Posted by: danummurik | June 19, 2010

Sihir Mandela untuk Piala Dunia 2010

Oleh: Nasrullah

Meski usianya mendekati satu abad, bak pepatah semakin tua makin berisi, Mandela menjadi pertimbangan utama dinobatkannya Afrika Selatan (Afsel) sebagai tuan rumah. Tahun 2004, begitu Afsel diumumkan sebagai tuan rumah piala dunia 2010, Mandela menjadi orang yang pertama kali memegang piala dunia. Di tangannya pula perjalanan piala dunia selama 35 hari itu berakhir.

Sedemikian istimewanya, tokoh paling kharismatik dan terkenal di Afrika Selatan ini sangat diharapkan untuk hadir dalam acara pembukaan dan penutupan piala dunia. Presiden FIFA, Sepp Blatter menyampaikan harapannya, Piala Dunia 2010 tanpa Mandela akan sangat hambar. Kepastian pun datang, Mandela bersedia hadir. Mandela yang dipanggil Madiba oleh masyarakat Afsel sebab berkesan romantis dan sayang. “Kami sangat bahagia bahwa Madiba akan datang. Sihir Madiba akan menambah keindahan Piala Dunia,” kata Juru bicara Kongres Nasional Afsel (ANC), Jackson Mthembu.

Andai saja rezim apartheid masih berkuasa di Afsel, tentulah piala dunia masih jauh panggang dari api. Selama ratusan tahun Afsel hidup dalam diskriminatif ras, orang-orang kulit hitam menjadi second class di tanah airnya sendiri. 80 persen wilayah Afsel dikuasai orang-orang kulit putih, sedangkan sisanya orang-orang kulit hitam berada di tempat yang miskin. Mereka dikucilkan secara ekonomi, sosial dan politik. Menurut Sindhunata, orang kulit hitam didiskriminasi. Martabat mereka diinjak-injak. Tidak kurang 200.000 orang kulit hitam meringkuk di penjara dengan perlakuan yang tidak layak. Banyak di antara mereka disiksa dan mati di penjara. Namun, Nelson Mandela melawan. Ia memimpin Kongres Nasional Afrika (ANC) dan mendirikan organisasi sayap bersenjata, Umkhonto we Sizwe (MK), yang berarti “Tombak Bangsa”. Akibat aksinya, Mandela diasingkan dengan kejam 27 tahun lamanya. Sepuluh tahun pertama ia mendekam di tahanan tanpa koran, tanpa radio, dan tidak boleh dikunjungi siapapun. Selama di pengasingan Mandela sering menerima tawaran dari rezim apartheid. Ia  menolak tawaran-tawaran bebas bersyarat dari rezim apartheid ketika Mandela dibuang di pulau penjara Robben yang diisolasi ketat selama 18 tahun. Ia juga menolak untuk bebas dan diam bersama keluarga di tempat yang disediakan rezim

Antara tahun 1950 dan 1953, pemerintah kulit putih meletakkan pondasi konstitusional bagi Apartheid dengan membagi-bagi masyarakat berdasarkan ras masing-masing, yakni warga kulit putih, kulit hitam, kulit berwarna dan Asia. Tahun 1956 pemerintah Afrika Selatan memperketat undang-undang olahraga. Siapapun yang terlibat dalam pertandingan olahraga yang mencampurkan kedua ras akan dihukum. Hanya warga kulit putih saja yang berhak mewakili Afrika Selatan dalam turnamen olahraga internasional (http://dw-world.de).

Ketika rezim apartheid angkat kaki dari Afsel dan Mandela menjabat presiden dari tahun 1994 hingga 1999. Ia pun tetap konsisten berjuang untuk rakyat, tidak menimbun kekuasaan dan melakukan korupsi. Menurut Mudji Sutrisno, konsistensi Mandela dengan perjuangannya sejak diucapkan lagi saat pembebasannya 27 tahun kemudian dan tetap dihayatinya sampai masa transisi ke penggantinya diselesaikan pula. Mandela mengatakan “Aku (Mandela) berjuang menentang dominasi kulit putih dan aku berjuang menentang dominasi kulit hitam. Aku membawa gagasan untuk cita-cita sebuah masyarakat demokratis dan bebas, di mana semua orang hidup dalam harmoni dan kesempatan yang sama.”

Ucapannya itu menempatkan Mandela sebagai negarawan yang bebas mandiri dalam menentukan politiknya menghadapi negara adikuasa seperti Amerika Serikat. Ketika Presiden Bush menekan negara-negara lain agar memusuhi pemerintah Ghadafi dari Lybia dan pemerintah Presiden Castro dari Cuba, Presiden Mandela menolak tegas. Mandela dengan tandas menyatakan bahwa Kadafi maupun Castro adalah sahabat rakyat Afrika Selatan dalam perjuangan mereka melawan Apartheid untuk kemerdekaan nasional. Mandela tidak melupakan sahabat semasa sulit. Banyak negeri tidak berani mengkritik Presiden Bush ketika melakuka invasi terhadap Irak. Tetapi Presiden Mandela jelas-jelas mengkritik Presiden Bush, yang dikatakannya bertindak menghancurkan peranan PBB (Ibrahim Isa, 2008).

Perjuangan Mandela menghapus diskriminasi ras juga terjadi pada timnas Afsel. Perlahan-lahan perbedaan suku, bangsa, agama, ras dan golongan dapat ditinggalkan. Piala Dunia  1998 mereka mengusung semboyan one nation, one soul!. Memang secara psikologis, kesebelasan “Bafana Bafana” ikut memupuk persaudaraan nasional Afrika Selatan. “Teman terbaik saya adalah orang kulit hitam,” kata gelandang Afrika Selatan, Mark Fish (Sindhunata, 2002:159). Adapun di dalam timnas Afsel 2010 terdapat seorang pemain berkulit putih bernama Matthew Booth menempati posisi bek. Ketika Booth bermain di timnas, kebanyakan penonton meneriakkan “Booo” kepada, bukan untuk mencela, tapi bangga atas permainannya. Menurutnya, Sepak bola di Afrika Selatan adalah olah raga multirasial, baik di tahapan profesional maupun amatir dan ia bangga menjadi salah satu pemain inti.

Kini, sebelum masyarakat luas melihat kehadiran Mandela pada pembukaan piala dunia, yang paling berbahagia adalah tim nasional Afsel. Mandela mengunjungi mereka dengan mengenakan baju kaos kapten tim nasional Afsel yang berjuluk Bafana-Bafana ini. Meski Mandela tak begitu yakin peluang Afsel sebab lawan dihadapi cukup kuat. Namun, kehadirannya tentulah sangat berarti, sebab sebelumnya Mandela pernah menginspirasi klub Springbok rugby saat menjuarai Piala Dunia Rugby pada tahun 1995.

Kedatangan Mandela menjadi  semangat bagi Anak Muda Afrika Selatan. Pertandingan perdana melawan Meksiko, tanggal 11 Juni 2010 di Soccer City, Johannesburg akan disaksikan lagi oleh Mandela bersama 90.000 penonton dari Afsel, bisa jadi akan merubah prediksi. Kalau saja Afsel memenangkan dua kali laga pembuka, pastilah semangat Mandela telah memenuhi ruang batin tim Bafana-Bafana. Selain itu, Mandela tidak hanya penting bagi timnas Afsel karena sesungguhnya ia menjadi roh Piala Dunia 2010. Sebab, sepak bola adalah olahraga yang melakukan perlawanan terhadap rasisme, sedangkan Mandela sendiri pernah menjadi ikon perlawanan terhadap rezim Apartheid yang sangat rasis di Afrika Selatan.

Penulis: alumni S2 Antropologi UGM, staf pengajar prodi Pendidikan Sosiologi FKIP Unlam


Responses

  1. Tsamina mina eh, eh
    Waka waka eh, eh
    Tsamina mina zangalewa
    This time for Africa

    salam kenal gan..

    Salam balik


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: