Posted by: danummurik | December 29, 2013

Aku yang Tertinggal Jauh

Oleh Nasrullah

Waktu bergerak cepat dengan membawa begitu banyak perubahan, tak ubahnya seperti kita yang mengantar seseorang ke bandara. Orang tersebut pergi naik pesawat dan kita kembali ke rumah, di tengah perjalanan orang yang diantar tadi mengabarkan melalui sms sudah sampai di tempatnya setelah menempuh perjalanan ratusan kilometer, sedangkan kita masih bergerak lambat padahal perjalanan hanya belasan kilometer. Kesadaran seperti ini baru kurasakan, meski agak terlambat, oleh adanya sebuah sentakan kecil.

Ketika akan menikmati sarapan pagi di sebuah warung sederhana, Pasar Lama, Banjarmasin. Sambil menunggu penjualnya menyuguhkan nasi dan ikan, serta sayur bening, aku membuka facebook. Sebuah status facebook yang kukenal dari seorang anak SMP di kampungku menyadarkan ketertinggalanku itu.

“Ba ribunding 250.000+nukar baju+nukar sepatu pas aM tekurr duit kku akayyyyy mamaaaaa mintaaa duittttt”

Akayah, seruku dalam hati begitu membaca status itu. Enak sekali. Rebounding dengan biaya ratusan ribu, kemudian membeli baju dan sepatu. Kekurangan uang lalu menagih kepada ibu. Ingatanku kembali kepada masa laluku seusia dia. Jangankan membeli sepatu dan baju, mengatur urusan rambutpun tak sempat menjadi prioritas. Lantas salahkah dia? Bukankah uangnya sendiri, atau uang dari orang tuanya. Seandainya dia membaca tulisan ini, barangkali terlontar protes dari mulutnya dengan bahasa gaul zaman sekarang

“Masalah buat loe?”

Perkara sepatu saja begitu pelik bagiku dulu. Waktu duduk di sekolah dasar, aku dibelikan sepatu oleh orang tua. Begitu menggunakan sepatu, aku sering melihat bekas tapak-tapak sepatu yang menempel di tanah. Bekas tapak sepatu itu dalam pandanganku berubah menjadi stempel yang indah. Di kelas 6 SD, aku membeli sepatu lagi. Kali ini sepatunya agak istimewa karena kebesaran, sehingga isinya harus diganjal dengan kertas agar pas di kaki. Sepatu itulah yang mengantarkanku berlaga di acara cerdas cermat tingkat SD di ibukota kecamatan. Bersama dua orang teman sekelas, kami berhasil meraih juara 2 tingkat kecamatan. Meski juara, kami tidak mendapat hadiah dari panitia kecuali janji bahwa Pak Camat akan membawanya dari ibukota Kabupaten. Hadiah itu hingga kini belum juga kami dapatkan. Hadiah yang kami dapatkan secara langsung adalah senyum kebanggaan dari kepala sekolah.

Sepatuku yang kupakai waktu sekolah di SMP, mungkin karena murahan atau dipakai terus menerus selalu langganan bolong di bagian ujung ibu jari kaki. Adakalanya aku menambal dengan kain bagian yang bolong itu. Begitu selesai ditambal, beberapa hari kemudian giliran bagian depannya terlepas sehingga ketika berjalan sepatuku terlihat seperti mulut yang menganga siap menerima makanan.

Suatu ketika aku membaca artikel dari seorang pakar kesehatan, agar kaki tidak berbau ketika menggunakan sepatu, ia menganjurkan untuk mengganti sepatu sepatu setiap hari.

What? Ganti sepatu tiap hari..?”

Sungguh kejam pakar kesehatan itu, tipsnya tidak berperi kemanusiaan. Mengganti sepatu setiap hari, berarti kita harus memiliki beberapa pasang sepatu. Jangankan sepatu di waktu sekolah dulu, di masa bekerja sekarangpun sulit bagiku memiliki beberapa sepatu.

***

Tiba-tiba kesadaran lain menggugahku untuk tidak selalu mencela dengan cara membandingkan kehidupan di dua zaman yang berbeda kepada anak SMP itu dan juga anak-anak segenerasinya, termasuk juga para keponakanku. Meskipun aku juga pernah sekolah SMP, tetapi aku tidak pernah merasakan kehidupan SMPku seperti di zamannya sekarang ini. Begitu pula dia tidak pernah merasakan hidup di masaku. Tidak ada listrik, apalagi telepon selular yang terkoneksi dengan internet, sungguh jauh panggang dengan api. Begitu juga transportasi sungai masih jarang, sehingga sulit bepergian setiap hari. Kini ia dan anak-anak seusianya di SMP hidup di masa dunia yang dilipat, atau seperti kata ahli, global village. Berbagai informasi, telekomonikasi, gaya hidup diakses melalui telapak tangan.

Aku malah menyalahkan diriku sendiri. Jangan-jangan selain ketinggalan, aku juga begitu cepat bermetaformosis menjadi orang tua yang meremehkan generasi sekarang dengan membanggakan generasi dulu. Persis kualami ketika kecil dulu sering dinasehati orang tua akan kebesaran mereka di masa lalu.

“Bagi generasi pendahulu ada kegairahan tak tertahankan kepada generasi baru. Ada sisi luar biasa di masa lalu, yang tidak ada di masa sekarang … Rugilah generasi sekarang, … tetapi di mana mereka harus merugi? Begitulah kemajuan di masa lalu dan ketakjuban di masa sekarang yang sulit untuk dirukunkan. Tidak jelas di antara kedua zaman itu mana yang lebih maju dan lebih mundur”. Begitulah petuah Prie GS di radio Smart FM, persis ketika aku sedang membuat tulisan ini.

Masing-masing orang yang hidup dalam perbedaan zaman pasti akan mengalami perbedaan masalah. Anak-anak sekolah di masa sekarang hidup di zaman berbagai fasilitas teknologi, kemakmuran, sebenarnya mereka mengalami permasalahan tidak kalah peliknya. Mereka kesulitan memahami antara keinginan dan kebutuhan. Atas dasar itulah, aku ingin rukun dengan mereka dan mengatakan “apapun zamannya, carilah yang benar-benar sebagai kebutuhan dan hiduplah dengan prestasi.”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: