Posted by: danummurik | February 8, 2011

Pergulatan Hidup Guru, Tacut, Gandak, Bos di Lingkungan Tambang

Oleh: Nasrullah

Satu lagi sebuah novel dengan latar belakang lingkungan tambang terbit yang menambah khazanah sastra, khususnya di Kalimantan Selatan. Sandi Firly, penulisnya pun sudah tak asing lagi di kalangan sastrawan Kalimantan Selatan. Ia adalah orang yang berada di garis depan memompa semangat sastrawan dalam berkarya, sebab ia pernah menjadi pengasuh rubrik sastra di salah harian yang terbit di kota Banjarmasin. Kini ia maju lebih ke depan lagi melalui novel Rumah Debu (RD). Selain mengokohkan eksistensi kecintaannya sebagai sastrawan, juga sebagai kepedulian terhadap lingkungan.

Sebagai seorang penikmat karya sastra, begitu membaca novel RD saya melihat tiga hal yang mesti dicermati. Pertama, ciri khas sebuah novel. Kedua, karakter tokoh. Ketiga, pemilihan dan pengolahan tema.

***

Ciri khas novel RD mengulas persoalan lingkungan tambang batubara daerah kabupaten Tapin secara khusus, tapi dapat menjadi refleksi keadaan lingkungan tambang di Kalimantan Selatan. Karya sastra sejak dulu merupakan sebuah gerakan sosial yang mampu memberikan kritik tentang kerusakan lingkungan sekitarnya. Jadi sebenarnya karya sastra bukan hanya santapan bagi kalangan sastrawan sendiri. Kritik terhadap lingkungan dalam novel RD menjadi alternatif gerakan untuk meningkatkan kesadaran pembaca terhadap persoalan tambang yang pernah dan tengah terjadi di lingkungan Kalimantan Selatan.

Truk-truk batubara pernah menjadi raja jalanan di jalan-jalan utama Kalimantan Selatan. Sayang, masyarakat tidak berdaya menghadapinya. Gambaran ini sudah dapat dibawa di halaman awal novel RD “Jalanan lantas menjadi macet, truk-truk dan mobil bergerak bagai merayap. Namun tak ada sumpah serapah yang diteriakkan – hanya bergema di dalam rongga-rongga jiwa terdalam” (h. 3).

Namun, ketidakberdayaan dapat menjadi ledakan kekuatan keberanian yang luar biasa ketika telah mencapai puncaknya. Momentum itu terjadi saat terjadi kecelakaan. “Sebuah truk batu bara terbalik di sisi kiri jalan. Berjarak sekitar lima meter di depannya, seorang pria bersarung tertelungkup tak bergerak, darah menggenangi kepala dan peci putih di dekatnya. Orang-orang telah berkumpul. Sopir truk diseret dan dipukuli.” (h. 34).

***

Karakter tokoh dalam novel RD dapat dipahami ketika menelusuri nama-nama tokoh yang ditampilkan. Terlihat kelompok utama tokoh yakni Guru, Tacut, Gandak dan bos Batubara.

Guru adalah sebutan untuk orang yang memiliki ilmu agama di lingkungan pesantren. Keberadaan guru berbeda dengan guru yang mengajar di sekolah. Guru sebagaimana dalam novel RD adalah gambaran pengajar yang terjun langsung di masyarakat. “Guru Zaman berbicara dengan seorang pria yang berambut agak gondrong, yang agaknya orang paling disegani di antara mereka. Rozan menyaksikan jelas betapa pria itu menaruh hormat pada Guru Zaman, berulang kali ia mengangguk-angguk.” (h. 26).

Rozan, tokoh utama dalam novel RD, meski berusia 16 tahun termasuk kategori Guru. Ia selain berguru kepada Guru Zaman juga mengajarkan anak-anak mengaji. Wataknya agak berbeda seperti kebanyakan santri, memakai baju Che Guevara, celana jeans sehingga disebut “… ustadz gaul, ustadz zaman modern” (h.13). Rozan dijadikan tokoh sentral dalam novel RD, sebagaimana Sandi Firly meneguhkan sebagai “tokoh muda kita” (h. 4-5) yang memiliki bakat menulis di blog dan membaca buku Jalaluddin Rumi.

Tokoh guru lain adalah Guru Aran. Pada awal cerita Guru Aran adalah “ayahnya” (h.2-3) Rozan yang menjadi salah seorang ustadz di salah satu pesantren di kota Martapura. Guru Aran pula yang mengirimkan Rozan kepada Guru Zaman di kabupaten Tapin. Guru Zaman sendiri adalah sahabat lama Guru Aran.

Tokoh tacut sebutan preman di tanah Banjar (h.58) mulai dihadirkan dengan ilustrasi “Rozan memelankan jalan sepeda motornya ketika di depan ia melihat ada banyak orang berdiri bergerombol. Rozan dan Guru Zaman agak kaget ketika mereka menyaksikan gerombolan orang-orang itu memegang berbagai senjata, ada yang memegang balok kayu, pipa besi, gir, dan ada juga memegang belati” (h.25).

Tiga tokoh utama tacut dalam novel RD adalah Jantra, Pak Sawang dan Udin Tungkih. Jantra meski mengesankan jauh dari pekerjaan keras dan kasar, juga tidak membuat penampilannya menjadi menakutkan. Namun, disebutkan sebagai penguasa jalanan (h.27). Jantra juga memiliki “azimat di tubuhnya yang diperkuat oleh minyak bintang yang telah bersemayam dan hidup di dalam tubuhnya.” (h. 56). Selain itu, Jantra dianggap anak buah Pak Sawang. Pak Sawang sendiri terkenal karena semula ia adalah lelaki pendiam, tapi sanggup membunuh empat perampok bertopeng  yang terlebih dahulu telah menghabisi nyawa kedua orang tuanya yang dikenal sebagai pedagang emas. (h. 59).

Tokoh yang menjadi lawan Pak Sawang dan Jantra, adalah kompolatan Udin Tungkih. Reputasi tokoh antagonis tacut Udin Tungkih mencuat ketika “dalam suatu perkelahian ia tidak mempan meski ditebas berkali-kali dengan parang oleh dua orang musuhnya yang sama-sama jagoan di pasar” (h. 58). Julukan tungkih yang melekat di belakang nama Udin membawa rasa ketakutan bagi siapapun yang menyebut namanya seperti menyebut nama hantu (h. 59)

Tokoh gandak atau sebutan lain dari istri/kekasih simpanan Gandak tak lain ada Sarah, sedangkan ibu Diyang adalah tokoh antagonis bersama Udin Tungkih. Pengakuan Sarah menjadi gandak atas dasar kepasrahan dan tidak ingin kembali mengecewakan orang tuanya. “Ya, saya kawin dengan seorang pengusaha batu bara, Pak Ismail, sekitar satu tahun lalu setelah saya pergi dari Martapura. Orangtua saya yang mengenalkan saya dengan Pak Ismail yang tidak lain adalah bos ayah saya dipertambangan batu bara. Mungkin ayah saya ingin balas budi, barangkali karena pernah berhutang sesuatu. Tapi saya juga memang tidak punya pilihan yang lebih baik selain menerima lamaran itu. Saya anggap sebagai penebusan rasa bersalah dan maaf saya karena telah mengecewakan orangtua saya karena lari dari pondok pesantren.” (h. 129).

Selanjutnya, Sarah juga mengakui Pak Ismail yang tidak lain adalah tokoh “bos” dalam novel RD telah memiliki anak istri di Rantau. Pak Ismail sendiri tidak lain adalah pemilik pertambangan yang memiliki istri ibu Diyang dengan karakter digambarkan sebagai “perempuan berparas cantik, berpakaian ketat sehingga mempertegas lekuk tubuhnya, dengan perhiasan emas yang sangat mencolok di kedua pergelangan tangan dan lehernya yang putih.” (h.51).

Pak Ismail dianggap bos oleh tacut Jantra dan Pak Sawang tidak lain karena mereka bekerja dengannya. Sementara Rozan dan Pak Zaman adalah guru ngaji Kira, anak Pak Ismail.

***

Dari para tokoh cerita dalam novel RD dapat digambarkan alur cerita. Guru Aran, orang tua Rozan memerintahkannya untuk menemui Guru Zaman, di daerah kabupaten Tapin. Rozan diminta untuk belajar dan mengajarkan agama di sana. Termasuk menggantikan Guru Zaman mengajarkan Kira, anak Pak Ismail bos Batubara. Rozan diperkenalkan Guru Zaman dua orang tacut anak buah Pak Ismail yang bernama Jantra dan Pak Sawang. Saat itu hendak terjadi konflik antara Jantra dan Pak Sawang dengan Udin Tungkih dan anak buahnya karena memungut uang debu.

Konflik terjadi karena ternyata Rozan adalah anak Sarah yang tidak lain gandak/istri sirri Pak Ismail. Persoalan ini muncul karena ulah ibu Diyang, istri Pak Ismail yang tidak mau dimadu dengan Sarah.  Rozan sendiri dalam posisi korban yang tidak tahu persoalan sebenarnya, kalau tidak diberitahu ibu Diyang bahwa Guru Aran dan ibu Marhamah bukan orangtuanya. Ia bertemu ayahnya yang tak lain Pak Jantra dalam penyekapan oleh kelompok Udin Tungkih, sekaligus mengetahui dan bertemu ibunya yang tak lain adalah Sarah.

Tema dan alur novel ini meninggalkan tanda tanya, apakah bagaimana kedudukan lingkungan tambang sebenarnya? Apakah menjadi tema dalam novel atau settingnya saja? Jika menelusuri perbab, pembaca memang dibuat penasaran karena mengalami kesulitan menebak ending novel. Hal ini tentu akan membuat rasa penasaran. Namun, layaknya sebagai harapan bahwa isu lingkungan menjadi dominan dalam novel ternyata tidak terjadi.

Terbukti dari empat bagian novel, isu tentang lingkungan secara konsisten dibahas di bagian satu saja. Justru tema utama yang muncul adalah persoalan keluarga tepatnya perselingkuhan dan hubungan gelap. Adapun keberadaan guru, para tacut hanyalah menjadi pelengkap saja.

Tema seperti ini yang jamak ditemui dalam berbagai cerita, bahkan dalam sinetron yang tentu saja tergantung bagaimana mengemasnya. Sehingga setting tentang lingkungan dapat dipertanyakan apakah sebagai bagian tak terpisahkan dalam novel RD? Apakah persoalan lingkugngan hanya dilekatkan saja? Sehingga apabila ditinggalkan tidak merubah isi novel itu sendiri.

Artinya isu lingkungan sebagaimana komentar Raudatul Tanjung Banua di cover novel yang memotret persoalan lingkungan dari dekat dapat diragukan.  Isi novel RD pun menguatkan hal tersebut  “dan konon, tak hanya kalangan pengusaha batubara saja, para ulama Banjar juga sebagian memiliki istri lebih dari satu. Hanya saja tidak pernah diberitakan di koran.” (h. 112).

Namun, pelajaran penting dari novel RD dapat dilihat dari aspek sosial. Kesadaran dari kaum sastrawan lokal mengaitkan isu-isu persoalan lokal sebenarnya dapat menjadi kekuatan tersendiri dari sebuah karya sastra. Novel Laskar Pelangi tentang tambang di Bangka Belitong sebagai buktinya, bahkan mampu mengangkat kesadaran untuk semakin mencintai tanah air  (Nasrullah)

 

 

Judul buku       :  Rumah Debu (Sebuah Novel)

Penulis             :  Sandi Firly

Penerbit           :  Tahura Media

Halaman          :  152+iv

Tahun Terbit    :  2010

 

 


Responses

  1. i like’t

  2. RD mntap,,, q dh bca mpe slsai…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: