Posted by: danummurik | June 29, 2010

Kuasai Audit !

 

Sepasang pintu kembar kiri dan kanan yang diapit dua jendela menjadi kenangan

Bagi aktivis mahasiswa IAIN Antasari hingga tahun 2000 bangunan bercat lusuh, ini tentu tidak asing lagi. Bangunan yang memiliki pintu kembar dikawal oleh sepasang jendela setiap pintu menjadi saksi bisu pergerakan aktivis IAIN. Mari mengingat kembali tempat itu di masa kita dengan bangga berstatus mahasiswa di kampus hijau Ahad Yani kilometer empat setengah.

Pintu sebelah kanan adalah markas besar Senat Mahasiswa IAIN (SMI), sekarang berganti nama menjadi Badan Eksekutif Mahasiswa IAIN (BEMI). Ketika saya masuk IAIN tahun 1997 yang menjadi big bossnya adalah Abdul Halim Rahmat. Pintu kanan itu menjadi saksi bisu kisah aktivis kampus. Mereka yang membuat proposal untuk seminar, acara hiburan kampus, pengabdian masyarakat, dan lain sebagainya yang tentunya tak ketinggalan kisah cinta mahasiswa ikut mengharu biru. Dan yang paling penting, ruangan dalam pintu kanan itu adalah grand design aktivis kampus sebelum melakukan demonstrasi menuntut reformasi 1998. Bagi teman-teman aktivis di daerah, semestinya muncul kesadaran kuat bahwa reformasi bukan hanya milik Jakarta meski ada tragedi Trisakti di Semanggi. Aktivis IAIN buktinya, sebagian bagian dari kelompok mahasiswa reformasi yang menumbangkan Orde Baru. Ketika demontrasi mahasiswa berlangsung di IAIN, Suwardi salah satu penghuni ruangan pintu kiri sering berorasi “turunkan Soeharto, naikkan Suwardi” katanya.

Namun, saya tak banyak tahu aktivitas aktivis dalam pintu kanan itu. Saya hanya sesekali masuk pada malam hari, itupun menengok teman-teman teater An Nida Fakultas Dakwah yang mempersiapkan kostum untuk manggung. Saya lebih sering masuk ke pintu kiri. Di situ adalah markas besar tim nasional sepak bola IAIN Antasari. Nama timnas kami hebat bukan buatan, PS “Mahkota” IAIN Antasari.  Ahmad Rafieq memperkenalkan timnas itu kepada kami, mahasiswa baru pada hari penutupan Opspek 97. “Kalau adik-adik tertarik mengembangkan bakat sepak bola, PS Mahkota menanti anda. Bergabunglah dengan kami” begitulah kira-kira promosinya sambil membentangkan kostum timnas berwarna merah, seolah memberi kesan berani dan tangguh.

Mendapat tawaran hebat dari senior, saya sangat tertarik dengan alasan yang barangkali sangat subjektif; Pertama, urusan sepak bola, I love this game. Kedua, mereka yang tergabung dalam timnas PS Mahkota multi talenta dari yang pintar sekali, kreatif, kalau tidak dibilang nakal, semua mahasiswa ahli bola dari berbagai fakultas tergabung ke situ. Walaupun untuk fakultas kekuatan terhebat adalah tim sepak bola fakultas Dakwah. Dalam PS mahkota sendiri ada tiga pemain inti Fakultas Dakwah: Taftazani dari Kandangan adalah kapten tim yang sangat berwibawa; Fauzan Rahimy anak Belitung, gelandang serang memiliki kemampuan skill yang mampu menembus barisan lawan; M. Noor dari Nagara, bek kiri yang tak kompromi. Alasan ketiga, yang ini cukup untuk kalangan terbatas saja, pemain sepak bola biasanya memiliki kekasih yang cantik.

***

Cerita ini masih panjang, tapi sebelum melanjutkan sekedar informasi bahwa gedung dengan pintu kembar dan sepasang jendela itu adalah pintu belakang bangunan auditorium IAIN Antasari. Anehnya bangunan IAIN banyak yang tidak bernama, auditorium itu pun tak bernama, cukup disebut begitu saja. Tidak seperti nama bangunan di beberapa kampus lain, ada nama tokoh yang diabadikan pada suatu bangunan. Setahu saya hanya nama tokoh pendiri IAIN, Abdurrahman Ismail diabadikan untuk nama masjid  kampus IAIN. Selebihnya bangunan perpustakaan, kantor rektorat, fakultas, bangunan koperasi mahasiswa, kafetaria dan lain sebagainya tak punya nama.

Sewaktu menjadi mahasiswa, auditorium yang lebih keren disebut audit sering menjadi kegiatan mahasiswa. Selain opspek, berbagai kegiatan seminar, ceramah ilmiah, diskusi antar mahasiswa, mahasiswa dengan dosen, hampir setiap bulan tokoh nasional hadir mengisi acara di audit. Meskipun kalau waktu senggang, ada aktivis yang belajar sepatu roda di dalam audit. Besar dugaan saya maraknya kegiatan mahasiswa di dalam audit karena markas besar aktivis SMI menyatu, sehingga ide selalu bermunculan.

 

Halaman audit tempat bermain bola. Dulu belum ada taman dan batako.

Halaman audit dijadikan stadion mini PS Mahkota berlatih bola, apalagi ketika menjelang kompetisi sepak bola antar kampus seperti Silva Cup di Banjarbaru. Di halaman yang berpasir dan berkerikil kami bermain bola dengan penuh semangat. Bagi saya itulah hari-hari menyenangkan di kampus. Pagi kuliah, sore bermain bola, meskipun kadang-kadang celana robek dan kaki lecet karena terjatuh. Kursi kuliah sering ditarik keluar dijadikan tiang gawang, dinyatakan gol apabila bola masuk ke dalam kursi itu. Di tempat itu pula, Fahmi Arief, ketua PS Mahkota  sering memberikan pengarahan kepada kami sebelum bermain. Di pinggir lapangan berdiri Suwardi, mahasiswa Fakultas Dakwah yang menjadi manajer PS Mahkota. Kalau dalam pertandingan, dia dengan jas lusuh entah didapat dari mana berdiri dengan serius mengamati pertandingan dan memberi semangat kepada teman-teman. “Pembalap…pembalap” kata Suwardi yang di luar urusan olahraga menjadi pengurus utama teater kampus, menjadi raja kerajaan teater An Nida Fakultas Dakwah. belakangan saya baru tahu pembalap adalah pemain berbadan gelap. Ada-ada saja.

***

Samping kiri audit di bawah pohon rindang punya banyak cerita.

Samping kiri audit terdapat sebuah besar dan rindang. Di bawah pohon itu, menjadi tempat mahasiswa kalau berjanji bertemu, maklum belum ada hp. Ada yang berjanji menunggu pacar, rencana kegiatan kampus bahkan mengobrol meramal nomor buntut yang akan keluar. Saya kebagian tugas mengambil bola liar yang sering jatuh sekitar pohon itu yang kebetulan ada sumur. Samping kanan audit terdapat kafetaria yang jarang saya kunjungi. Bagi saya kafetaria adalah tempat elit mahasiswa berduit. Harga makanan, minuman dan kue pun di atas rata. Tak sanggup bagi ekonomi anak kost yang pas-pasan.

Menjelang tahun 2000 kegelisahan muncul di kalangan aktivis, ketika berhembus kabar dari rektorat bahwa markas SMI akan “digusur”, istilah halusnya IAIN akan membuat bangunan khusus bagi aktivis mahasiswa. Bukan soal bangunan megah yang diperlukan, tapi bagaimana tempat itu memberikan inspirasi bagi mahasiswa itulah yang terpenting. Maka muncul jargon mahasiswa sekitar tahun 2000 “Kuasai Audit!

Benar saja, setelah dua pintu kembar itu tidak lagi menjadi markas mahasiswa, kegiatan kampus kian hari menjadi surut. Di audit itu hanya ada kegiatan tetap mingguan, yakni tempat upacara perkawinan (Nasrullah: Alumni Fakultas Dakwah IAIN Antasari Banjarmasin)


Responses

  1. Sebuah cerita yang luar biasa…terus kembangkan kawan….saya yakin suatu saat Anda seperti Andrea Hirata….

    Terima kasih supportnya bro. Seperti Andrea Hirata, hmmm belum terbayangkan, tapi saya menulis itu hanya karena romantisme. Masa-masa kuliah ternyata lebih indah dari masa-masa di bangku sekolah


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: