Posted by: danummurik | July 25, 2008

Pisang Goreng Nasib Bangsa Indonesia

Bisakah melihat nasib bangsa Indonesia hanya dengan melihat pisang goreng? Kalau hal tersebut ditanyakan kepada saya, maka jawabannya adalah “Ya.” Mungkin saya terkesan mengada-ada, tapi saya sangat serius untuk hal ini. Jika kita menelusuri bahan dasar pisang goreng; pisang, tepung, gula, minyak goreng, minyak tanah untuk menghidupkan kompor semuanya sangat berhubungan dengan keperluan sembako.

Tahun 1997 ketika masa-masa kuliah, setiap sore pulang dari kampus saya selalu menikmati pisang goreng bersama teman-teman. Cukup dengan mengantongi uang Rp. 500,- setidaknya bisa untuk mentraktir satu orang teman. Satu gelas air teh waktu itu harganya masih Rp. 50,- dan satu biji pisang goreng juga Rp. 50,- jadi tidak sampai Rp. 500,- atau sekitar Rp. 200,- kita sudah kenyang minum teh dan tiga biji pisang goreng. Sekarang mari kita amati perkembangan bangsa Indonesia melalui pisang goreng itu, kita ambil tahun 1997 sebagai tolak ukur permulaan.

Satu biji pisang goreng waktu itu berukuran cukup besar atau seukuran satu buah pisang itu juga, tapi dipenghujung tahun 1997 bangsa Indonesia mulai ditiup angin krisis moneter dan harga barang mulai naik. Pisang goreng mulai berevolusi dengan harga tetap, tapi ukurannya mulai berubah untuk menyusaikan harga yang mulai naik. Oleh pembuat/penjual pisang goreng, pisang sebagai bahan dasar dikurangi seperempat artinya pisang goreng mulai mengecil. Kemudian suhu politik nasional mulai memanas, harga-harga barang mulai naik akibat terjadi letupan-letupan massa di beberapa kota dari dunia maju rentenir IMF datang untuk menawarkan perbaikan ekonomi. Ternyata pucuk dicinta, ulam tak tiba, Indonesia mengalami masa genting di tahun 1998 yang kemudian menyusul dengan mundurnya penguasa 32 tahun negara Indonesia yakni Presiden Soeharto. Lantas apa yang terjadi dengan pisang goreng? Dengan bentuk yang sudah berkurang seperempat, harga pisang goreng dan segelas teh naik dengan kecepatan tinggi dari Rp. 50,- ke Rp. 150,- kemudian diiringi dengan perubahan bentuk yang kembali mengecil. Sayangnya masa reformasi yang mengembali hak-hak dan kebebasan warga untuk berekspresi tidak bisa turut mengembalikan bentuk dan harga pisang goreng seperti semula.

Akhirnya pisang dipotong separo oleh pembuatnya dan pisang goreng dengan harga Rp. 200,- per biji, sekarang di zaman SBY-JK pemerintah telah dua kali menaikkan harga BBM dan pisang goreng pun ikut naik dengan kisaran harga Rp. 250,- hingga Rp. 300,- per biji. Jangan lupa bentuknya tidak lagi berevolusi namun mengalami revolusi karena pisang yang diambil tidak dipilih pisang yang besar tapi yang kecil saja dan dipotong separo.

Dengan demikian, kita bisa melihat perubahan bangsa ini dari pisang goreng, saya pernah menitipkan uang Rp. 3000,- untuk membeli pisang goreng sebagai menu rapat dan saya baru sadar uang itu tidak cukup untuk masa sekarang. Saya tidak bisa menggunakan uang dalam jumlah ribuan untuk membeli pisang goreng agar disantap 10 atau 15 orang, sekarang paling tidak perlu belasan atau puluhan ribu. Kini kita menjadi homo ekonomicos karena tidak bisa menggunakan uang Rp. 500,- untuk mengajak teman menikmati segelas teh dan pisang goreng, uang itu hanya untuk kita sendiri itupun belum tentu cukup. Selain pisang goreng, jenis goreng-gorengan lain bisa kita amati untuk mengetahui perkembangan bangsa. Saya masih ingat tempe goreng itu tebalnya sebesar telunjuk tangan orang dewasa, apabila didirikan tempe itu sanggup berdiri tegak tanpa ditahan. Sekarang tempe goreng sudah setipis bendera dan sekedar menipu mata pembeli oleh pembuatnya dikasih banyak tepung agar kelihatan besar.

Kini bangsa Indonesia memasuki tahap kampanye pemilu 2009, tidak muluk-muluk yang saya harapkan kepada siapapun yang menjabat sebagai pemimpin republik ini. Jika ia bisa mengembalikan pisang goreng seharga Rp.100,- biji dengan ukuran penuh satu biji pisang berarti ia telah menunjukkan kesuksesan memulihkan ekonomi bangsa Indonesia.


Responses

  1. Sudah 3 tahun aku hanya bermimpi makan pisang goreng (pisang kepok kuning/pisang lampung). Di sini hanya ada pisang ambon. Pasti kalo digoreng jadi benyek.

    Benar mba, jangankan di Prancis, saya di Jogja aja jarang makan pisang goreng. Ntar kalo ke Kalimantan ku puas-puasin makan pis-gor🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: