Posted by: danummurik | January 12, 2013

Pesan Pendek dalam Cerita Pendek

Judul buku        :    Matilda, Lelaki Izrail, dan Seorang Perempuan di Masjid Kami
Penulis                 :    Hairus Salim HS
Penerbit              :    Gading
Tahun Terbit     :    September 2012
Halaman    :    x+130

Membaca kumpulan cerpen Matilda, Lelaki Izrail, dan Seorang Perempuan di Masjid Kami, saya menganalogikan seperti seorang penumpang mobil yang sedang menempuh jalan yang belum pernah dilewati. Penumpang tentu berharap jalan tersebut mulus dan  pemandangan sekitarnya indah. Meskipun menempuh perjalanan panjang tentu tidak akan merasa  lelah. Beberapa cerpen karya Hairus Salim ini menyajikan keindahan isi dan substansi sepanjang kiri-kanan perjalanan pembaca yang membuka lembar demi lembar isi buku. Cerpen Migrasi Hantu (MH) memberikan pesan kuat bahwa tradisi oral masih bisa bertahan di masyarakat.

Cerita seorang ayah menjelang tidur kepada anak-anaknya masih laku, sanggup menandingi budaya pop melalui cerita hantu di televisi. Indikator kemenangan adalah anak-anak selalu meminta ayahnya untuk bercerita saban malam menjelang tidur dan kesediaan anak-anaknya untuk pulang kampung, padahal sebelumnya selalu mereka enggan jika diajak.

Kontestasi imajinasi berlangsung dalam MH. Dua cerita hantu, versi sang ayah dengan versi televisi, berkelahi dalam benak anak-anak. Motivasi anak-anak untuk pulang kampung ternyata memiliki motivasi untuk mengabadikan hantu. Di sinilah terjadi pertarungan nilai, antara hantu yang ditakuti dan hantu yang dijadikan komersialisasi.

Cerpen Paaliran Caran (PC) kaya dengan realitas ekologi. Sungai yang berhubungan dengan mitologi masyarakat setempat sudah berubah. Cerpen PC mampu mengajak pembaca mendaki, untuk memandang keindahan dari ketinggian. Puncak cerita sekaligus romantisme Caran, ketika ia menjadi paaliran termuda dari tujuh orang lainnya yang mampu mengalahkan buaya-buaya buas di sungai.

Selain mendaki, cerpen ini juga membawa pembaca menukik ke masa sekarang. Ternyata perubahan lingkungan telah terjadi, kini hanya Caran tua tertinggal sebagai the last paaliran (penangkap buaya terakhir). Kemunculan buaya ketika ekologi sudah berubah, rupanya semacam shock therapy kepada masyarakat, penguasa setempat (pambakal) serta aparat setempat bahwa mereka pernahmengenal tradisi paaliran yang lambat laun akan punah.

Dua cerpen lain dan sama-sama berlatar kuburan adalah Rumah di Samping Kuburan (RdSK) dan Kuburan Penuh Cahaya (KPC) mengandung alienasi (pengasingan). Tokoh Heri dalam RdSK mendapat cercaan keluarga karena membangun rumah di samping kuburan. Rupanya keinginan tokoh adalah ingin mengambil jarak dengan keluarganya, Heri tidak suka berpoya-poya dan  melakukan pemborosan. Inilah sisi kiri kanan perjalanan membaca cerpen yang menyenangkan.

Pembaca diajak mengikuti konflik keluarga. Bukan soal kemiskinan tapi karena gelimang harta. Cerpen RdSK mengajak pembaca berbelok, sekaligus menikung, dari realitas ke imajinasi dan kembali ke realitas. Tikungan itu terletak pada tangisan Heri. Ia melihat gambaran ayah dan adiknya tertelungkup berdarah di kuburan. Inilah imajinasi. Realitasnya ayah dan adiknya ditangkap karena dituduh melakukan korupsi.

Perjalanan membaca paling menarik adalah pada KPC. Satu-satunya cerpen Hairus Salim yang mengandung kritik tajam. Kehadiran Hamad yang sama sekali bukan tokoh dalam cerpen, mewakili kritik penulis. Hamad, menjadi tokoh yang hidup ketika meninggal karena kuburannya bercahaya. Dari situlah tersingkap rahasia kedermawanan Hamad yang bersahaja, bahkan tangan kirinya tidak tahu kalau tangan kanannya memberi.

Popularitas Hamad ditandai dengan begitu banyak pengunjung ke makamnya. Ia menjadi ikon sebagai pribadi bersahaja tetapi banyak bermanfaat bagi orang miskin. Dampak popularitasnya membuat sungkan pejabat, khatib dan ustadz. “Para petinggi tidak seperti biasanya enggan berpanjang-panjang dalam sambutan, malu kalau di antara hadirin ada yang seperti Hamad. Para khatib dan ustadz yang biasa memberi jadi sungkan, khawatir kalau di antara pendengarnya ada lagi orang yang seperti Hamad. Para imam dengan perasaan minder maju ke depan, jangan-jangan, pikir mereka, di antara makmumnya ada orang yang maqam-nya juga setara Hamad” (h. 115).

***
Seandainya semua cerpen dalam buku Matilda, Lelaki Izrail, dan Seorang Perempuan di Masjid Kami, seperti empat cerpen di atas, tentu perjalanan membaca buku ini selalu menarik. Sayangnya 10 cerpen lain, tak ubahnya perjalanan lurus, tetapi tak mulus. Secara teknis, lebih karena naskah kumpulan cerpen ini tidak dikawal oleh editor hingga ada bagian kalimat yang sulit dipahami. Secara substansi cerpen lain benar-benar biasa saja.

Ulak Ulu dalam Lelaki Izrail (LI), melakukan ramalan kematian yang secara kebetulan terus-menerus terbukti kebenarannya. Sepintas cerpen LI agak mirip dengan cerpen Gus Ja’far karya Gus Mus yang pandai menebak tanda di kening seseorang. Sayangnya, LI tidak ada belokan atau tikungan tajam yang menyajikan persfektif berbeda dan mengejutkan pembaca. Akhir cerita adalah kepergian Ulak Ulu disertai ramalan bahwa masyarakat yang mempercayainya akan celaka.

Cerpen lain, Matilda, Percintaan Firdaus dan Janneti, Seorang Perempuan di Masjid Kami, Libur ‘Aisa, Perempuan Pembunuh Terang, Oleh-oleh, Teratai Kota, Perempuan Kafe, Hidup Memang Tak Mudah, Pak Atin! seolah menjadi pelengkap saja. Cerpen Matilda, Misalnya, semula memberi pesan pendidikan yang berubah menjadi kisah misteri.  Percintaan Firdaus dan Janneti, berlatar pesantren mengalami klimaks pada kemarahan Firdaus kepada Arbain yang memanipulasi surat Janeti. Anti klimaksnya rasa malu tokoh Aku, penulis surat cinta, karena  Firdaus meninggalkan pesantren menanggung malu.

Ada sedikit kejutan dalam cerpen Libur ‘Aisa dan Hidup Memang Tak Mudah, Pak Atin! Penulis dalam kedua cerpen itu agaknya menitipkan pesan kehidupan di pesantren yang baru dialami ‘Aisya dan kehidupan Pak Atin, alumni pesantren, sesungguhnya tidak seburuknya disangkakan atau diberitakan orang lain.

Ujung cerita atau akhir perjalanan membaca lembar demi lembar buku ini, pembaca seolah tidak diberhentikan pada stasiun, halte atau alamat yang tepat. Pembaca seperti diberhentikan di tengah jalan yang di depannya ada persimpangan jalan. Barangkali penulis cerpen berusaha agar tidak terkesan menggurui, sehingga membiarkan pembaca menilai sendiri.

Akibatnya sebagaimana cerpen lain, kecuali empat cerpen di atas, kumpulan cerpen dalam buku ini benar-benar cerita pendek. Tidak hanya dari kuantitas, juga secara substansi. Pesan dalam cerpen tidak meninggalkan jejak panjang setelah membaca, karena berakhir di ujung bacaan. [nasrullah]

Dimuat dalam tabloid Urbana Edisi 93. Tanggal 5-19 November 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: