Posted by: danummurik | April 24, 2013

Dalam Keabadian

(Mengenang Ulama Kalimantan Selatan HM Asywadie Syukur)

Oleh: Nasrullah

 Pertanyaan dari saudara Zaini, Jalan Kelayan A Banjarmasin. Kalau kita mendengar radio atau menonton televisi, lalu kita mendengar salam, atau melalui pengeras suara, apakah kita wajib menjawab salamnya?

Kalimat di atas merupakan kutipan dari catatan pengasuh konsultasi hidup dan kehidupan, Prof. Drs. HM Aswadie Syukur Lc. Hingga penghujung 80-an, acara tersebut sangat digemari para pendengar radio di berbagai wilayah. Namun, kini kita telah kehilangan beliau untuk selamanya. Berita duka yang mengejutkan itu menyebar dengan cepat, dari mulut ke mulut, hingga melalui pesan pendek (sms).  Bahwa Sabtu (27/03/2010) pukul 15.30 pria Bakumpai kelahiran Benau Barito Utara, Kalimantan Tengah itu telah berpulang ke rahmatullah dalam usia 70 tahun.

Kehilangan sosok yang begitu berarti bagi orang banyak, dapat mengingatkan kembali terhadap kepribadiannya. Sudah barang tentu penilaian bisa subjektif, sebab menyangkut pengalaman masing-masing orang. Namun, kesamaan masing-masing orang terhadap karya atau pengabdian beliau dapat menjadi pengalaman  bersama (intersubjektif). Salah satunya adalah kiprah beliau selama 30 tahun mengasuh acara konsultasi hidup dan kehidupan.

Penulis  mengenal beliau secara intens ketika menjadi editor buku Konsultasi Masalah Hidup dan Kehidupan yang diterbitkan Pusat Pengkajian Islam Kalimantan (PPIK) IAIN Antarsari tahun 2002. Sesuai judul, isi buku merupakan kumpulan dari konsultasi hidup dan kehidupan yang pernah beliau asuh di RRI Nusantara III Banjarmasin. Daya jangkau siaran RRI yang menembus dari Kalimantan hingga Lombok bahkan ke mancanegara membuat acara konsultasi hidup dan kehidupan diikuti oleh pendengar hingga Brunai, Malaysia, dan Singapura. Sehingga banyak orang yang belum pernah berjumpa dengan beliau, tapi mengenal beliau dari suara yang khas melalui radio.

***

Suatu siang di Fakultas Dakwah waktu itu sekitar tahun 2000, ketika penulis  masih berstatus mahasiswa Fakultas Dakwah yang tinggal melaksanakan kewajiban KKN dan skripsi memberanikan diri menyampai keinginan kepada beliau. Semangat idealis, tapi lebih banyak nekatnya untuk menuliskan kembali pertanyaan-pertanyaan sekaligus jawaban dalam acara konsultasi hidup dan kehidupan. Rupanya gayung bersambut, penulis  diminta datang besok sore ke rumah dinas beliau ketika masih menjabat rektor IAIN.

Pada waktu yang dijanjikan, penulis  pun menemui beliau di rumah dinas rektor IAIN Antasari. Melewati pagar rumah dinas, nampak rumput halaman telah dibersihkan. Bukan oleh tukang rumput melainkan oleh penghuni rumah. Di sinilah tercermin kemandirian beliau, meskipun telah menjabat sebagai orang nomor satu di IAIN Antasari tetap peduli terhadap lingkungan sekitar. Beliau sering membersihkan sendiri rumput halaman dengan parang.

Sembari membayangkan materi apa yang akan diberikan kepada penulis, terbayang saat itu adalah beliau menyerahkan kaset-kaset rekaman. Barang tentu akan mengalami kesulitan, sebab kaset tersebut mungkin sudah tidak bisa diputar kembali. Ternyata beliau membawa bungkusan yang di dalamnya terdapat tumpukan kertas. Penulis  merasa sangat terkejut setelah melihat kertas-kertas tersebut adalah kumpulan naskah ketik tentang tanya jawab konsultasi hidup dan kehidupan. Lebih mengejutkan lagi, beliau menyimpan dengan rapi naskah-naskah tersebut bahkan di antaranya lebih tua dari usia penulis  sendiri.

Sambil menyerahkan bungkusan tersebut, beliau berpesan agar menjaga baik-baik dan menyampaikan bahwa masih banyak menyimpan naskah. Kemudian penulis  mengcopy seluruh naskah konsultasi dan menyerahkan naskah asli kepada beliau. Di kemudian hari penulis baru menyadari sedikit orang yang peduli pada arsip, apalagi sampai belasan hingga puluhan tahun. Menyimpan data secara rapi masih belum menjadi tradisi baik di level pribadi maupun instansi. Tahun 2009 lalu, penulis pernah mengurus perbaikan Kartu Keluarga (KK) di sebuah kantor kecamatan di ibukota kabupaten. Setelah menunggu agak lama, petugas memberikan jawaban yang barangkali menurutnya cukup meyakinkan “berkasnya kadada lagi Pa ai, lawas pang tahun 2008 tadi.” Sungguh aneh, tapi nyata berkas yang baru tersimpan satu tahun raib, karena dianggap sudah lama.

Selama menulis kembali naskah-naskah ketik, penulis  mendapatkan pelajaran penting dalam memberikan jawaban kepada masyarakat yang memiliki kemampuan yang berbeda. Apalagi penjelasan secara langsung dari almarhum mengenai beberapa hal penting.

Pertama, Beliau menggunakan metode dakwah untuk meyakinkan, menyadarkan dan membimbing. Jika mengarah kepada kemungkaran, tapi belum terjadi, beliau membangkitkan kesadaran terhadap keburukannya sehingga masalah seperti itu tidak terjadi. Seandainya terjadi, berusaha disadarkan agar tidak terulang lagi. Kedua, jika mengarah kepada kebaikan dan masalah yang ditanyakan disepakati oleh para ulama akan kebaikan dan keburukan, disampaikan jawaban berupa kesimpulan. Apabila terdapat masalah khilafiyah (perbedaan) kalangan ulama/fukaha, misalnya perbedaan pendapat memakai cincin emas bagi kau laki-laki ada yang mengatakan haram dan ada yang mengatakan makruh saja (Syukur, 2002:16). Beliau menyampaikan masing-masing pendapat ulama tanpa menyimpulkan, sedangkan kepada penanya atau pendengar dipersilakan menilai sendiri.

Bagi penulis  cara memberikan pemahaman dari berbagai pendapat fukaha, mencerminkan kedalaman sekaligus keluasan ilmu beliau. Semakin tinggi ilmu agama yang dimiliki seseorang, akan semakin toleransi dan bijak dalam menilai sesuatu. Beliau menghindari keberpihakan dalam memberikan jawaban berdasarkan pendapat kalangan tertentu. Kemampuan demikian, dilatarbelakangi pendidikan beliau yang mendalami perbandingan mazhab.

Ketiga, beliau menganggap semua pertanyaan penting, sebab menyadari sang penanya sangat membutuhkan jawaban. Sebagai contoh, ada yang menanyakan hukum memakan jambu monyet. Barangkali bagi sebagian besar orang pertanyaan demikian tidak penting, tapi beliau menjawab serius. Argumennya, berdasarkan usul fiqh, yakni Islam mengajarkan bahwa asal sesuatu benda dan perbuatan itu halal, terkecuali ada dalil syara’ yang menetapkan bahwa perbuatan atau benda tadi haram (Syukur, 2002:110).

Beliau juga memahami kemampuan pembaca secara umum. Ketika buku Konsultasi Masalah hidup dan Kehidupan masih dalam proses editing, beliau meminta agar buku tersebut jangan tebal agar lebih praktis dibaca. Selain itu, masih ada edisi berikutnya. Kabarnya, telah diedit oleh salah seorang puteri beliau dan siap untuk cetak.

Keempat, membaca naskah ketik beliau sama mudahnya dengan mendengarkan suara beliau di RRI. Hal demikian terkesan sederhana, tapi sebenarnya membuat suatu kalimat yang mudah didengar atau membuat tulisan yang mudah dibaca memerlukan keterampilan atau pengetahuan mendalam. Sebaliknya, akan sangat mudah dan cepat untuk membuat tulisan yang sulit untuk dibaca. Beliau juga memahami kemampuan pembaca secara umum. Ketika buku Konsultasi Masalah hidup dan Kehidupan akan diterbitkan, beliau meminta agar buku tersebut jangan tebal untuk agar lebih praktis dibaca.

Demikianlah, sebagian kecil kiprah beliau sebagai seorang ulama. Masih banyak karya beliau yang lain, termasuk mengalihbahasakan kitab fenomenal Sabilal Muhtadin ke dalam bahasa Indonesia agar mudah dibaca dan dipahami. Beliau mampu menggandengan antara tradisi lisan dan tulisan sekaligus. Dari segi pengetahuan agama, beliau tidak hanya menguasai ilmu fikh juga mendalami tasawuf, perbandingan agama, tarekat, ilmu dakwah, hingga filsafat. Dari segi produktivitas beliau menulis sulit tertandingi, dalam sambutan rektor IAIN sebelum menshalatkan jenazah beliau, dikatakan bahwa tahun 2009 IAIN telah menerbitkan dua buah buku karya Asywadie Syukur.

Kini beliau telah tiada, tapi sebagaimana ulama terdahulu, nama beliau tetap abadi. Keabadian tersebut karena karya-karya dan pemikiran beliau dalam buku-buku keagamaan yang berhubungan langsung dengan persoalan umat, terus digunakan oleh masyarakat luas.  Allahummaghfir lahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu.

 Penulis: alumni Fakultas Dakwah IAIN Antasari, salah seorang editor buku Konsultasi Masalah Hidup dan Kehidupan karya Prof. Asywadie Syukur Lc.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: