Posted by: danummurik | July 24, 2009

Budi dan Pemain Manchester United

Oleh: Nasrullah

Di masa injury time. Menit 90:25. Tendangan Beckham melambung dari sudut kiri. Bola jatuh di kaki Ryan Giggs, lalu melesat liar dari kakinya, Teddy Sheringham menyambung dengan tendangan kakinya. Gol! 1-1! Di menit 90:35. Menit 92:15. … Ole Gunnar Solskjaer memperoleh lagi tendangan sudut. Bagaikan orakel pembuat mukjizat, Beckham melambungkan bola. Lagi-lagi Sheringham yang menerimanya, meneruskannya pada Solskjaer. Dan dengan kaki kanannya, Solkjaer merobek gawang Oliver Kahn, di menit 2:17. 2-1. Manchester United menang! (Sindhunata, 2002:227-228)

Bagi penggemar berat Manchester United (MU) tentu takkan pernah melupakan momen magis dan dramatis, ketika MU sudah ketinggalan 0-1 oleh Bayern Munchen di stadion Nou Camp, Barcelona dalam final Piala Champions Eropa. Nyaris tak ada harapan menang bagi MU, apalagi dengan perpanjangan waktu hanya tiga menit. Namun, demikian lah bola, bentuknya yang bundar menjadi sulit untuk ditebak. Hanya dalam waktu 112 detik, kekalahan 0-1 MU terhadap Munchen berbalik menjadi kemenangan 2-1.

Kejadian yang terjadi pada tahun 1999, barangkali sudah menjadi kenangan. Kini pemain MU banyak yang berganti. Tidak ada lagi David Beckham dengan tendangan pisangnya,  Ole Gunnar Solskjaer dan Teddy Sheringham pun sudah pensiun. Hanya Ryan Giggs dan pelatih legendaris Sir Alex Perguson yang bertahan di MU. Pemain boleh saja berganti, datang dan pergi dari MU, tapi MU tetap tim papan atas di Liga Inggris dan klub sepakbola dunia yang berpengaruh. Bahkan MU sekarang yang tengah ditunggu kedatangannya karena akan bermain di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta tanggal 20 Juli 2009.

Indonesia yang berpenduduk 250 juta, diwakili Indonesia All Star dari analisa apapun tentu tak akan menang melawan tim yang berjuluk Setan Merah dari Kota Menchester, Inggris ini. Lantas mengapa pertandingan itu tetap ditonton juga, bahkan tiketnya pun terjual habis? Bagian inilah yang akan dibahas, tidak hanya dari segi pertandingan tapi gencarnya promosi kedatangan MU.

Iklan “Ini Budi” MU

Di dalam kelas kecil yang  hanya terdiri dari beberapa orang, terdengar suara koor dengan aksen bahasa asing mengikuti ucapan ibu guru bahasa Indonesia.“Ini Budi … Budi Bermain bola”. Itulah iklan di televisi yang dibintangi para pemain MU sedang belajar bahasa Indonesia. Setelah mengucapkan kalimat itu, Ferdinand, Roney, Park Ji Sung, Giggs, Van der Sar dan Carrick saling berpandangan. Mereka kemudian tertawa bahagia. Inilah salah satu iklan cerdas, kolaborasi dari unsur pendidikan dan olahraga untuk mempromosikan kedatangan MU ke Indonesia oleh salah satu layanan seluler GSM.

Tokoh ‘Budi’ menghadirkan kembali kenangan kita sewaktu duduk di bangku sekolah dasar. ‘Budi’ adalah seorang tokoh kecil di masa Orde Baru yang menjadi salah satu bagian dari cita-cita luhur untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kini di era reformasi tokoh ‘Budi’ jarang disebutkan oleh anak-anak sekolah dasar, tragisnya mereka lebih mengenal artis, penyangi dan bintang film sinetron. Padahal ‘Budi’ adalah anak yang rajin membaca dan menulis juga berbakti kepada orang tua. Ia dan keluarga batihnya sering disebut dalam buku pelajaran membaca di sekolah dasar

Namun, saya sempat heran tokoh Budi hilang di kelas empat hingga kelas enam SD. Belakangan seorang teman sambil bercanda mengatakan, dari kelas satu sampai kelas tiga pekerjaannya Budi hanya belajar membaca dan menulis, sehingga dia tidak naik kelas maka namanya tidak disebutkan lagi. Andai saja teman tersebut ingat kisahnya itu dan melihat iklan “Ini Budi” MU, tentu ia kagum kepada Budi sekarang. Bukan Bambang Pamungkas, Budi Sudarsono, Markos Horison, Boaz Salosa, Charis Yulianto, Ponaryo Astaman, Ricardo Salampessy, dan Firman Utina sebagai pemain timnas yang dikagumi MU. Hanya seorang ‘Budi’ yang dulunya masih ingusan, menjadi satu-satunya pemain Indonesia yang disebut-sebut pemain inti MU.

Dari iklan ‘Ini Budi’ sesungguhnya banyak pesan moral dan cultur di dalamnya. Salah satunya sebagai kritik terhadap pendidikan Indonesia di era Reformasi karena gagal menghadirkan tokoh imajiner yang rajin dan haik hati dalam benak anak didik. Sayang, kesempatan serba terbatas ini tentu terbatas pula untuk membahas lebih dalam.

Pesan penting dari iklan ‘Ini Budi’ yang disponsori salah satu provider jasa telepon selular, bahwa betapa kuat keinginan MU untuk lebih dekat kepada fansnya di Indonesia dengan menghidupkan sosok tokoh di masa kecil kita.  Padahal tanpa iklan besar-besaran MU tetap menjadi perhatian penggemar sepakbola Indonesia, inilah sisi profesionalisme tim sepakbola elit dunia yang sanggup meracik sepakbola sebagai olahraga, industri dan pendekatan kultural. Bahkan dari Iklan ‘Ini Budi’, barangkali para pemain MU juga berharap agar generasi muda Indonesia kelak dapat tampil di pentas internasional sebagaimana mereka.

Keinginan MU untuk lebih dekat dengan fans-nya di Indonesia dapat kita rasakan pula di kota Banjarmasin. Park Ji Sung, Ryan Giggs, sang pelatih Sir Alex Perguson, Rooney, dapat kita lihat berdiri di sudut dan pelosok kota dengan senyum menawan dari baliho-baliho besar. Meskipun disayangkan salah satu baliho MU harus mengorbankan sebatang pohon (Arbain, Radar Banjar 13 Juli 2009). Mereka seolah-olah ingin menyatu di Indonesia dengan menggunakan baju batik. Andai saja mereka lebih lama di Indonesia, atau bahkan bermain di stadion 17 Mei boleh jadi mereka beriklan dengan memakai pakaian sasirangan.

Tulisan ini dibuat sehari sebelum ledakan bom di Rizt-Carlton yang terjadi tanggal 17 Juli 2009. Akibat bom itu MU membatalkan  kedatangannya ke Indonesia.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: