Posted by: danummurik | October 8, 2012

Surat dari Padang: Saat Balado Masuk Kardus

Oleh: Nasrullah

Sudah menjadi kebiasaan untuk membawa oleh-oleh ketika seseorang pulang dari bepergian, atau perjalanan jauh. Oleh-oleh tersebut seakan menjadi wajib dibawa pulang untuk keluarga, apabila datang dari ke tempat yang sebelumnya belum pernah dikunjungi. Apalagi jika daerah tersebut terkenal memiliki ciri khasnya. Meskipun demikian, tidak setiap daerah yang memiliki ciri khas tersebut, baik kuliner, pakaian, hingga perhiasan yang dikenal atau terkenal hingga ke daerah luarnya.

Berbeda halnya dengan ranah Minang, kota Padang, Bukittinggi dan kota lain di Sumatera Barat. Makanan khasnya terkenal di Indonesia hingga dunia. Anggapan ini, kelihatannya agak berlebihan, tetapi demikianlah kenyataannya. Setahun lalu, media massa Indonesia ramai-ramai merilisi berita CNN bahwa rendang dinobatkan sebagai salah satu dari 50 jenis makanan terlezat di dunia.

Nah, jika kita pulang setelah mengunjungi kota Padang, salah satu pesanan oleh-oleh utama adalah rendang. Tentu saja, rendang buatan asli dari Sumatera Barat, rasa lezatnya ‘top markotop’ melebihi rendang yang dijual oleh rumah-rumah makan Padang di luar Sumatera Barat.

Namun, rupanya makanan khas Minang bukan hanya persoalan rasa dan bukan persoalan rendang saja. Setelah bolak-balik ke kota Padang, saya baru menyadari bahwa ada hal yang berbeda mengenai perlakuan orang Minang memperkenalkan kuliner daerahnya. Jika mengunjungi kota Padang, lalu melanjutkan ke berbagai kota kabupaten di wilayah Sumatera Barat dengan mudah kita menemukan makanan khas.

Saya agak terkejut ketika mendapati berbagai jenis makanan ringan, seperti kerupuk, misalnya, banyak dijual di pasar ateh Bukittinggi. Begitu pula antara Padang menuju Bukittingi, banyak sekali makanan ringan yang dijual sepanjang jalan tersebut. Jenis makanan ringan semakin banyak ditemui sekitar lokasi air terjun Lembah Anai. Bahkan di jalur sepi, misalnya, perlintasan Padang Panjang, Simabur hingga kota Batusangkar, lagi-lagi produk makanan lokal di Sumatera Barat menjadi tuan di kampungnya sendiri.

Ada persoalan teknis yang kelihatannya sederhana, tetapi bagi daerah tertentu akan mengalami kesulitan ketika memasarkan produk khasnya. Terutama ketika pengunjung ingin membawa pulang makanan ringan, atau khas daerah lainnya sebagai oleh-oleh. Agaknya hal ini pula yang membuat produk lokal Minang terkenal, sedangkan di tempat lain menjadi biasa-biasa saja.

Berkunjung ke kota Padang untuk membeli produk khas Minang, misalnya makanan ringan, seperti Kripik Balado hingga rendang mudah didapatkan. Lebih dari itu, mudah pula membawanya untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Banyak toko yang menjual sekitar tiga puluh macam makanan ringan. Toko-toko tersebut terdapat di pinggir kota hingga pusat kota, seperti toko ‘Mahkota’, ‘Shirley’, ‘Silungkang’, hingga ‘Christine Hakim’.

Jenis makanan ringan tersebut umumnya jenis kripik balado yang dibuat dengan berbagai variasi. Misalnya kripik balado dari durian, keju, ebi, teri, kacang, talas, kentang, petai. Selain berbagai variasi bahan, rasanya bervariasi pula, dari pedas hingga manis. Rendang yang dikenal terbuat dari bahan daging, ternyata memiliki variasi; rendang suir, rendang, paru, rendang telur, rendang lokan. Oleh-oleh lain yang tersedia adalah ikan bilih (mirip ikan saluang), khas Danau Singkarak.

Namun, semua produk makanan ringan tersebut akan menjadi sia-sia kalau tidak dikemas dengan baik. Sebab, kemasan yang baik akan mempengaruhi pembeli untuk membawa dan menikmati. Inilah ciri khas lain dari kota Padang. Setiap toko yang menjual oleh-oleh khas Minang, umumnya memiliki kemasan yang menarik dan mudah dibawa. Bahkan setiap bungkus oleh-oleh ukuran kecil sekalipun, selalu dikemas plastik dengan mencantumkan nama makanan serta label toko.

Ketika selesai membeli berbagai jenis oleh-oleh tersebut, pelayan toko segera menyiapkan kardus berbagai ukuran sesuai keperluan. Agaknya kualitas kertas kardus yang dipakai melebihi kardus mie. Sehingga oleh-oleh tersimpan lebih aman. Sedangkan bagian luar kardus, terdapat berbagai tulisan baik nama toko, alamat toko, jenis makanan yang dijual, gambar rumah gadang, hingga tempat untuk menulis nama dan alamat tujuan membawa oleh-oleh.

Begitu semua oleh-oleh masuk ke dalam kardus, segera pelayannya merapikan kardus dengan lakban. Agar mudah dibawa, kardus diletakkan di atas mesin pengikat kardus (straping machine). Tali plastik berbentuk pita secara otomatis mengikat kardus dengan erat dan mudah dibawa. Seandainya pembeli malas membawa oleh-oleh dalam kardus itu, pemilik toko segera menyiapkan alternatif melalui jasa pengiriman kilat.

Sepintas kardus sebagai kotak pembungkus oleh-oleh seperti perkara sepele. Namun, persoalan kemasan ternyata akan mempengaruhi daya tarik pembeli untuk membawa oleh-oleh khas Minang. Inilah yang hingga kini belum kita perhatikan untuk melayani pembeli. Akibatnya makanan khas Kalimantan Selatan, seperti: rimpi, dodol kandangan, apam barabai. rabuk haruan, kue gabin, wajik, untuk-untuk, kain sasirangan, hingga iwak wadi sulit dibawa sebagai oleh-oleh.

Terbit di Tabloid Urbana, 8 Oktober 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: