Posted by: danummurik | June 3, 2012

“Bisuak Rayo”

Oleh: Nasrullah

“Onde mande! Bisuak rayo” pekik keras perempuan yang menjual ikan di samping saya. Pekikan itu membuat saya terkejut juga. Agaknya dengan menyebut ‘besok hari raya’ pedagang bermaksud ikannya sudah tidak bisa ditawar lagi. Ibu yang ingin membeli pun seperti menyerah. Perlahan dia membuka isi dompetnya. Selembar uang kertas berwarna merah itu ia serahkan kepada pedagang yang langsung menerbitkan senyum di bibirnya itu.

Berkumpul di dalam surau menunggu waktu shalat

Peristiwa tawar-menawar di salah satu pasar pagi di kota Padang, lebih dari sekedar mengingatkan saya hasil penelitian Jennifer Alexander di Jawa. Menurutnya, tawar menawar antara pedagang dan pembeli, umumnya di pasar rakyat, cenderung rumit dan lama. Padahal selisih harga antara keduanya tidak terlalu terpaut jauh.

Pekik keras bisuak rayo lebih mengingatkan saya, sebentar lagi lebaran. Di kota-kota Sumatera Barat (Sumbar), lebaran bukan sekedar perayaan kemenangan hari Raya Idul Fitri. Orang Minangkabau yang terkenal dengan tradisi merantaunya benar-benar memanfaatkan lebaran untuk mudik kembali ke kampung halamannya. Di kampong istri saya, saya menyaksikan peristiwa lebaran kaum perantau. Bahkan ibu yang menawar ikan tadi, bila dilihat dari pakaian dan isi warna lembaran uang dari dompetnya kemungkinan besar adalah perantau yang mudik.

Lebaran dan peristiwa mudik di Sumatera, Jawa, Makassar agak berbeda dengan di Kalimantan. Meski sama-sama berlebaran, tetapi mudiknya kaum perantau kurang begitu dirasakan di Kalimantan, sebab pulau besar ini cenderung menerima perantau. Inilah barangkali salah satu faktor, berita mudik lebaran di Kalimantan secara intens jarang diberitakan media massa nasional. Maka membandingkan sesuatu yang sering kita alami dengan sesuatu yang baru kita lihat dan rasakan akan terasa perbedaan dan keunikan masing-masing. Begitu juga suasana lebaran para perantau di kota-kota Sumatera Barat.

Setiap jalur masuk Sumbar dari darat, laut dan udara dimasuki ribuan orang pemudik yang datang menjelang lebaran. Beberapa harian lokal di Padang memberitakan, Bandara Internasional Minangkabau menyediakan penerbangan ekstra mengantisipasi penumpang lebaran. Sementara perantau Minang dari Riau membuat kerepotan petugas lalu lintas, sebab setiap jam ada ribuan kendaraan memasuki kota Limapuluh Kota. Dari jalur laut, sebanyak 2000 perantau pulang bersama yang merapat di pelabuhan Teluk Bayur. Jumlah perantau yang masuk ini mencapai ribuan dalam hitungan hari.

Media massa rupanya berperan aktif dalam menyambut kedatangan perantau dengan menghadirkan pemikiran intelektual dan birokrat di halaman-halaman koran. Guru Besar Sejarah dan Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta, Azyumardi Azra dan Mochtar Naim, Sosiolog menulis buku Merantau dan Irwan Prayitno, Gubernur Sumbar berbagi kolom menyampaikan pemikiran dalam bentuk tulisan masing-masing. Sebuah kolaborasi intelektual dan birokrat yang menarik, apalagi jika dibandingkan dengan yang terjadi di banua.

***

Pusat perbelanjaan di Sumbar sebagaimana kota besar di Indonesia selalu ramai menjelang lebaran. Namun, pusat keramaian tidak hanya berada di Padang sebagai ibukota Propinsi Sumbar. Menjelang lebaran dan setelah lebaran kota Bukittinggi dan Sawahlunto dipadati ribuan perantau yang berwisata. Padang setelah gempa 30 September 2009 memang meluluhlantakkan sebagian besar pusat keramaian kota, tetapi tidak menghancurkan ciri khas alamnya.

Kota Padang dan kota lain di Sumatera Barat, terkenal dengan alamnya yang indah. Bukittinggi terkenal dengan Ngarai Sianok, Jam Gadang, Lorong Jepang, benteng Belanda serta terkenal dengan pusat konfeksi terbesar di Sumbar. Sawahlunto pun demikian, objek wisata Taman Satwa Kandi dan Danau Tandikek menjadi magnet kedatangan para perantau.

Kehadiran perantau bahkan menyusup hingga pelosok Sumbar. Hari kedua setelah lebaran, saya berkesempatan mengunjungi Jorong Padang Pandang kabupaten Tanah Datar, daerah terakhir di pinggang Gunung Marapi. Berangkat dari Padang menuju jorong Padang Pandang semestinya dapat ditempuh dua setengah jam, menjadi lebih satu jam karena perjalanan macet.

Jalan antar kota kabupaten di Sumbar selalu mengalami kemacetan karena lalu lintas para perantau yang mudik. Sesampainya di tempat tujuan, nampak tiap rumah penduduk terbuka lebar menerima kehadiran kehadiran sanak-saudara perantau. Di dalam salah satu ‘rumah gadang’ kami dijamu ramah. Begitu banyak ‘Rumah Gadang’ di tempat ini, mengingatkan pada beberapa ‘Lamin’ di Kaltim yang pernah saya kunjungi. Nasib ‘Rumah Gadang’ lebih beruntung dibanding ‘Lamin’. Rumah dengan atap mirip tanduk kerbau ini masih setia dihuni pemiliknya, bahkan menjadi tempat syuting beberapa iklan televisi.

Tidak jauh dari situ, nenek-nenek pengikut tarekat Sattariyah yang menjalani amalan 40 hari shalat bersama dengan senyum hangat menyalami kedatangan para perantau yang singgah ke surau. Surau yang pada mulanya tempat anak laki-laki menghabiskan waktunya untuk belajar dan tidur, sedangkan rumah hanya tempat berganti baju saja. Jika seorang anak lagi pada yang beranjak dewasa tidak ikut ke surau, ia dianggap belum mandiri. Kini, meski masih banyak terdapat surau tetapi fungsinya tidak seperti masa lalu. Surau hanya dikunjungi oleh para perantau untuk bernostalgia, dan didiami oleh orang-orang yang telah lanjut usia.

***

Dari segi jumlah perantau yang mudik ke Padang serta dilihat dari perputaran mata uang, kota Padang dan sekitarnya menerima berkah mudik. Rumah-rumah makan dipenuhi oleh kedatangan perantau yang rindu wisata kuliner di tempat kelahiran. Namun, di balik itu terdapat interpretasi berbeda antara perantau dan yang berdiam di dalam kota. Lolita, yang bertahun-tahun merantau ke Jakarta, agak terkejut melihat perubahan kota Padang. Ia menyayangkan munculnya warung remang-remang mulai bermunculan di sudut-sudut kota.

Penilaian sebaliknya pun muncul. Alwi Karmena menulis refleksi lebaran, banyak perantau pulang, katanya bersilaturrahmi, tapi tiba di kampung menjadi orang lain. Mandi ke tepian atau pancuran, mereka bilang gatal-gatal, alergi. Karena di kampung tidak ada sistem pemanas. Uwak Biyah terpaksa merebuskan air untuk mandi cucu-cucunya. Theo dan Vice tidak bisa sedikit pun berbahasa Minang.

Mochtar Naim, cendekiawan asal Minangkabau memahami problem ini. Menurutnya, apa yang masih melekat di bada sekarang ini yang menyatakan diri seseorang sebagai orang Minang. Dalam hal ini orang Minang yang merantau mengalami pengaburan identitas. Apalagi soal makanan, khas Minang seperti rendang, balado, gulai tunjang, gulai paku kacang balimbiang ada di mana-mana dan dimakan oleh banyak orang. Semua makanan yang dikatakan khas Minang telah menasional.

Orang Minang kembali menjadi Minang kalau menyelinap masuk ke ruang dalam yang segera tak terlihat. Namun,pernyataan Mochtar Naim ini agaknya bersifat spiritual. Barangkali perantau Minang dapat mendapatkan benang merahnya ketika berada di surau, memandang keindahan alam yang membawa ingatannya ke masa lalu dan inilah yang menarik mereka untuk kembali ke kampung halaman.

Tulisan ini terbit di Tabloid Urbana kolom Surat dari Padang, 26 September 2011


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: