Posted by: danummurik | July 21, 2008

Pangeran Antasari dan Burung-burung Senja

“… Sebentar! Dengarkan!” katanya [ed. P. Antasari] sekonyong-konyong dengan tegang. Ia menggelengkan kepalanya pelan-pelan ke atas, seolah-olah ada suara lalu melintas yang diikutinya dengan pandangan. Ia, berdiri, melangkah ke jendela dan tegak memandang ke luar.

Cahaya senja di luar hinggap dan menyelubungi dirinya.

“Seperti senja kemarin … dan beberapa senja yang sudah-sudah …” bisiknya terpesona.

Gusti Mat Seman, Tumenggung Surapati, Kiai Demang Lehman dan Gusti Mat Said saling berpandangan tidak mengerti.

“Apa, Yah?” Tanya Gusti Mat Seman heran.

Keempatnya saling berpandangan heran.

“Kelepak sayap … burung-burung berbondong-bondong terbang pulang ke sarang…”

“Ti-dak,” Gusti Mat Said berkata dengan suara ganjil. “Saya tidak mendengar apa-apa,” lalu memandang Temenggung Surapati, Gusti Mat Seman, Ki Demang Lehman yang mereka jawab dengan gelengan kepala pula.

Gusti Mat Said bangkit memburu ke jendela, melihat ke luar.

“Sudah jauh berlalu…” kata ayahnya seraya menghela napas. “Sudah beberapa senja ini kuperhatikan. Mereka terbang melintas benteng ini … Anehnya … tidak ke utara …” katanya putus-putus.

“Mereka terbang ke mana?” Gusti Mat Seman bertanya dengan rasa ingin tahu.

“Ke arah matahari mati,” jawab orang tua itu. “Seolah mereka mempunyai sarang di sana …”

“Mungkin juga mereka mempunyai sarang di barat sana …” Kiai Demang Lehman turut berbicara.

“Mungkin … mungkin juga,” jawab Pangeran Antasari sangsi.

“Seumur hidupku belum pernah aku melihat jumlah burung sebesar ini. Setiap kali jumlahnya selalu bertambah dan bertambah .. Mereka terbang dalam kelompok besar. Kadang-kadang seolah-oleh merupakan sebuah banawa yang berlayar di langit senja yang muram … Atau dalam suatu perarakan panjang yang murung … Dan seekor terbang paling depan … pemimpinnyakah … adakah burung senja kemarin atau beberapa senja yang sudah-sudah? … Aku mempunyai suatu perasaan … semacam firasat … bahwa arah sana … mereka mempunyai sarang yang paling teduh untuk berlindung … suatu tempat tenteram … damai …”

Suasana dicengkeram kebisuan. Sesuatu yang ganjil menyelinap dan menyerang perasaan mereka berempat yang mendengarkan.

***

Dialog di atas saya kutip dari novel karangan Helius Sjamsuddin yang berjudul “Antasari” pada halaman 96-97. Helius ingin membawa pembaca masuk ke dalam suasana senja yang mencekam ketika terjadi percakapan antara Pangeran Antasari dengan  Gusti Mat Seman, Tumenggung Surapati, Kiai Demang Lehman dan Gusti Mat Said setelah terjadi peperangan melawan penjajah di Hulu Sungai Teweh, Kalimantan Tengah.

Pada bulan Oktober 1862 tengah berkecamuk perang melawan Belanda di Hulu Sungai Teweh, waktu itu Pangeran Antasari sedang jatuh sakit dan ia hanya bisa memandang pertempuran dari kejauhan. Dua orang putranya, Mat Said dan Mat Seman menjadi pengganti sementara kepemimpinannya melawan Belanda. Setelah peperangan usai dan kemenangan di pihak mereka, satu persatu berdatanganlah keempat orang tersebut menemui Pangeran Antasari mereka membicarakan perkembangan di berbagai daerah melakukan perlawanan terhadap Belanda. Ketika pembicaraan menjelang senja, sampailah mereka kepada suasana yang digambarkan di atas. Burung-burung yang terbang dalam rombongan yang besar menuju arah utara selama beberapa kali senja menarik perhatian Pangeran Antasari, “Ke arah matahari mati,” jawab orang tua itu. “Seolah mereka mempunyai sarang di sana …”

Bagi saya sendiri membaca dialog di atas, dan tentunya telah membaca halaman sebelumnya benar-benar membaca kepada suasana yang hening dan mencekam. Kemudian pembicaraan berubah topik dari perlawanan melawan Belanda ke pertanda burung-burung yang terbang beberapa senja itu. Surapati mengatakan suatu pertanda yang di luar jangkauan pikiran akal manusia untuk memahaminya, ia juga menjelaskan makna perlambang dari orang Dayak mengenai banawa yang kedua ujungnya menyerupai kepala dan ekor burung. Banawa ditafsirkan mengangkut arwah orang-orang yang telah meninggal (h. 98). “… Mungkin … Wallahu alam….” kata Surapati sambil mengangkat bahu karena memang tidak tahu apa yang seharusnya dikatakan lagi (h.99).

Hari kemudian semakin senja, semakin gelap yang dipecahkan oleh sayup-sayup suara azan. Semakin senja pula usia Pangeran Antasari.

***

Di bagian awal novel tersebut tidak dimunculkan langsung tokoh cerita, tapi kedatangan Sambang, putra Datu Aling yang pulang ke rumah dan di antar Mat Said, putra Pangeran Antasari. Di rumah Sambang, adiknya Saranti telah menunggu dengan penuh khawatir. Sambang memperkenalkan Saranti kepada Mat Said, yang langsung terkejut melihat kecantikan Saranti seolah Putri Junjung Buih benar adanya. Mat Said tidak bisa berlama-lama mengantarkan Sambang, ia kemudian pergi, tapi diam-diam kesannya terhadap Saranti mulai timbul. Ternyata Saranti pun demikian, apalagi setelah ia tahu nyawa kakaknya Sambang telah diselamatkan Mat Said.

Selanjutnya Datu Aling, ayah Sambang datang dari Margasari dan betapa rindunya ia berjumpa dengan Sambang. Namun, percakapan selanjutnya adalah perdebatan antara kedua ayah dan anak tersebut. Datu Aling adalah tokoh di Muning yang ribuan orang siap mendukungnya sekalipun mengorbankan nyawa, bahkan Datu Aling ingin merebut kekuasaan dari tangan Belanda maupun pihak kerajaan Banjar. Ia sendiri ingin menobatkan dirinya sebagai panembahan. Perdebatan antara ayah dan anak itu semakin keras tentang hakikat perjuangan melawan Belanda, semakin lama mereka berdebat akhirnya tersebutlah nama Pangeran Antasari. Diam-diam Datu Aling merasa sungkan, tapi ia berusaha menutupinya. Kemudian Sambang menyampaikan pesan Pangeran Antasari yang akan datang mengunjunginya dan mengajak berjuang bersama, semula Datu Aling menolak namun kedatangan Pangeran Antasari yang tepat waktu merubah segalanya.

Kedatangan Pangeran Antasari, ditemani kedua orang anaknya Mat Saidan dan Mat Seman, serta Jalil. Setelah saling memperkenalkan diri, yang lain kemudian berlalu pergi hingga tertinggal Pangeran Antasari dan Datu Aling. Datu Aling bertanya dengan penuh keraguan untuk apa perjuangan melawan Belanda, Pangeran Antasari kemudian menjelaskan dengan bijak bukan untuk kebesaran pribadi. Tersentuhlah hati Datu Aling mendengarkannya.

Mendengarkan itu lalu Datu Aling menertawakan dirinya.

“Saya pernah mengidamkan singgasana itu, Pangeran. Sekarang bagaimana saya dapat terus mengharapkannya, sedangkan Pangeran sendiri sebagai orang yang paling berhak tidak menghendakinya?! Sungguh saya merasa malu pada diri saya sendiri,” ia mengaku dengan jujur (h. 49) 

Setelah Datu Aling bergabung untuk berjuang bersama Pangeran Antasari, selanjutnya diceritakan kunjungan Pangeran Antasari ke rumah keponakannya Pangeran Hidayatullah yang merupakan pewaris kerajaan Banjar. Secara sembunyi-sembunyi Pangeran Antasari ditemani Mat Said menemui Pangeran Hidayatullah. Pertemuan keduanya membicarakan perlawanan melawan Belanda. Pangeran Antasari mengingingkan Pangeran Hidayatullah ikut terjun langsung ke medan perang, memimpin rakyat melawan Belanda, tapi ia menolak karena sudah begitu banyak darah ditumpahkan dan menghendaki melalui jalan perundingan. Sehingga terjadi perdebatan antara paman dengan keponakan. Berikut ini saya kutip:

“Kau boleh tidak tahu apa yang harus kaku katakan, tapi kau harus tahu apa yang harus kau lakukan. Dan itu cuma satu. Pimpinlah perjuangan ini!” desak Pangeran Antasari.

“Mengapa Paman masih terus juga mengharapkan supaya saya memimpinnya? …” kian terdesak.

“Karena kau adalah ahli waris yang sah kerajaan ini.”

Pangeran Hidayat berubah pahit.

“Saya tidak terlalu gembira dengan sebutan ahli waris yang sah karena saya tahu Paman pun berhak penuh atas kerajaan ini,” katanya jujur. “Saya tidak terlalu berterima kasih kepada leluhur saya yang menyebabkan saya mendapat kehormatan dengan sebutan putra mahkota, karena saya tahu mereka telah merebutnya dari datu-datu Paman.  Turun temurun keluarga Paman telah berjuang mengusir Kompeni. Sedangan saya? …” ia menggeleng-geleng. “Tidak, Paman. Mengapa tidak paman sendiri meneruskan pemimpinnya?!” (h.67)

Perdebatan terus berlangsung dengan sengit, Pangeran Antasari yang mengajak untuk berperang bahu membahu di tengah rakyat tapi Pangeran Hidayatullah tidak bergeming sedikit pun. Akhirnya perdebatan mereka tidak mencapai kata sepakat karena Mat Said yang berjaga-jaga di luar masuk dan memberi kabar bahwa Sultan Tamjidillah mendaki rumah itu. Atas saran Pangeran Hidayat, kembalilah Pangeran Antasari secara diam-diam sebelum bertemu dengan Sultan Tamjidillah yang berpihak pada Belanda.

Menarik membaca novel yang diterbitkan Balai Pustaka tahun 1993, sebuah novel yang diangkat dari sejarah kerajaan Banjar dan peperangan melawan Belanda dimana ada pihak kerajaan yang bersekutu dengan Belanda seperti Tamjidillah, ada pula yang memilih diam sebagai muslihat mengelabui Belanda seperti Pangeran Hidayatullah tapi juga ada yang terang-terangan melawan seperti Pangeran Antasari. Helius Sjamsuddin pandai menyusun dialog dalam novel sehingga terkesan hidup, dan menunjukkan situasi orang Banjar yang sebenarnya.

Begitulah pada akhirnya Pangeran Hidayat menyerah dan diasingkan ke Ciganjur pada tanggal 3 Maret 1862, sedangkan Pangeran Antasari memilih terus berjuang dan menghadapi peperangan demi peperangan dengan gagah berani yang membuat Belanda kewalahan. Basis medan laga perjuangannya dibantu pejuang lain terjadi dimana-mana, tapi Pangeran Antasari memilih hulu Barito sebagai tempat perlawanan. Suatu ketika sebuah kapal Belanda berhasil ditenggelamkan di hulu Barito, ini merupakan tamparan hebat bagi penjajah. Seakan tidak peduli dengan usianya yang semakin tua, perlawanan terus dikobarkan tapi semangat yang membara tidak sejalan dengan kondisi badannya yang sakit-sakitan.

***

Warna magrib merona di langit kejauhan.

Terdengar suara angin berhembus, melalui jendela menggerakkan segala sesuatu di dalam.

Di luar jendela nampak daun-daun berguguran.

…………

Pada tanggal 11 Oktober 1862 Pangeran Antasari wafat (Helius Sjamsuddin, Pangeran Antasari:99-100).

 

 


Responses

  1. mang kirim pang buku e akangku, hanyar beh katawang ku ada buku jikau nah….

    He…he… rugi mun hanyar katawan, coba ensek dengan Bang Budi eyei ada ba-isian kia.

  2. Diaku ne ada pang balajar manulis, sekitar 23 buting nang dimuat urang, paling banyak di bpost pang dan kabanyakan manyangkut sejarah banjar dan dayak.
    kapingin banar kam baisi novel nang dikisahakan tuh, kayapa yu caranya supaya kawa jua dapat?
    sanang lawan kakagumnya lawan inisiatif hampiyan mambungsulakan kisah pahlawan banua kita.
    salam kenal dan trus maju untuk kebaikan.
    trimakasih

    Novel itu ada pang baisi isinya menarik banar, tapi diinjam kawan masih balum dibulik-akan.

  3. boleh dong ketikin sejarah nya ad tugas nih,,

  4. Dimana kami bisa memperoleh novel tsb dan berapa harganya, kalau tidak lagi diperjualbelikan, tolong dipublishkan ebooknya, biar kami dapat menikmatinya, terus terang saya cemburu dengan novel2nya Langit Kresna Hariadi yang leluasa menceritakan sejarah kerajaan2 di Jawa lewat novelnya. Kenapa sastrawan di banua ini tidak meniru seperti itu ?.

  5. Tulisan syahrani, mulai hebat nih. Bisa2 nantinya blog ini jadi forum sastra dan budaya. Saya kangen dengan Kori layun Rampan jadi nya.

  6. Sdh cukup lama tahu tentang novel karya Helius Syamsudin itu, namun tak pernah memiliki bukunya dan baru kali ini baca cuplikannya. Terkesan isinya bagus sekali. Seandainya novel itu difilemkan, tentu akan sangat menarik….

    Iya benar. Novel itu dikemas dengan bahasa yang halus dan penuh simbol. Ketika kita membacanya seolah-olah menjadi bagian dalam cerita.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: