Posted by: danummurik | October 12, 2010

Surat dari Padang (2)

“Turunkan Tanganmu Bung”

oleh: Nasrullah

Datang ke ranah Minang akan terasa ada yang kurang, jika tidak mengunjungi kota Bukittinggi. Sewaktu kecil, saya mengenal kota Bukittinggi melalui pancaran gelombang menengah (medium wave) siaran RRI Bukittinggi yang diterima timbul tenggelam radio transistor milik ayah saya.

Turunkan tanganmu Bung

Pengalaman-pengalaman mengejutkan ketika menginjakkan kaki ke kota kelahiran bung Hatta ini. Berangkat dari kota Padang menggunakan mini bis ongkos Rp 16.000,- saya menuju Bukittinggi. Sepanjang 80 km perjalanan terasa betul indahnya pemandangan alam Sumatra Barat. Mini bis yang saya tumpangi bersama istri, selain ongkosnya murah, penumpangnya juga terbatas, sehingga tidak berdesakan seperti basusun sirih yang biasa kita rasakan saat berada dalam angkutan ke Hulu Sungai.

Jalan berkelok-kelok, menurun dan mendaki, serta pegunungan yang menawan membuat perjalanan dua jam terasa begitu singkat. Di sisi jalan, rel kereta api peninggalan Jepang memanjang. Air terjun lembah Anai terjun selalu ramai dikunjungi banyak orang. Inilah kejutan pertama menuju kota Bukittinggi. Keindahan alam Minangkabau bak The Dream land of Sumatera, seperti kata para pelancong barat di masa lalu.

Memasuki kota Bukittinggi, terdapat papan nama bertuliskan “Rumah Puisi Taufik Ismail” yang merupakan tanda di situ lahir dan pernah tinggal orang-orang besar. Sebut saja, Bung Hatta, Taufik Ismail, Agus Salim, Abdoel Moeis.

Akhirnya mini bus berhenti di pasar Aur, Bukittinggi yang begitu ramai dan padat, sehingga tidak terlihat ciri khas kota ini. Kemudian perjalanan dilanjutkan untuk mencari penginapan. Secara kebetulan mendapatkan sebuah hotel tepat berada di perempatan jalan.

Polisi mengamankan balapan liar di kota Bukittinggi

Semula saya ingin memilih kamar dengan fasilitas AC, tapi resepsionis mengingatkan bahwa udara cukup dingin, sehingga tidak perlu memakai pendingin ruangan. Setelah beristirahat sebentar, kami menikmati malam menyusuri jalan setapak yang agak mendaki. Inilah kejutan kedua yang saya dapati.

Tiba-tiba istri saya berseru “Lihat abang itu Jam Gadang”. Sosok tinggi itu, kepalanya terlihat bercahaya di balik pepohonan membuat saya takjub. Tak perlu jauh-jauh ke Prancis, seperti Andrea Hirata dalam novel Edensor-nya untuk takjub dengan menara Eiffeil. Di tanah air, saya takjub memandang Jam Gadang saksi tiga zaman; Penjajahan Jepang, Penjajahan Belanda, kemerdekaan RI hingga sekarang.

Kami bergegas mendekati areal Jam Gadang. Malam itu langit terlihat cerah. Orang-orang berkumpul. Ada yang duduk di kursi panjang, tawar menawar barang dagangan, seperti topi, mainan anak-anak, lukisan alam Minangkabau, dan mukena bordiran. Suara Saluang alat musik tradisional mengalun mendayu-mendayu. Di depan peniupnya terdapat kotak kecil berisi  beberapa keping uang logam dan lembaran uang kertas.

Para wisatawan lokal dan asing sibuk berfoto. Lalu lalang kendaraan bermotor, bendi-bendi di sekitar jam Gadang menunggu penumpang. Nun di sana, gunung Singgalang terlihat anggun dengan kelap-kelip lampu penduduk yang bermukim pinggang gunung.

Dari menara Jam Gadang, terasa perselingkuhan kapitalisme pasar modern dengan pasar tradisional, sejarah dan industri pariwisata. Menara jam Gadang ini dikelilingi oleh berbagai bangunan dengan segala aktivitas di dalamnya. Ada gedung Istana bung Hatta, dengan patung Bung Hatta berdiri menghadap ke perempatan jalan sambil mengangkat tangan seolah ingin memberi hormat.

Di seberangnya, terdapat patung pahlawan tak dikenal. Sebuah pusat perbelanjaan menghadap Jam Gadang. Sebelah baratnya, terdapat tiga kelompok pasar: Pasar Atas, Pasar Lereng dan Pasar Bawah.

Pasar Atas lebih mirip pertokoan Sudimampir, menjual konveksi, jam tangan, kain-kain kerajinan khas Bukittinggi yakni Songket Silungkang harganya mencapai jutaan rupiah.  Pasar atas seolah berdiri sebagai tandingan mall, dengan menjual pakaian dari ranah Minang sendiri, meskipun masih bercampur dengan barang-barang impor dari pulau Jawa.

Menyusuri lorong-lorong pertokoan, para penjaga toko selalu menyapa “Singgahlah ni, caliaklah dulu”. Jika mencermati pakaian atau pun barang dagangan lainnya, pedagang akan mengeluarkan  kata rayuan khas menasional “Ini rancak bana Da”.

Di salah satu toko Pasar Atas saya kembali terkejut, ketika asyik memilih peci, pedagang menyodorkan kopiah yang begitu saya kenal. “Cobalah pakai ini Uda. Kopiah dari Kalimantan Selatan”.

Seakan tak ingin ada ruang kosong, di halaman Pasar Atas digelar dagangan seperti gantungan kunci bergambar alam Minangkabau, gelang, manik-manik dan CD berisi lagu-lagu Minang. Tempat ini menjadi pusat oleh-oleh bagi para pelancong.

Makanan tradisional  pun tersedia berbagai macam. Turun dari pasar atas, berarti menapaki jalan menurun. Di tempat inilah pedagang lokal menggelar dagangan, pakaian, tas, jilbab, baju anak-anak. Semua berbaur, hiruk pikuk dengan teriakan pedagang. Ada pedagang yang agaknya kreatif memanfaatkan tape recorder, ia merekam suaranya dan menyetel volume keras-keras. “Tigo… dua puluah.  Tigo…dua puluah”. Rupanya pedagang ini seperti artis membuat album sendiri. Pasti kalau harga naik, ia akan merekam kembali suaranya. Muncullah album terbaru.

Setelah menuruni Pasar Lereng, Pasar Bawah pun menanti. Para pedagang menunggu dengan menggelar barang sembako, buah-buahan, telor ayam dan itik, berbaur dengan aneka makanan tradisional siap saji. Agak menjauh dari Pasar Lereng, ternyata hampir setiap sudut kota Bukittinggi adalah pertokoan. Pasar Aur tempat persinggahan mini bis yang kami tumpangi, rupanya areal pasar konveksi yang luasnya hampir empat kali Pasar Sudimampir. Di tempat inilah para pedagang luar propinsi Sumbar berbelanja.

Rupanya Bukittinggi tidak hanya menjadi kota bersejarah dan kota wisata, tapi juga pusat perekonomian penting di Sumatra Barat dan propinsi sekitarnya. Pantas saja, musim liburan akhir pekan, apalagi di Hari Raya kota Bukittinggi dipenuhi pengunjung dari berbagai daerah baik untuk berwisata sekaligus belanja.

Tidak cukup satu hari meski hanya mengelilingi sekitar tugu Jam Gadang. Kami kembali ke hotel, melewati patung Bung Hatta, istri saya mengatakan “Kota ini telah menjelma jadi tempat industri wisata dan pusat perekonomian, tapi sektor pendidikan mulai terabaikan”. Semula saya ingin membahas dengan argumen, di sini lahir tokoh besar bahkan Tiffatul Sembiring petinggi PKS sekaligus Menkominfo juga dari Bukittinggi. Namun, istri saya telah menekuni ilmu-ilmu sosial selama belasan tahun tentulah dia lebih peka melihat fenomena sekitar.

Malam kian larut, saatnya untuk beristirahat di kamar hotel. Di luar terdengar deru motor. Lama kelamaan deru motor itu semakin keras, dan terdengar banyak jumlahnya. Sungguh mengejutkan, rupanya tempat ini dijadikan areal balapan liar. Saya yakin istirahat penghuni hotel terganggu sekali.

Betapa miris hati saya, sebab tidak jauh dari pacuan liar berdiri bung Hatta, tokoh nasional sang proklamator, juru damai Indonesia – Malaysia. Mereka para pembalap liar itu seolah tak peduli. Ada benarnya juga pendapat istri saya itu, kemajuan ekonomi membuat sektor pendidikan terabaikan.

Kita mulai lupa akan sejarah. Tiba-tiba saya teringat film Naga Bonar Jadi Dua yang berseru “Turunkan tanganmu jenderal, tak pantas kau memberi hormat kepada mereka”. Kepada Bung Hatta, saya pun ingin berseru. “Bung turunkan tanganmu tak pantas kau berdiri di situ”

 

Tulisan ini dimuat di Tabloid Urbana, edisi 40 terbitan tanggal 27 September – 11 Oktober 2010

 

 

 

 

 

 

 


Responses

  1. Yaps … sip

  2. tulisan yang disampaikan bang ersis (surat dari padang 1, & 2), mengingatkan saya ke kampung halaman yaitu Solok. Kalaulah tulisan semacam ini banyak ditulis dalam menelusuri sungai2 di kalimantan, saya yakin akan banyak para pelancong berkunjung ke Borneo kita tercinta. Insya Allah.

    Penulisnya Nasrullah.

  3. mantap..!!!
    kapan ya aq jg bisa jalan2 ke kotanya abang nas.. bir impas kita hehehe

    bahasanya enak dibaca…

    lanjutkan berkarya bang, ambillah semangat taufik ismail, ambillah eloknya bahasa M. Hatta dalam bertutur dan menulis..

    makasi kirimannya

    Terima kasih supportnya Uni. Insya Allah saya tetap akan menulis, seteguh air yang tak pernah berhenti mengalir di Sungai Barito, tempat kelahiran saya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: