Posted by: danummurik | October 12, 2010

Surat dari Padang (1)

Pria Kesepian di Dalam Angkot

Jika ingin berada di tengah-tengah perempuan, masuklah angkutan kota (angkot) di Padang. Urusan perempuan di dalam angkot ternyata menarik untuk dijadikan cerita, meskipun dalam tulisan ini dibahas secara sederhana. Setidaknya, inilah yang saya rasakan setelah beberapa kali menumpang angkot di Kota Padang.

Angkutan umum di Padang terdiri dari bus dan mikrolet. Hingga pelosok angkot mudah ditemui, sehingga para pengguna transportasi umum di Padang dapat mengakses berbagai tempat hingga pinggiran kota. Namun, angkot di kota Padang itu berbeda  dengan angkutan umum  di beberapa kota besar di Indonesia. Perbedaan mencolok dapat dilihat dari tampilan luar dan dalam angkot yang dimodifikasi abis.

Ekterior mobil dengan berbagai warna dan tulisan

Dari luar dapat dilihat kalau angkot itu dihiasi berbagai warna dan bermacam istilah asing, seperti Ripcurl, Evolotion, Ioton, Castro, Petronas. Selain itu, berbagai ungkapan Minang menambah semarak tampilan angkot.

Bagian dalam angkot lebih menarik lagi. Saya sering menggelengkan kepala melihat interior angkot. Di atas dashboard terdapat berbagi jenis boneka kecil, dari jenis binatang hingga tokoh kartun yang ditempelkan di kaca depan mobil. Boneka-boneka itu seakan hidup ketika angkot mencari penumpang.

Kadang berbagai jenis boneka ditempelkan di atas langit-langit mobil hingga di ruangan belakang tempat duduk penumpang. Kalau kurang cukup ruang di kaca depan, pernak-pernik berbentuk amor digantungkan di bagian atas sopir. Atau persis di atas penumpang yang duduk di samping sopir.

Di angkot yang lain, di atas pembatas antara sopir dan penumpang, di bagian belakang terdapat miniatur keranjang basket dilengkapi beberapa lampu. Untuk menambah semarak bagian depan, adapula yang memasang monitor layar datar berukuran 10 inci sebagai tontonan para penumpang. Di kiri dan kanan monitor diletakkan speaker besar. Kalau monitor tidak ada, biasanya terdapat sebuah bola dengan lampu warna warni seperti lampu disko di pub.

Bagian belakang angkot yang mirip mini bar dengan berbagai aksesoris botol minuman yang dijual terbatas.

Ruang belakang angkot bukanlah daerah tak bertuan. Saya sempat menumpang sebuah angkot yang di bagian belakangnya terdapat miniatur bar. Layaknya bar, terdapat berbagai botol kosong minuman beralkohol tinggi seperti Jeck Daniel, Red Label, King Country yang dilengkapi tiga gelas. Seakan tidak kalah dengan bagian depan, di bagian belakang pun dipasang beberapa speaker. Bahkan terdapat juga di bawah tempat duduk penumpang.

Penumpang angkot di Padang yang mayoritas perempuan, desain interior yang unik, dan bingar musik yang diputar sopir, menjadi fenomena tersendiri yang seolah menggambarkan hubungan angkot, tampilan luar dan dalam, penumpang perempuan, dan perilaku sopir.

Ada kemungkinan sopir memasang berbagai pernak-pernik feminim itu ingin memberikan kesan simpati kepada penumpang yang kebanyakan perempuan. Alasan penumpang lebih memilih angkot dari pada bus, karena tidak berdesakan dan ongkosnya sama. Sementara kebanyakan penumpang bus adalah laki-laki, kalaupun terdapat penumpang perempuan biasanya mereka berdiri di belakang sopir. Tentu keadaan ini membuat mereka lebih baik memilih naik angkot.

Meskipun terkesan feminim untuk tampilan interior angkot, tapi sopir tetap menunjukkan citra maskulinnya. Diletakkan berbagai bekas botol kosong merk tertentu dengan kadar alkohol tinggi dan dikonsumsi kalangan tertentu, menunjukkan bukti keberadaan sopir.

Walaupun angkot penuh penumpang dan kebanyakan perempuan, sopir tetap menunjukkan eksesttensinya dengan memutar musik MP3 dan MP4 berjenis disko atau beraliran rock. Sopir tak peduli bagaimana tanggapan penumpang perempuan mendengarkan musik yang memekakkan telinga itu.

Dalam angkot di Padang saya menemukan gambaran fenomena sosial. Sopir menjadi gambaran lelaki kesepian di tengah banyaknya penumpang perempuan melalui musik disko dan rock yang diputarnya. Sementara ketika tak banyak penumpang perempuan, sikap sopir berubah 180 derajat. Dentuman musik keras dan berirama cepat tak lagi ada, digantikan lagu-lagu Malaysia era 1980-an dan 1990-an yang melo dan mendayu-dayu seperti, Isabella (Search), Suci Dalam Debu (Iklim), Karena Takdir (Salem), dan Buih Menjadi Permadani (Exist). Bisa jadi sisi kelelakian hilang bersama lagu-lagu mendayu-dayu itu..

 

Tulisan ini dimuat di Tabloid Urbana, edisi 40 terbitan tanggal 27 September – 11 Oktober


Responses

  1. ijin pake fotonya ya pak. Saya cantumkan sumbernya kok

  2. […] https://danummurik.wordpress.com/2010/10/12/surat-dari-padang-1/ […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: