya juga pas-pasan. Bagaimana kalau uang saya Rp 10.000,- ditransfer ke rekening abang. Setelah itu kita bagi dua”

Aha, ini ide yang berani dan brillian. Berani karena dia memberikan tawaran kepada orang yang tidak dikenalnya tetapi sama-sama tidak punya uang. Brillian karena berarti kami sama-sama mendapatkan uang.

Inilah keajaiban itu. Segera kuberikan nomor rekeningku agar ia bisa menerima uang yang ditransfer orang itu. Kali ini kami bersama-sama masuk atm. Begitu uang ditransfer ke rekeningku, segeralah giliranku memasukkan kartu ke dalam mesin ATM. Keluarlah selembar uang penyelamat. Kuserahkan uang duapuluh ribu Rupiah kepadanya, sebaliknya dia menyerahkan uang sepuluh ribu rupiah kepadaku.

Kujabat erat tangannya seolah kami adalah saudara yang lama tidak bertemu. Sekedar berbasa-basi kutanyakan daerah asalnya. “Saya dari Lampung, Bang”. Aku lupa memperkenalkan diriku, diapun tidak menyebutkan namanya. Tapi malam ini aku tahu pasti, kami merasa menjadi seperti saudara yang memiliki tambahan uang Rp. 10.000.- (Nasrullah)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: