Posted by: danummurik | September 22, 2010

Menunggu Hadiah Dari Pak Camat

Meski sudah belasan tahun berlalu, tapi janji pak Camat itu selalu teringat. Katanya akan memberikan hadiah kepada juara cerdas cermat. Dari sinilah cerita bermula.

***

“Perkenalkan regu D dengan juru bicara Balunat. Di dampingi sebelah kanan saya…”

“Idmah”

“Dan sebelah kiri saya…”

“Onot”

Dengan agak gugup mereka memperkenalkan diri sebelum acara cerdas cermat tingkat kecamatan itu dimulai. Di antara tujuh regu (regu A sampai regu G) peserta cerdas cermat, nampaknya hanya regu mereka yang dilanda kegugupan. Berasal dari SD paling jauh dari ibukota kecamatan, mereka datang bertanding dengan persiapan seadanya.Tak ada target untuk menjadi juara, apalagi mengusung semangat Vini, Vidi, Vici jauh panggang dari api. Cukuplah asal dapat mewakili SD. Mereka pun tak sehebat kepandaian Lintang ataupun Ikal dalam novel Laskar Pelangi untuk menjuarai cerdas cermat dengan mengalahkan sekolah unggulan. Bagi murid SD Merpati desa Jambu Baru pergi keluar desa sudah menjadi pengalaman menyenangkan. Kalau pergi ke luar desa maka tujuan utama hanya ke pasar Kabuau di desa tetangga pada hari minggu pun kalau ada duit untuk menumpang kelotok. Sebagai anak petani, mereka lebih sering ke Pasar Tabukan karena selama musim bertani mereka berdiam di Sungei Kambe (Sungai Hantu) lokasi bertani. Duduk di tempat itu pun mereka bersyukur karena merupakan kesempatan langka dan istimewa.

Di antara tiga orang sahabat itu Balunatlah yang paling khawatir. Di dalam gedung serba guna di ibukota kecamatan, ia mengedarkan pandangan matanya ke depan, seolah-olah ingin mengenali seseorang. Tampak Camat dan unsur muspika duduk di barisan samping kanan dewan juri. Ada juga guru-guru dari SD dan SMP dari kecamatan menghadapi peserta lomba. Sementara di belakang mereka terdengar suara supporter pendukung regu B dari SD dari ibukota kecamatan yang menjadi tuan rumah seperti pendukung sepakbola menyemangati tim kesayangannya. Tak tampak sosok yang dicarinya, membuat dia menjadi agak lega.

Balunat tidak pernah melupakan peristiwa menimpa dirinya yang terjadi beberapa bulan lalu di desanya. Ketika asyik bermain catur dengan ni yamang di warung beliau yang berada di pinggir sungai Barito, tiba-tiba tangan yang kuat dan kokoh mencengkeram badannya dari belakang. Enteng saja tubuh kecil Balunat dan kurus terangkat seperti melayang-layang. “Anak SD kada boleh main catur lawan orang tuha” (Anak SD tidak boleh bermain catur dengan orang tua) kata orang mengenakan baju seragam. Balunat ketakutan tubuhnya gemetaran dan keringatnya bercucuran. Tampak di hadapannya petugas dari kecamatan berkumis tebal mengkilat seperti baru dioleskan minyak rambut. Baju seragamnya mirip penjaga pos lalu lintas sungai itu  segera menggantikan posisi duduknya. Petugas itu telah melakukan mengkudeta anak kecil untuk bermain catur.

Sebenarnya bagi Balunat yang masih sekolah SD dalam urusan bermain catur melawan orang dewasa, dicemooh penonton karena dia tidak mau mengikuti saran mereka untuk menggerakkan pion tertentu, bahkan dikelilingi banyak orang penonton adalah hal yang biasa. Kini yang dihadapinya seorang “petugas” di  atas saku kanan orang itu tertulis namanya. Balunat mengedarkan pandangan kepada orang-orang kampung di sekelilingnya, ia ingin mendapatkan simpati dan dukungan. Sayang semuanya diam seribu bahasa, tak ada suara protes. Barangkali mereka tak mau mengambil resiko berhadapan dengan “petugas” di masa rezim Orde Baru berkuasa. Barulah ketika “petugas” itu berlalu ada penduduk yang berbicara.

Ida rajin yaku dengan gaya uluh jete” (tidak senang saya dengan perlakukan orang itu).

***

“Silahkan masing-masing regu mengambil amplop putih yang disediakan” demikian panitia memberikan pengarahan. Di dalam amplop itu tersedia beberapa pertanyaan dan akan dibacakan kepada setiap regu sesuai dengan amplop yang diambil. Apabila tidak bisa menjawab, pertanyaan akan dilemparkan kepada regu berikut.

Balunat, Idmah dan Onot duduk di kelas 6 SD Merpati dan dalam satu kelas se-angkatan mereka itu hanya ada enam orang. Dua orang perempuan, Inram dan Nayi serta empat orang laki-laki, yakni mereka bertiga dan satu orang lagi, Simi yang tidak ikut karena peserta memang hanya tiga orang setiap regu. Mereka sebenarnya ingin mengajak ketiga orang temannya ikut serta, tapi kelotok yang ditumpangi tidak bisa memuat banyak orang, sehingga hanya mereka bertiga ditemani guru pendamping dan pemilik kelotok yang berangkat.

Acara Cerdas Cermat pun dimulai, urutan pertanyaan disesuaikan dengan abjad maka dimulai dari Regu A. Sambil mendengarkan pertanyaan, tiga orang teman satu kelas itu saling berbisik kadang saling berdiam diri, mereka seperti orang-orang berada di kutub utara membeku kedinginan. Apalagi masing-masing punya persoalan dengan pakaian dan sepatu yang dipakai. Sepatu Balunat meski kedengarannya keren dibeli di kota Banjarmasin seharga Rp 1500,- ternyata kebesaran. Agar terlihat pas, di ujung sepatu dimasukkan kertas sehingga tidak terasa longgar. Sepatu Onot dan Idmah entah meminjam dari siapa, sebab barang seperti itu termasuk langka. Pun kalau punya sepatu, pemiliknya lebih suka memandang ke tanah untuk melihat bekas tapak sepatu yang terlihat indah. Tampak lobang-lobang kecil dan tulisan nama sepatu melekat di atas tanah yang diinjak itu.

“Mun hindai babak rebutan, itah jawab tarus beh” (kalau belum babak rebutan kita jawab terus saja) Tiba-tiba Idmah dengan gaya seperti penasehat presiden berbisik kepada Balunat. Tak sempat menanggapi, Onot pun menyela.

Iyuh bujur te, nilai gida bakurang kia” (iya benar, nilai tidak berkurang juga).

Tanpa mengucapkan kata setuju, Balunat mau tidak mau menyepakati siasat sederhana dari dua orang sahabat.  Mereka sadar tidak punya persiapan yang matang, sehari sebelum berangkat Wali Kelas, Abah Hasan melatih mereka dengan segala kemampuan. Begitu pula tidak banyak buku bacaan yang tersedia di sekolah, kalaupun membeli buku di pasar hanya membeli komik serial Petrok dan Gareng. Sesekali mereka membaca Koran yang didapatkan dari lemparan awak kapal sabang yakni kapal laut yang melintasi sungai Barito menuju ke Kalimantan Tengah.

“Regu D apa jawaban kalian” mendadak dewan juri melemparkan pertanyaan kepada mereka. Idmah yang dari tadi berkonsentrasi segera berbisik kepada Balunat.

“Jawab saja kesejahteraan” katanya penuh keyakinan

“Yakinkah jawaban itu benar?”Tanya Balunat.

Injawab beh malar nilai ei” (Jawab saja lumayan dapat nilai) ucap Onot  mendukung Idmah.

Rupanya saran dua sahabat itu memang jitu, di babak pertama semua pertanyaan selalu mereka jawab. Terkadang mereka mendapatkan nilai 100 karena menjawab dengan tepat. Rasa gugup, demam panggung yang mereka alami kini menghilang berganti dengan gembira. Papan skor menunjukkan regu D, tim underdog mendapat nilai tertinggi. Regu B sebagai tuan rumah menanggung malu berada di nomor urut kedua, tapi dengan nilai tidak lebih dari 100 poin.

Kini tibalah babak rebutan, siapa saja boleh menjawab dan apabila jawaban benar mendapat nilai 100 sedangkan salah atau tidak tepat  nilainya dikurangi seratus. Tiga pertanyaan sudah dilemparkan dengan juri, tak ada peserta yang mau mengambil resiko. Sementara Balunat, cs masih unggul. Tim tuan rumah dan supporternya semakin gelisah. Beberapa orang di depan di jajaran unsur muspika tampak kebingungan. Regu D, kelompok yang tak diperhitungkan akan meraih gelar juara.

“Kalau tidak ada yang menjawab, kini pertanyaan terakhir” kata Dewan juri sambil menggaruk-garuk kepala.

Suasana hening sejenak, tampak barisan dewan juri berbisik-bisik sambil menoleh kepada Pak Camat seolah menunggu doa restu. Pertanyaan dengan jawaban pilihan ganda A, B dan C pun dibacakan. Kembali tak ada yang menjawab. Juri pun mengulangi pertanyaan.

Parasaku jawaban ei B” (Perasaan saya jawabannya B) kata Balunat berbisik kepada Idmah.

“Tidak usah saja, kita sudah menang”

Onot pun mendukung Idmah “Mun sala, malah nilai ingurang” (kalau salah nilainya malah dikurangi).

Di saat berbisik-bisik seperti itu, tiba-tiba terdengar suara keras.

“Ayo regu B jawab”  Pak Camat berseru kepada tim tuan rumah, matanya berkedip-kedip seperti lampu minyak lanting Barito yang terlihat dari kejauhan kepada regu B.

Suasana hening sejenak, sepertinya tidak ada yang rela kalau Balunat dari SD Merpati menjadi juara Cerdas Cermat.

Be… Pak” kata juru bicara regu B.

“Seratus untuk regu B” kata dewan juri, tepuk tangan pun bergemuruh. Nilai regu B bertambah seratus, beberapa puluh poin di atas dari regu D.

Kini keadaan menjadi terbalik, regu B unggul atas regu D dan tidak ada pertanyaan lagi. Regu B menjadi juara pertama dan regu D meraih juara kedua. Balunat, Idmah dan Onot tersenyum bahagia, bagi mereka menjadi juara dua pun prestasi yang luar biasa. Kini mereka menunggu hadiah seperti sering ditonton dalam acara Cepat-Tepat di TVRI. Setelah usai acara juara satu, juara dua, dan juara tiga disuruh maju ke depan untuk menerima hadiah piala. Kalaupun tidak ada piala, bagi Balunat cs cukuplah menerima bungkusan yang berisi beberapa buku tulis sebagai tanda mereka meraih juara dua.

Namun, tak ada panggilan maju ke depan meskipun mereka meraih juara dua, bahkan untuk juara satu pun tidak ada panggilan. Tiba-tiba seorang juri yang berada di dekat camat mengambil mikropon.

“Hadiah akan diserahkan kepada juara setelah pak Camat datang dari Marabahan” katanya sambil menoleh kepada Pak Camat yang tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepala seperti seorang politikus memberikan janji kampanye kepada rakyat.

Balunat, Idmah dan Onot serta peserta lain pun membubarkan diri. Ada rasa bangga dalam hati mereka karena meraih juara dua, juga harapan mendapatkan hadiah yang dijanjikan Pak Camat. Kelotok yang mereka tumpangi melaju meninggalkan ibukota kecamatan untuk kembali ke kampung. Hari yang panas terik itu terasa begitu sejuk.

***

Yogyakarta tiga hari menjelang proklamasi ke-63 tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Di sebuah kampus ternama dan memiliki reputasi internasional, seorang anak muda duduk sendiri di depan pintu ruangan. Sebelumnya, dalam ruangan berpendingin itu keringatnya bercucuran mempertahankan tesisnya dihadapan dewan penguji serta dosen pembimbingnya yang tersohor kepakaran di bidang masing-masing. Kini terbayar sudah perjuangan membuat tesis yang terasa sangat memeras otaknya, tapi beruntung sejak kecil ia berlatih berfikir melalui permainan catur. Sehingga setiap mengalami jalan buntu, ia tidak mudah putus asa melainkan berusaha mencari alternative jalan keluar. Tak pernah ia menduga bisa menginjak di kampus besar itu, bergaul dengan para Guru Besar dan kaum cerdik pandai yang nama mereka telah melegenda.

“Silahkan masuk” terdengar panggilan dari dalam.

“Apapun nilainya yang penting aku bisa lulus” ia bergumam kepada diri sendiri.

Di dalam ruangan berpendingin itu keringatnya kembali bercucuran. Tubuhnya basah seperti peluh orang sedang menarik uwei (rotan) yang tersangkut di atas pohon. Dihadapannya berdiri dua orang professor dan seorang doktor, ia menunduk penuh hormat kepada orang-orang yang cerdik pandai dan bijak bestari itu. Gugup dan sedikit berharap.

“Anda dinyatakan lulus dengan nilai A” kata ketua Penguji.

“Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu akbar” Sama sekali ia tak menduga, sebagaimana waktu dulu tidak pernah menduga menjadi juara dua cerdas cermat tingkat kecamatan. Mungkin inikah hadiah pak Camat yang dijanjikan waktu dulu?

Mawar Putih, Padang, September 22, 2010


Responses

  1. Cerita yang bagus, sepertinya pengalaman pribadi ya?…keren lo bisa diangkat kelayar lebar…mengingatkan kisah masa kecil ….

    Salam dari kalimantan tengah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: