Posted by: danummurik | October 23, 2012

Banjarmasin (Tak) Hijau Lagi

Oleh: Nasrullah

“Dari Banjarmasin? Kalimantan?”

Baliho menyaingi pepohonan di Kota Banjarmasin

Baliho menyaingi pepohonan di Kota Banjarmasin

“Iya”

“Pasti banyak hutannya ya?”

“???”

Dialog seperti di atas, sering saya alami ketika berbicara dengan orang yang belum pernah ke Kalimantan. Khususnya ke kota Banjarmasin. Anggapan Banjarmasin, Kalimantan sebagai daerah yang masih hijau atau penuh dengan hutan rupanya masih menjadi imajinasi orang luar.

Sayangnya anggapan demikian, di masa sekarang, sudah ketinggalan zaman. Kita bisa memberikan jawaban ‘ya’ seandainya dialog di atas terjadi lebih dari 25 tahun lalu. Sebagaimana dituliskan Aditjondro (2003), menurut orang-orang tua, Banjarmasin tempo doeloe termasuk kota yang indah, bersih dan teratur. Sepanjang pinggir kali Martapura mulai dari ujung jembatan Coen sampai ke gedung RRI sekarang terdapat jalan raya yang dinaungi pohon-pohon rindang di kiri kanannya.

Inilah kenyataan yang harus dihadapi masyarakat kota Banjarmasin, ternyata lingkungan tidak lagi hijau. Bahkan, orang luar ketika pertama kali memasuki kota Banjarmasin, tentu akan kecewa. Mereka yang semula berfikir ‘banyak hutan’ atau ‘banyak pohon’ akan terkejut sebab sebenarnya adalah ‘banyak baliho’.

Hilang pula gambaran seorang Inggris, Vergouwen, masyarakat Kalimantan (Banjar dan Dayak), di samping mengenal dalam adat mereka ungkapkan “dia punya hutan”, ada juga “dia punya sungai” (Subiyakto, 2004).

Memasuki kota Banjarmasin, baik dari jalur darat, air (sungai atau laut), apalagi udara akan mendapati kondisi alam tak bisa dikatakan benar-benar hijau. Dari jalur sungai, terlihat pemukiman kumuh yang berdiri sepanjang bantaran sungai. Pemukiman itu bukan hanya sekadar tempat tinggal, juga menjadi mesin produksi sampah bawah rumahan. Perlahan tapi pasti, sampah itu akan mengisi sungai, semakin lama semakin banyak jumlahnya.

Melongok agak menjauh dari sungai, cerobong perusahaan mengirimkan asap hitam pekat ke udara. Begitu pula memasuki kota Banjarmasin dari jalur darat, dari arah Pal 6. Pengunjung kota segera disambut dengan begitu banyak baliho, berjejer seolah memberikan ucapan, inilah kota dagang. Periklanan bersekutu dengan baliho raksasa di atas jalan raya kota, menyeru segala bujuk rayu untuk membeli berbagai produk. Hadir pula sosok tokoh, menampilkan pesona diri di setiap momen yang entah untuk tujuan apa. Sementara pepohonan yang tumbuh di kanan kiri jalan, pucuk-pucuknya bergerak kegerahan, daunnya berguguran satu persatu seolah mengalami dehidrasi hebat.

Tengoklah pula kota Banjarmasin sekitarnya dari udara. Nyaris seperti kepala orang yang digunting tidak jelas. Tak ada hamparan pepohonan hijau menaungi bumi. Akibatnya bumi seolah terkelupas, menerima apa saja yang menimpa dari atas langit. Serta mengeluarkan apapun dari dalam perut bumi tanpa tersaring.

Di tengah kota, lebih tragis. Sebatang pohon bisa dikorbankan semena-mena untuk menegakkan sebuah baliho. Padahal, menunggu pohon tumbuh dan besar perlu menunggu bertahun-tahun hingga berpuluh tahun. Sedangkan menegakkan baliho hanya perlu beberapa jam saja.

Entah apa yang kini kita banggakan dengan kota Banjarmasin, kota seribu sungai sekaligus kota dalam anggapan banyak pepohonan. Jumlah sungai di tengah kota nyaris tinggal hitungan jari tangan. Padahal sungai-sungai itupula yang mengirimkan air kepada akar pohon.

Suatu ketika, terdengar pula kabar, pemerintah kota ingin membuat patung bekantan sebagai maskot kota. Entah, apalah jadinya bekantan itu sendirian, meski hanya patung, tetapi muncul tanpa habitatnya. Kepunahan bekantan yang tinggal lima belas ekor dan habitatnya hutan bakau dan galam sepanjang sungai di kampung Pelambuan, Kecamatan Banjar Barat, sudah terindikasi sejak tahun 1980 (Aditjondro, 2003: 36).

Jika Bekantan hadir tanpa habitatnya, tak ubahnya seperti film kingkong masuk kota. Hanya menjadi tontonan, bukan menjadi relasi kehidupan manusia, alam dan binatang. Padahal hutan kota justru ditemukan di tempat yang kita anggap telah kehilangan hutan.

Di Yogyakarta, pepohonan rimbun di sepanjang kiri-kanan jalan, hingga tumbuh dipemisah  jalan yang menaungi pengendara sepanjang hari. Begitu pula di kota Padang. Saya sering melakukan jogging di sekitar stadion Agussalim. Pepohonan kiri-kanan jalan sekitar stadion, nyaris menutupi cahaya mentari, benar-benar menaungi orang yang lalu lalang di bawahnya.  Saya membayangkan, barangkali seperti ini pula pepohonan Kalimantan di masa lalu.

Namun, bukan berarti kita kehilangan harapan terhadap masa depan pepohonan di kota Banjarmasin. Bagi yang memasuki kota Banjarmasin dari arah Kayu Tangi, atau Jalan Brigjen Haji Hasan Basri, tampak pepohonan berjejer rapi dan indah. Jalan Lambung Mangkurat di depan perkantoran Bank Indonesia, BNI, pepohonan mampu menaungi pengendara yang melintasi jalan raya. Tentunya akan lebih baik andai saja pemerintah peduli pengendara. Para pesepeda yang sedang menjadi trend saat ini akan lebih baik jika dikelola. Cukup dengan membuat garis putih di atas jalan, untuk menandai sebagai jalur sepeda. Sungguh kombinasi pohon dan pengendara sepeda, lebih menyejukkan udara kota.

Kini, semua tergantung kesadaran dan kuasa para pengambil kebijakan, mau dilukis dengan warna apa kota Banjarmasin ini. Hitam, putih, atau hijaunya kota ini, akan mempengaruhi aspek kesehatan, sosial budaya dan psikologi penduduk kota. Cukuplah puisi Sapardi Djoko Damono sebagai renungan kita:

Seandainya pohon ini kita relakan saja

dalam upacara korban kapak dan gergaji

di teduh rimbun mana pula kita

bisa menjelma manusia kembali.

Terbit di Tabloid Urbana Edisi 91, tanggal 08-22 Oktober 2012


Responses

  1. Kunjungan pagi sob..slm kenal !

    Selamat pagi juga bro. Tetap semangat.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: