Posted by: danummurik | November 2, 2011

Memaknai Asa di Alam Nirsadar

Ada keteraturan dibalik ketidakteraturan (ASA)

WANI-WANI TAKUT

Saya memberanikan diri untuk tampil membahasa buku Bungkam Mata Gergaji (BMG) karya Ali Syamsudin Arsi (ASA), salah seorang sastrawan produktif Kalimantan Selatan. Produktivitas ASA terbukti baik bagi orang telah mengenalnya sejak lama atau pun baru mengenal. Di bagian akhir BMG terdapat sederet daftar karya sastra ASA, kita pun menjadi tahu bahwa BMG adalah salah satu tetralogi Gumam ASA. Keberanian saya disertai perasaan ‘wami-wani takut’ karena menghadapi dua persoalan serius terhadap BMG. Pertama, BMG susah dibaca, tidak mudah dipahami. Kedua, kalau mengalami kesulitan pertama, tentu lebih susah lagi untuk membahasnya.

 Dua persoalan itu semakin parah mengingat saya bukanlah seorang sastrawan, pengamat sastra apalagi kritikus sastra dan tak lebih hanya seorang penikmat sastra. Sangat memalukan jika saya menyamar menjadi sastrawan, tentu akan ditertawakan karena tak ubahnya Tarzan masuk kota. Secara psikologis juga ada kesulitan. Saya ini anak kemarin sore, kalau terlalu berani pada orang tua bisa katulahan. Oleh karena itu, saya tidak membahas BMG dengan pendekatan sastra ataupun kebahasaan karena bukan keahlian saya.

Saya merasa beruntung memiliki disiplin ilmu ‘keranjang sampah’ yakni antropologi. Nyaris semua bidang dapat dimasuki antropologi, baik seni, kedokteran, pertanian, begitu pula sastra. Antropologi mampu bersekutu dengan disiplin ilmu yang lain. Faktor inilah membuat saya berani untuk tampil membahas BMG karya ASA, fokusnya pada pemikiran ASA yang terkandung dalam BMG. Keberanian saya setidaknya diperkuat oleh dua orang mahaguru antropologi UGM, pertama Irwan Abdullah tahun 2005 menulis Kepak Sayap Si Burung Merak: Blues untuk Rendra. Tulisannya berisi tentang pengalaman terhadap karya dan pementasan Rendra yang nampaknya sejalan dengan konsep pengalaman dan ekspresi dari Edward M. Bruner Tulisan kedua dari Heddy Shri Ahimsa Putra yang membahas secara serius tiga buah karya sastra Umar Kayam yakni Sri Sumarah, Bawuk dan Para Priyayi(Lihat Salam (ed), 1998: Ahimsa-Putra, 2006). Bagian kedua ini menjadi pilihan saya untuk membahas karya ASA dalam BMG. Selanjutnya, MEMAKNAI ASA DI ALAM NIRSADAR


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: