Posted by: danummurik | December 19, 2008

Andrea “Ikal” Hirata dan Perempuan-perempuan itu

Andrea Hirata, penulis Tetralogi Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov, selama ini dikenal masih sendiri atau belum menikah, tapi beberapa waktu lalu terdengar kabar ada seorang perempuan yang mengaku pernah dinikahinya. Menurut Andrea Hirata, dia malas mengomentari urusan perkawinan itu. Atas kejadian tersebut, saya menjadi tertarik untuk menuliskan hubungan Andrea Hirata dengan para perempuan.

Namun, dalam tulisan ini saya sama sekali tidak tertarik untuk membahas hubungan seseorang yang bersifat privacy. Dalam tulisan ini, saya menggunakan nama Andrea dan Ikal secara bergantian. Marilah kita membicarakan sesuatu yang lebih jelas adanya, yakni bagaimana Andrea membicarakan kaum perempuan dalam wilayah publik atau dengan kata lain perempuan-perempuan itu telah dipublikasikannya melalui tulisan. Hal ini bisa diketahui dalam novel-novelnya. Saya memilih novel Edensor. Novel ini kaya dengan pengalaman dan perjumpaannya dengan kaum perempuan, walaupun sebenarnya novel Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi juga menarik kalau dicermati. Sayangnya novel Laskar Pelangi saya dipinjam teman, sampai sekarang belum dikembalikan. Kalau novel Sang Pemimpi biarlah saya serahkan kepada yang lain saja, siapa tahu ada di antara pembaca yang berminat mengulasnya.

Sasaran utama yang ingin saya ketahui tentang perempuan menurut Ikal, adalah bagaimana dia memetaforakan perempuan. Perempuan adalah lambang keindahan bagi para penyair, sastrawan, serta para pecinta tak pernah luput memetaforkan perempuan dari hal. Bagi Ikal sendiri, perempuan mempunyai kelemahan “Pujian bagi wanita tertentu, tak ubahnya bulu ketiak Benyamin Tarzan Kota, di situlah titik lemahnya” (Edensor, h. 97). Jadi marilah kita lihat perempuan-perempuan di novel Endensor dan bagaimana Andrea atau Ikal menggambarkannya.

Memetaforakan Perempuan

Melihat pandangan Ikal terhadap perempuan dapat kita lakukan dengan kalimatnya metaforanya. Adapun perempuan-perempuan yang diceritakan dalam novel Edensor, menurut saya terdapat empat perempuan penting: N.A Masturah Seman Said Harun, ibunya sendiri, F. Somer, Katya, dan Aling. Kita mulai saja dari ibunya.

“Itulah kalau kau mau watak ibumu! Keras seperti kawat! Aku marah besar” (Edensor, h. 15).

Kalimat di atas merupakan cerita Mak Birah, bidan desa yang membantu kelahirannya. Mak Birah tahu kalau ibu Ikal sudah sampai waktunya untuk melahirkan bahkan ketubannya sudah pecah, tapi sayang ibu Ikal masih tak mau mengejan. Dibujuk tak mempan, dirayu tak peduli, bahkan ketika Mak Birah memarahi ibu Ikal, ia malah balik dibentak “Kau tunggu sampai jarum panjang lewat angka dua belas! Aku ingin anak ini lahir tanggal 24 Oktober!…”

Itulah sifat perempuan, ibu Andrea yang dikatakan keras seperti kawat, ia ingin melahirkan anaknya tepat tanggal 24 Oktober bersamaan dengan hari berdirinya Perserikatan Bangsa-bangsa. Artinya perempuan yang akan melahirkan Ikal itu, ingin anaknya menjadi juru damai. Ternyata watak keras dari sang Ibu diturunkan kepada Andrea sendiri, itulah yang dikatakan Weh kepadanya “Keras kepala! Mirip sekali ibumu!” (Edensor, h.3). Saking keras watak Ikal, ia memaksakan diri untuk ikut berlayar bersama Weh, tapi percuma saja bujukan ayahnya. Andrea menulis: Namun, semakin keras Ayah melarangku, semakin kuat inginku (Edensor, h. 5).  Adapun keinginan agar Ikal menjadi juru damai, ternyata menjadi ironi di masa kecilnya (Lihat Edensor h. 17-26).

Nampaknya sudah menjadi sunnatullah sifat orang tua menurun kepada anaknya, ketika perempuan yang telah melahirkan Ikal itu ingin memarahi Andrea dengan bersusah-payah perasaan itu ditahannya. Menurut Ikal, Aku tahu, sebenarnya Ibu ingin menghamburkan omelannya yang lebih tajam, tapi pasti ia merasa setiap kata yang ia semprotkan memantul lagi kepadanya (Edensor, h. 18-19).

Famke Sommers

Itulah cerita watak seorang ibu yang kemudian diwariskan kepada anaknya. Selanjutnya kita lanjutkan pembahasan kepada F. Somers, seorang perempuan yang dalam bayangan Andrea mirip ibu-ibu gemuk, atau lajang lapuk, pegawai tak penting, pengurus hal remeh temeh di bagian administrasi (Edensor, h. 51). Saking mengangkat remeh terhadap orang perempuan yang belum dikenalnya, Ikal memprediksi dari dua huruf “Ms”. Bahkan kesan pertama sebelum bertemu disebutkan; Suatu isyarat yang nyata, seperti bubungan tebal asap unggun Indian Cherokee, bahwa dirinya available, masih sendiri (Edensor, h. 51).  Dengan kata lain, Ikal barangkali ingin menyebutkan perempuan itu tidak laku atau jomblo, atau bujang lapuk. Luar biasa, kesan pertama yang kelak harus disadari Ikal sebagai kekeliruan besar. Kita tidak boleh menyimpulkan sifat seseorang baik dari fisik maupun secara kepribadian hanya melihat dari nama, sebelum bertemu langsung dengan orang yang bersangkutan. Barangkali itulah pesan moral yang ingin disampaikan Andrea.

Aku seakan menatap cover majalah Vogue (Edensor, h. 53). Begitulah gambaran kecantikan Famke Somers yang menyambut Ikal dan Arai di bandara Schippol. Secara rinci Andrea mendeskripsikan fisik Famke Isomer; Ia sangat jangkung, 180 senti mungkin. Atletis, padat berisi. Tubuhnya dibangun kerangka Kaukasia yang sempurna. Ia mengenakan shapely tank top. Perutnya kelihatan dan pasti dia sering situ p. Rambutnya berantakan, pirang menyala-nyala. Bahkan Ikal menyebutnya sebagai wanita bule yang jelita (Endensor, h. 53). Tak tanggung, Ikal memetaforakan bola mata Famke sebagai biru langit, bukan, lebih indah, biru buah ganitri muda (Edensor, h. 53). Seperti dalam komedi putar saja, pada mulanya Ikal menganggap Somers sebagai perempuan biasa barangkali di posisi terendah. Kini setelah berhadapan dengan orangnya, ia melihat Somers sedang berada di puncak komedi putar.

Kini, Ikal betul-betul menyesali semua penilaiannya terhadap Somers, ia pun mengakui: Ya Tuhan, inilah Ms. F. Somers yang kusangka ibu-ibu gendut petugas administrasi itu. Sekarang, terus terang aku gugup karena ia cantik tak kepalang tanggung (Edensor, h. 54).

Katya

Kalau Famke Sommers adalah perempuan yang ia kagumi dan pertama kali dijumpainya di bandara. Adapun Katya adalah gadis Jerman yang menjadi rebutan di kampusnya (Lihat Edensor, h. 112), sedangkan Andrea sendiri rupanya sadar diri, meskipun ia mengagumi Katya, tapi dia tidak ikut dalam upaya memperebutkannya. Secara jujur Ikal mengakui: Dari seluruh kemungkinan logis ketertarikan pria wanita secara fisik, materialistik, filosofik, idealisme, kultur, ekspektasi, kemistri, gengsi, atau apa pun, tak secuil pun aku memenuhi kualifikasi Katya (Edensor, h. 113). Pengakuan ini seakan tertutup semua kemungkinan menjadi daya tarik dirinya agar disukai Katya, artinya Andrea tidak mempunyai apapun yang bisa dijadikan modal seorang laki-laki untuk menarik perhatian lawan jenisnya.

Katya, ibarat kolak menjelang buka puasa, ia godaan terbesar di Universiter de Paris, Sorbonne (Edensor, h. 112). Andrea memilih kolak untuk memetaforkan daya tarik Katya, barangkali karena merupakan salah satu jenis makanan yang paling dicari orang di bulan puasa, setidaknya ada kemungkinan Ikal sendiri senang makan kolak.  Dari berbagai pria yang mencoba dekat dengannya, melalui rayuan, bujukan, tipu muslihat Katya tak bisa ditaklukkan.

Satu bab Andrea menceritakan upaya teman-temannya untuk mendapatkan Katya, tapi semua upaya itu gagal (lihat Edensor, mozaik 20). Sehingga pada bab berikutnya Ikal menulis: Katya masih seperti pulau karang tak bertuan di perairan Pasifik; indah diperebutkan, tapi tak dimiliki siapapun (Edensor, h.124). Dalam kehidupan ini, terutama bagi orang yang mampu selalu ingin memiliki tempat khusus seperti pulau, maka Katya diumpamakan sebagaimana pulau, tapi pulau yang sulit dijangkau karena pulau karang di tengah lautan luas. Perebutan semakin merambat dengan diikuti mahasiswa lain, tapi Katya tak bergeming sama sekali. Semakin kokoh Katya, semakin tertarik orang untuk merebutkannya yang tidak hanya untuk menjadi milik sendiri juga menjadi kebanggaan terhadap orang lain jika mendapatkan sesuatu yang menjadi rebutan. Kini ia ibarat lotere, bahkan mahasiswa dari jurusan lainpun ikut berlomba (Edensor, h. 123). Lotere memang membuat orang penasaran, jika salah menebak, bukannya jera malah orang semakin penasaran dan tertantang untuk mendapatkannya. Itulah perumpamaan Katya.

Nah, karena Ikal tak berdaya dan pembaca Edensor pun barangkali kasihan akan nasibnya menjadi orang yang tak berdaya, tak ikut menjadi kontestan merebutkan Katya apalagi jika membaca Katya sudah menemukan pilihannya. Sudah tentu sang pilihan itu pemuda ganteng, kaya, atau keturunan bangsawan. Ternyata orang yang disukai Katya adalah Ikal sendiri, dan ia pun tidak percaya sehingga membayangkan:

Aku merasa ada pipa dipelesakkan dalam mulutku dan helium dipompa ke dalam rongga dadaku, aku melayang-layang seperti balon gas, menyundul-nyundul plafon (Edensor, h. 124). Ikal mengambil metafora helium, nama gas yang ringan untuk membuat balon bisa terbang. Dengan helium itu pula orang bisa terbang dengan balon raksasa. Kebahagian bisa terbang, atau lebih tepatnya Ikal merasa melayang ketika tahu Katya suka padanya. Apalagi setelah ia mencoba menginformasi ulang kepada Katya, Ikal mendapatkan jawaban “Definitely, it’s for you” (Edensor, h. 125). Dari ragu-ragu saja, ia sudah merasa dimasukkan Helium ke dalam tubuhnya dan terbang. Ketika keraguan itu menjadi keyakinan, Ikal menggambarkan: Sekarang helium yang memenuhi rongga dadaku meledak dan aku pecah menjadi ribuan kuntum mawar, berjatuhan dari plafon, bertaburan memenuhi perpustakaan (Edensor, h. 125). Dengan metafora itu, Ikal merelakan dirinya “meledak” karena mendapatkan kepastian dirinya dicintai sang gadis rebutan, tapi kata “meledak” itu adalah kebahagiaan sebab akibatnya Andrea berubah menjadi ribuan kuntum mawar.

Akhirnya, usailah perebutan Katya, dan Ikal sudah memiliki kolak atau pulau karang di perairan Pasifik itu. Namun, cintanya pada A Ling ternyata tak bisa dihapuskan oleh Katya. Ia melihat cinta A Ling padanya adalah sastra, sedangkan cinta Katya adalah kemistri (Edensor, h. 158). Barangkali karena itulah Ikal menyebutkan, Katya bak buah khuldi yang ranum (Edensor, h. 158). Barangkali Ikal sadar sejarah buah khuldi, gara-gara nabi Adam memakannya maka dikeluarkanlah manusia pertama itu dari Sorga. Atas kesadaran seperti itulah, Ikal mengambil pelajaran cinta. Andrea memutuskan hubungannya dengan Katya, kembali kepada status awal yakni bersahabat.

A Ling

Saya yakin proses penulisan dan proses kreatif tetralogi Laskar Pelangi salahsatunya karena cinta Ikal pada Aling. Di sini Ikal tidak memetaforakan Aling, tetapi ia memetaforakan perasaannya terhadap A Ling.

Ketika pertama kali melihatnya, melihat paras kukunya, lebih tepatnya, aku merasa dipeluk arus Sungai Lenggang, berenang bersama lumba-lumba, dijemput jutaan kunang-kunang, lalu diterbangkan menuju bintang (Edensor, h. 30). Pada kalimat ini Andrea ingin mempertemukan dua dunia; atas dan bawah. Dunia sungai Lenggang dengan binatang budiman yang selalu menolong orang di laut yakni lumba-lumba, kemudian ia terbang ke dunia atas. Jutaan kunang-kunang menjadi lambang keindahan di malam hari, puncak keindahan itu adalah terbang menuju bintang. Cinta memang membuat semuanya menjadi indah.

Cinta A Ling menimbulkan perasaan seperti aku baru pandai naik sepeda. Ia seperti kembang api, seperti pasar malam, seperti lebaran. Cintanya mengajakku menulis puisi … (Edensor, h. 158). Ada tiga metafora tentang A Ling: Seperti aku baru pandai naik sepeda. Saya teringat ketika belajar naik sepeda waktu kecil, sering jatuh bangun, tertabrak pagar, jungkir balik dan sungguh menderita. Namun, penderitaan itu berbuah menjadi bahagia ketika sudah bisa mengendarai sepeda. Baru pandai naik sepeda adalah kebahagiaan luar biasa, setiap hari bersepeda kemana-mana dengan tak kenal lelah dan seperti itulah cinta Ikal pada Aling.

Seperti kembang api, ini metafora kebahagiaan anak-anak melihat kembang api menyala-nyala di malam tahun baru dan malam lebaran. Cahaya gemerlap indah ketika menjulang ke angkasa. Cinta Ikal pada A Ling sungguh gemerlapan menerangi cakrawala jiwanya. Seperti pasar malam. Suasana malam yang diterangi lampu berwarna-warni ketika orang berbelanja memberikan kebahagiaan yang khas kepada para pengunjung pasar. Metafora ini terlihat sembarangan, tapi barangkali dilatar belakangi janji pertemuan Ikal dengan Aling ketika pasar malam. Jadilah pasar malam menempati momen istimewa dalam memori cintanya.

Seperti Lebaran. Inilah cinta yang dimiliki banyak orang, tak peduli miskin atau kaya, tua atau muda, pejabat atau penjahat. Lihat saja momen lebaran di tanah air, orang berbondong kembali ke kampung tersedot dalam pusaran rindu tak terperi kepada tanah kelahiran. Menjelang lebaran jalan raya sesak dengan pengendara yang sedang mudik, puncak lebaran ibukota yang ingar bingar menjadi sepi seperti kota hantu. Saya kira seperti lebaran adalah puncak tertinggi dari metafora cinta Ikal kepada A Ling, karena lebaran menjadi magnet luar biasa agar orang kembali kepada tempat dan orang-orang yang dicintai yang berada di kampung halaman.

Penutup

Begitulah pergaulan dan pengalaman Andrea “Ikal” Hirata yang bisa kita baca melalui Edensor. Kita menikmatinya melalui berbagai macam metafora yang melekat pada perempuan. Pada dasarnya metafora itu juga terdapat banyak dalam semua novelnya dan tidak terbatas pada perempuan, tapi dengan pilihan sesuatu yang menjadi metaforanya terhadap perempuan barangkali kita bisa mengetahui bagaimana pandangannya terhadap perempuan itu sendiri. Benarlah kata Prof. Sapardi Djoko Damono, guru besar sastra Universitas Indonesia, sebagai metafora yang berani, tak biasa, tak terduga, kadang kala ngawur, namun amat memikat (Edensor, h. 291). 


Responses

  1. Komentar dulu baru baca

    He…he…

  2. kompas manunggui..kirim

  3. menarik… menarik… catatan yang menarik. cermat.

    Terima kasih

  4. komentar dulu juga ah.. baru baca… abis panjang banget.. tp penasaran… kyaknya ulasasan bagus tuh..

  5. Wew…
    Renungan-nya panjang…. dan lama


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: