Posted by: danummurik | April 14, 2011

Suara Azan di SPBU

Kamis malam (14/3) sekitar pukul 17.40 Wita, saya masuk dalam barisan pengendara motor yang antri untuk mengisi bensin di SPBU jalan Sultan Adam Banjarmasin. Sambil menunggu giliran mengisi bensin, saya mendengar suara musik “metal” atau melayu total versi grup musik ST 12 dari musik player.

Saya terpikir bahwa petugas SPBU ini kreatif. Sambil melayani pelanggan yang mengisi bensin, ia menghibur diri sekaligus menghibur pelanggan. Tanpa terasa giliran saya semakin dekat.

Segera saya membuka kunci tempat duduk bersiap-siap membuka tutup bensin motor. Saya akan mendapat giliran ketiga, tentu akan sebentar saja apalagi iringan musik yang mendayu-dayu dapat menghilangkan kebosanan. Benar saja, setelah motor di depan adalah giliran saya.

Saat petugas SPBU itu hendak mengisi bensin, mendadak tangannya merogoh ke dalam saku depan celananya. Saya melihat ia mengeluarkan benda seperti handphone. Ini mengingatkan saya terhadap petugas SPBU di tempat lain, ia dengan asyik berbicara melalui handphone. Padahal di atas tempatnya berdiri terdapat papan pengumuman “Dilarang Merokok, Dilarang Memotret, Dilarang Menggunakan Handphone, Dilarang Menyalakan Api”. Barangkali tulisan di papan pengumuman itu perlu ditambah menjadi “… kecuali petugas”.

Ternyata saya salah duga. Petugas SPBU itu bukan mengeluarkan handphone melainkan remote control untuk mematikan musik playernya. Sebenarnya saya ingin bertanya, tapi didahului oleh temannya sesama petugas.

“Kenapa dimatikan?”

Uluh bang Le”

Kini saya terkejut, rupanya petugas SPBU yang mematikan musik player melalui remote itu menggunakan bahasa Dayak Ngaju artinya orang lagi azan. Memang pada saat itu azan shalat isya tengah dikumandangkan dari masjid dan musholla di kota Banjarmasin.

Untuk kedua kalinya saya terkejut. Seingat saya jarak SPBU itu dengan masjid cukup jauh. Azan itu hanya terdengar karena melalui pengeras suara, sedangkan suara musik playernya tidak cukup kuat mencapai masjid atau musholla. Jangankan mengganggu orang shalat, suara musik itu untuk terdengar hingga depan SPBU saja tak jelas.

Entah jarang memperhatikan, tapi yang jelas saya jarang menemukan orang yang begitu menghargai ibadah shalat seperti itu kecuali sekitar 20 tahun lalu. Menjelang magrib, semua aktivitas terhenti sebentar, warung dan toko tutup. Bahkan kalau shalat jumat, orang-orang di kampung istirahat bekerja. Sebaliknya saya justru menemukan di kalangan pelajar/mahasiswa muslim (meski tidak semuanya) yang tidak peduli ketika azan dikumandangkan.

Sungguh aneh…


Responses

  1. blog anda bagus>>>

    saya ajungi jempol!!!!
    dan saya hanya sekedar mampir ya sekalian blogwalking!!!
    jika bernit liat blog saya kunjungin balik jja!!!!

    Selamat datang di blog saya, terima kasih atas pujiannya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: