Posted by: danummurik | May 27, 2013

Yogya Berwajah Murung

Oleh: Nasrullah dan Dhana Ditya Wardana

Sabtu, 27 Mei 2006. Pukul 05.54 WIB Ketika orang-orang masih bermalas-malasan di tempat tidur, begitu juga dengan saya karena hari ini kuliah libur. Tiba-tiba terdengar bunyi ribut di dalam plafon rumah, seperti ada ribuan tikus berlarian dikejar kucing. Sangat aneh kedengarannya, saya masih bingung, tiba bumi berguncang. Inikah yang namanya gempa? “Awas Lindu” kata penduduk setempat.

Seisi penghuni kost berhamburan, di luar rumah ternyata sudah banyak penduduk. Ibu-ibu dengan kekhawatiran luar biasa memeluk anak-anaknya. Pikiran kami waktu itu, Merapi meletus hingga terjadi gempa, kami mencoba melihat ke arah Merapi ternyata ditutupi awan atau kabut remang-remang. Memperkuat dugaan, Merapi meletus.

Setelah gempa, listrik mendadak mati, sinyal beberapa layanan telpon seluler tidak berfungsi maksimal. Warga dicekam kepanikan karena tidak tahu harus bagaimana, seorang teman mencoba menggunakan fasilitas radio dari hand phone dan mendapatkan informasi bahwa gempa berasal dari laut selatan.

Kepanikan semakin menjadi, Gunung Merapi di utara Yogya masih memperlihatkan tanda-tanda aktif sedangkan dari arah pantai Selatan terjadi gempa.

Tsunami, itulah bayangan dibenak penduduk. Entah informasi dari mana tiba-tiba ada yang berteriak “Air pasang, air pasang”, kepanikan pun memuncak, kabar berhembus simpang siur. Di jalan Wachid Hasyim, tanpa di komando masyarakat bergerak mencari tempat tinggi, kami akhirnya juga memilih mengungsi. Di benak saya, beginilah kejadian seperti Tsunami Aceh. Orang tua dan muda, ibu-ibu berhamburan, anak-anak SD yang berangkat sekolah menangis, pengendara sepeda motor dan mobil berjalan simpang siur.

Mendekati jalan Ring Road Utara, kami berhenti sambil mendengar suara radio. Sementara merasa aman, tapi tiba-tiba ada yang mengatakan air sudah mencapai alun-alun kota, berarti jaraknya sudah semakin dekat, kami pun terbawa arus manusia yang menyelamatkan diri.

Di jalan raya menjadi padat dengan mobil dan sepeda motor, di pinggir jalan orang-orang berhamburan tak tentu arah dengan membawa bekal atau pakaian seadanya. Suasana benar-benar kacau. Kami mencoba menyeberang jalan raya dengan mengambil jalan pintas, mengangkat sepeda motor. Di sini siaran radio benar-benar penting, kami mencoba tenang. Dari siaran radio ternyata tidak apa-apa di Pantai Selatan, kecuali gempa. Akhirnya memutuskan, untuk pulang ke kost.

Dari seseorang di Geologi UGM melalui Telpon interaktif di radio, mengabarkan kalau memang Tsunami, maka sudah terjadi sepuluh menit sejak gempa yang berkekuatan 6,2 SR. Kalau pun terjadi seperti di Aceh, tinggi gelombangnya adalah 7 hingga 14 meter. Sementara berketinggian Yogya 100 meter dari permukaan laut.

Setelah sejenak beristirahat di kost, kami melihat keadaan kota Yogyakarta. Pusat Perbelanjaan Shafir Square, Plaza Ambarukmo, UIN Sunan Kalijaga dan bangunan lain mengalami rusak berat. Sebuah asrama mahasiswa dari salah satu kabupaten di Kalsel ini ikut rusak juga, gentengnya berguguran dan bangunan retak. Sementara mahasiswa masih berkumpul di luar asrama. Sementara di jalan-jalan, orang masih banyak duduk dengan wajah pucat.

Yogyakarta, sabtu pukul 17.30 ketika kami menyelesaikan tulisan ini, penduduk kota masih dicekam ketakutan dan memilih berada di luar rumah.

Yogyakarta, Sabtu 28 Mei pukul 17.30WIB, penduduk kota masih dicekam ketakutan dan memilih berada di luar rumah. Ketika perlahan kegelapan menyelimuti kota, sementara di langit   terlihat awan mendung. Tidak banyak orang yang berdiam dalam rumah, mereka memilih keluar, menggelar tikar dan duduk di pelataran atau tanah lapang. Mereka menyalakan lilin, seolah ingin menyalakan harap dan semangat yang digoncang gempa.

Berita dari penyiar radio menjadi teman yang menenangkan, sebab penduduk tidak hanya membutuhkan bantuan saja, mereka juga perlu kepastian tentang kondisi alam. Apakah akan terjadi gempa lagi? Kalau terjadi kapan? Dan seberapa besar kekuatannya?

Yogyakarta,  Sabtu malam, orang-orang antri di ATM dan SPBU, sebagian lagi mencari warung untuk mengisi perut.

Di sebuah warung Burjo, sekelompok mahasiswa memesan mie, di sini tak ada yang bicara banyak. Hanya mata-mata yang sayu, memandang satu sama lain dalam pancaran kegelisahan. Semua sibuk dalam pikiran masing-masing, di genggaman tangan handphone selalu dilihat barangkali ada kabar dari teman, keluarga atau kekasih. Waktu terus merangkak naik, kesunyian membuat mencekam, langit di kota Yogyakarta di selimuti awan mendung, sesekali diselingi bunyi gemuruh. Seisi penduduk kota masih dilanda horor dari gempa tektonik. Orang-orang menjadi sensitif, sedikit saja ada bunyi akan membuat curiga, sebab yang terpikir hanyalah gempa.

Yogyakarta , Ahad 28 Mei 2006. Dari televisi, radio, internet, suratkabar orang tahu bahwa ribuan penduduk telah menjadi korban. Kami menampung teman, bukan karena terluka tapi tempat mereka parah terkena gempa. Hari ini, siapapun orangnya, mereka diikat oleh solidaritas dari bencana yang tak terduga. Pukul 11.58 WIB saya menelusuri jalan-jalan di kota ini, sirine ambulan masih terdengar meraung-raung. Di RS. Dr. Sardjito tim relawan terus larut dalam kesibukan mengevakuasi korban yang masih berdatangan. Sekitar Pukul 12.30 gempa susulan datang lagi, orang-orang kembali dcekam ketakutan.

Banyaknya korban gempa sehingga membuat mereka ditampung di halaman depan rumah Sakit. Botol infus, bergantungan di tenda darurat. Sementara di bawahnya, orang tua, remaja hingga anak-anak mengerang kesakitan. Seseorang yang di bawa di atas tandu, menengadahkan tangannya ke atas seolah meminta penuh harap kepada yang Maha Kuasa akan kesembuhannya. Sebuah mobil pick up menyeruak di kerumunan massa , tiga orang anak beranak menjadi korban gempa. Sang ayah hanya pasrah menunggu gilirannya, setelah istrinya digotong  terlebih dahulu ke tenda pengobatan darurat.

Yogyakarta hari-hari ini, kita akan  sulit melihat wajah penuh semangat apalagi tersenyum. Semunya larut dalam duka yang mendalam. Yogyakarta kini berwajah murung, dan semua penduduk kota mengharapkan bencana segera berlalu.

  Terbit di Harian Banjarmasin Post, 28 Mei 2006


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: