Posted by: danummurik | December 30, 2013

Buruk Muka Cermin (Jangan) Dibelah

Oleh Nasrullah

Ketika kuliah tingkat strata satu, saya memilih fakultas yang bukan pilihan hporang banyak atau tidak favorit. Jumlah mahasiswa seangkatan saya hanya sekitar 100 orang. Fakultas kami yang memiliki tiga jurusan, maka rerata mahasiswa perjurusan adalah 33 hingga 34 orang. Semakin tahun fakultas tersebut mengalami defisit mahasiswa, ada satu angkatan yang jumlahnya mahasiswanya sama dengan nomor plat mobil Bapak Dekan yakni 34. Bahkan ada satu jurusan yang ditutup, dan diganti dengan jurusan lain. Kabarnya fluktuasi mahasiswa yang meminati fakultas kami menjadi lebih baik.

Di tengah kondisi demikian, anehnya buat saya dan bahkan teman-teman, kami menjalani perkuliahan dengan penuh gairah. Terutama pada matakuliah, misalnya ilmu komunikasi, komunikasi massa, jurnalistik, retorika dakwah, dan lain sebagainya selalu dimeriahkan dengan diskusi dan perdebatan. Separo waktu perkuliahan kami isi dengan diskusi, atau menyampaikan pertanyaan kepada dosen. Untuk menghadapi perkuliahan, kami secara rutin mendatangi perpustakaan fakultas, kampus, hingga perpustakaan umum. Tak terkecuali surat kabar selalu dibaca setiap hari untuk mendapatkan berita terbaru dan sedang hangat diperbincangkan.

Di luar jam kuliah, mahasiswa terlibat dalam berbagai kegiatan ekstra kurikuler mahasiswa di kampus. Dari BEM Institut, sepakbola, Mapala, teater, hingga grup musik dangdut selalu ada teman-teman dari satu fakultas. Begitu pula kegiatan di luar kampus, seperti LSM, bahkan menulis di media cetak daerah hampir setiap bulan selalu diisi oleh kami dari satu fakultas tersebut. Di dunia olah vokal, sebagian ada yang menjadi penyiar radio, qari, penceramah.  Setelah lebih dari sepuluh tahun, saya meninggalkan kampus khususnya fakultas itu, tradisi demikian masih terus bertahan.

Padahal kegairahan kami tersebut tidak linier dengan harapan kerja setelah lulus. Fakultas kami menjadi tidak favorit karena sedikit sekali kemungkinan untuk penerimaan calon PNS yang dibuka pemerintah setiap tahunnya. Kalau pun ada kami harus bersaing dengan fakultas lain, bahkan dengan lulusan dari perguruan tinggi lainnya. Kondisi demikian tak ubahnya seperti meloloskan diri dari lobang jarum. Jelas lebih banyak kemungkinan lolos dari pada lulus.

Kenyataan ini saya alami sendiri. Saya gagal berkali-kali ketika mendaftar menjadi CPNS di perguruan tinggi, almamater saya itu. Kadang tidak lulus berkas administrasi, atau juga gugur dalam test tertulis. Bahkan kakak angkatan saya, yang bapaknya seorang petinggi kampus juga mengalami nasib sama, yakni tidak lulus. Kami hanya lolos seperti orang kebanyakan. Anehnya kami menerima ketidaklulusan itu, tanpa mengomel kepada almamater. Tidak ada niat menyalahkan kampus, dosen-dosen yang telah bersusah payah mengajar. Entah kenapa kami ikhlas. Kalau diingat-ingat, tak pernah saya lupakan ketika diusir dari ruang belajar, diacuhkan ketika meminta tanda tangan untuk rekomendasi. Bagi saya peristiwa itu sulit dilupakan, tetapi tidak untuk menjadi dendam kesumat. Barangkali pada saat itu belum ada fasilitas tempat mengeluh kesah, mencari kambing hitam, sinis, sebagaimana sering kita dapatkan di jejaring sosial seperti facebook dan kawan-kawannya.

Lebih aneh lagi ketika tidak lulus, saya berkunjung ke rumah teman yang senasib. Ayahnya yang petinggi kampus itu rupanya ingin anaknya diterima atau ditolak karena kemampuan pribadi. Pada saat itu, ada orang tua datang menyambangi, dengan maksud menemui bapak teman saya. Ia mengeluhkan anaknya tidak lulus di perguruan yang sama. Langsung saja, ibu teman saya menjawab, “anak saya juga tidak lulus”. Orang itu pergi tanpa bertemu Bapak.

Ketidak-lulusan saya berkali-kali, bahkan di luar kampus, justru menerbitkan kesadaran. Perguruan tinggi yang sebenarnya memang mencetak intelektual, bukan mencetak pekerjaan. Jika hanya mencetak pencari kerja, maka apakah bedanya perguruan tinggi itu dengan balai latihan kerja, kursus keterampilan, kursus montir, kursus menjahit. Menuntut ilmu di perguruan tinggi, atau dimanapun, bagi saya sebagai seorang mahasiswa muslim sudah mendapat jaminan langsung. “Allah akan mengangkat beberapa derajat orang yang berilmu”.

***

Suatu malam di daerah Kayu Tangi, saya minum teh bersama dengan kakak angkatan waktu kuliah di fakultas yang sama waktu dulu. Ia kini menjadi orang penting di salah satu partai politik terbesar di Kalimantan Selatan bahkan tingkat nasional. Ia mengajak saya untuk mengelola sebuah usaha penerbitan.

Pada kesempatan lain, saya mendapati teman-teman satu almamater dengan berbagai kelebihan. Pada penganugerahan KPID Award di Gedung Sultan Suriansyah, saya menyaksikan adik tingkat saya meraih predikat penyiar terbaik. Di televisi, saya mendapatkan kakak angkatan meneruskan hobi lamanya tampil sebagai seniman madihin. Di facebook, saya mendapatkan adik tingkat saya yang lain wara-wiri Eropa mengikuti berbagai kegiatan internasional. Kadang saya mendapati, ada yang menjadi pengelola lembaga pendidikan, atau pula menjadi teknisi komputer terkenal, ahli desain grafis, pelukis, menjadi wakil rakyat hingga pengusaha. Semua itu nyaris tidak linier dengan pendidikan strata satu kami, meski sebagian lain bernasib mujur diterima sejalan dengan pendidikan.

Atas kondisi demikian, tak ada ucapan yang layak kecuali Alhamdulillah, saya atau kami ada seperti ini karena ditempa oleh kegagalan demi kegagalan yang telah dialami dan bukan untuk menyalahkan, mencari kambing hitam. Saya menghindari pepatah melayu, buruk muka cermin dibelah. Na’ udzubillahi min dzalik.

Handil Bakti, Saat hujan gerimis di akhir Desember 2013


Responses

  1. sangat inspiratif. kypa kbr tabloid urbana pak

  2. Aku konsentrasi di kampus aja. Jika dirasa bermanfaat, silahkan dibagikan ke yang lain.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: