Posted by: danummurik | November 13, 2008

Mereka yang Telah Berpulang

Jika orang terdekat kita ternyata lebih dahulu menghadap Yang Maha Kuasa, kenangan kita saat hidup bersamanya sewaktu-waktu bisa muncul seketika. Kenangan itu akan menggugah pikiran dan perasaan kita menjadi bercampur aduk, apalagi jika seakan-akan dia terlihat seperti masih hidup. Barangkali kita secara tiba-tiba saja melihat foto mereka yang telah berpulang, atau melalui video yang menghasilkan suara dan gambar bergerak, seketika itu pula pikiran kita akan tersedot dalam kenangan. Perasaan pun menjadi sedih karena kita tidak akan bisa bertemu lagi di dunia yang fana ini.

Aku memberanikan diri untuk membuat dokumentasi perkawinan melalui sebuah handycam, kemudian hasil film atau video dokumentasi tersebut diserahkan dalam bentuk vcd (video compact disk). Salah seorang keluargaku menerima tawaran itu, jadilah aku kameraman amatir yang mengabadikan acara perkawinan. Dari hasil dokumentasi yang kuserahkan melalui VCD itu, nampak mereka sangat bahagia bisa menonton dirinya dalam televisi. Kini, kami tidak hanya menonton artis/selebritis; penyanyi dan bintang film, atau para pejabat di televisi. Sekarang kami bisa menjadi artis dan selebritis atau pejabat itu, sebagai aktor utamanya tentu adalah sepasang pengantin.

Dokumentasi perkawinan tidak lagi mengandalkan puluhan bahkan ratusan foto yang disimpan dalam album, tapi melalui sebuah VCD yang bisa dilihat tayangannya di televisi. Berbahagialah pasangan pengantin menyaksikan perkawinan mereka, berbahagia pula anggota keluarga ketika menonton bersama. Apalagi mereka yang juga ikut terekam dalam perkawinan tersebut. Anak-anak berteriak menunjukkan tangannya melihat gambar hidup mereka dalam televisi, orang tua tersenyum senang melihat diri mereka juga hadir dalam televisi itu.

Namun, waktu yang berlalu terus. Di kehidupan nyata berbagai peristiwa terjadi, ada salah satu anggota keluarga kita yang meninggal dunia. Ketika memutar VCD perkawinan itu kembali dan tampak mereka tersenyum riang, hati menjadi sedih karena mereka telah tiada.

Di rumah pamanku pada suatu malam, aku ikut menonton kembali hasil VCD dokumentasi perkawinan yang aku buat beberapa tahun lalu. Selain paman dan bibiku, ada kedua orang anaknya kemudian nimayang (nenek:saudara kakek atau orang tua bibi) yang ikut menonton bersama kami. Beliau duduk di atas kursi, sedangkan kami duduk di lantai di barisan depan. Kali ini bukan pesta perkawinan yang ingin disaksikan, kami ingin melihat kembali orang-orang tua yang telah meninggal dan ada dalam tayangan video itu

Nimayang menunjuk kepada dua orang nenek yang seusia beliau dan telah meninggal dunia, mereka berdiri berjejer sejajar di barisan berdirinya para pengantin. “Mereka sudah berpulang mendahului kita” kata beliau. Kami hanya terdiam mengiyakan. Aku sedih melihat mendiang pamanku, meskipun dalam televisi itu beliau sedang tertawa bahagia, tapi kini orangnya telah tiada. Beliau meninggal dalam usia yang tidak terlalu tua. Orang-orang yang telah meninggal itu, terasa menjadi hidup ketika kita melihat mereka dalam televisi. Kita merasa dekat, tapi mereka tidak bisa digapai. Mereka sudah berada di kehidupan yang lain.

Sebelum pemutaran VCD selesai, aku pamit terlebih dahulu karena masih ada acara lain. Waktu terus berlalu, malam makin larut, waktu terus berlalu. Di ufuk timur fajar menyingsing. Siang hari itu di kampungku, penduduk sedang bergotong royong untuk menyiapkan masakan dalam rangka selamatan salah satu anggota keluarga yang akan pergi haji. Di langit awan mendung, sore hari hujan turun. Di rumah, aku berkumpul bersama keluarga berbicara dan bercengkerama. Tiba-tiba terdengar teriakan dari luar, bibi yang tadi malam bersamanya menonton VCD perkawinan memanggil nimayang kalau ada bersama kami.

Beliau menangis karena nimayang, ibundanya, tidak bersama kami padahal sudah dicari ke mana-mana. Di luar rumah udara basah, pencarian nimayang terus dilakukan. Kami berdiam diri di rumah, mungkin karena menurut sepupuku sudah biasa nimayang tidak ada dan akan kembali lagi ke rumahnya. Tiba-tiba suasana berubah, terdengar teriakan sedih dari luar. Orang-orang kampung berkumpul di depan rumah pamanku, kami segera berlari ke sana. Aku terhenyak mendapati nimayangku dengan basah kuyup terbujur kaku dalam pelukan bibiku.

Nimayang ditemukan dalam air dalam keadaan tidak sadar, yang entah sudah berapa lama. Ketika kami memompa air di perutnya, tidak ada air yang keluar dari mulutnya. Menurut bidan desa yang memeriksa, nimayang sudah tiada. Barangkali beliau sudah menghembuskan nafas terakhir ketika di atas dan kemudian jatuh ke dalam air.

Hujan dari atas langit mulai reda, tapi berganti hujan air mata. Hari itu kami berkabung. Kematian begitu tiba-tiba merenggut nyawa manusia. Padahal, tadi malam bersama nimayang, kami menonton video perkawinan. Kami melihat orang-orang yang mendahului kami menghadap Sang Pencipta. Sekarang secara tiba-tiba nimayang pun menyusul mereka, tapi kami belum siap memutar kembali VCD itu karena nimayang ada di dalamnya.


Responses

  1. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un

    moga tabah dan sabar ya mas.

  2. innalillah,,yaku be tkajut,maka pas handak buli te sdin handak hasupa auh uma ulun,

  3. TERIMAKASIH ATAS INFORMASI DAN TULISANNYA, CUKUP BERMANFAAT BUAT BACAAN/REFRENSI UNTUK REGENERASI. KUNJUNGI JUGA SEMUA TENTANG PAKPAK DAN UPDATE BERITA-BERITA DARI KABUPATEN PAKPAK BHARAT DI GETA_PAKPAK.COM http://boeangsaoet.wordpress.com

    Terima kasih atas komentar dan promosinya. Salam persahabatan dari bumi tanah Kalimantan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: