Posted by: danummurik | June 14, 2008

Sepatu, Juara dan Ujian

Sekarang sedang musim kelulusan sekolah, mengingatkanku kembali tentang masa sekolah di bangsu SD. Aku ingin punya sepatu bagus untuk ujian, jadi juara cerdas cermat, dan lulus ujian dengan menyedihkan karena teman-temanku ada yang tidak lulus dan mereka berhenti sekolah.

Aku hanyalah sedikit dari siswa yang beruntung berangkat ke sekolah dengan sepasang sepatu, kebiasaan kalau tidak ada sandal bertelanjang kakipun jadi pergi menuntut ilmu. Bapak guru waktu itu nampaknya tidak peduli dengan urusan sepatu, kami bisa sekolah saja sudah beruntung. Bayangkan saja murid-murid dalam satu kelas ada yang tidak sampai 10 orang, di kelasku saja cuma ada 6 orang. Kadang-kadang kalau musim panen padi, sekolah bisa menjadi sepi karena murid-murid ikut bekerja di sawah membantu orang tua. Setali dua uang, guru pun kadang-kadang telat masuk mengajar, ada yang pergi memancing ke sungai sebelum mengajar.

Jadi sepatu bukan urusan penting, kecuali pada saat ujian nanti kami mesti pakai sepatu. Meskipun sepatu tidak penting, setidaknya di kelas 5 SD adalah pengalaman pertama aku memakainya. Aku tidak hanya menikmati telapak kaki yang terasa empuk menjejakkan kaki di alas sepatu, jalan desa kami yang tidak beraspal alias tanah biasa memberikan bekas jejak telapak sepatu. Kupandangi jejak telapak sepatu itu, sungguh indah, membentuk semacam stempel. Di atas tanah bekas jejak sepatu, tercetak lobang-lobang sepatu bahkan nama sepatu. Ketika pergi ke sekolah, teman-teman mengelilingi aku untuk melihat sepatu baru itu. Bagi kami sepatu untuk sekolah adalah mimpi orang desa tentang kemewahan, beda dengan sekarang anak-anak kecil sejak sekolah TK sudah memakai sepatu.

Sepatuku tidak bisa bertahan hingga satu tahun, ia tidak sanggup menahan penderitaan karena kakiku memaksanya untuk bergerak ke hutan, bermain bola, dan sebagainya. Menginjak kelas 6 SD, orangtuaku terpaksa membeli sepasang sepatu untukku. Ternyata sepatu itu terlalu besar, apalah daya terpaksa kumasukkan kertas untuk mengganjal kaki supaya tidak terlalu longgar. Sepatu itu dengan penuh percaya diri kubawa ke ibukota kecamatan, waktu itu SD kami mendapat undangan lomba cerdas cermat antar sekolah dasar. Aku dengan dua orang teman dari kelas 6, menjadi wakil sekolah untuk adu kecerdasan dengan perwakilan murid SD sekecamatan.

“Perkenalkan regu D nama saya Nasrullah, didampingi sebelah kanan saya …”

“Suhartono”

“Dan didampingi sebelah kiri saya…”

“Hamdinoor”

Tanpa target kami ikut cerdas cermat, tapi dibabak penyisihan Hamdi teman di samping kiriku berbisik ,“Jawab saja meskipun tidak tepat, tokh kita dapat nilai juga, beda kalau babak rebutan kalaui salah jawab nilai akan dikurangi seratus.” Siasat temanku ada benarnya juga, menjelang babak rebutan kami memiliki nilai tertinggi. Malulah jagoan dari kecamatan, kalah angka dari kelompok kami yang datang dari daerah paling ujung kecamatan.

Akhirnya dibabak penyisihan kami masih memimpin, namun beda tipis dari regu B dari ibukota kecamatan. Pertanyaan terakhir, tidak ada yang berani menjawab, namun instinkku mengatakan jawaban itu adalah B. Apalagi Pak Camat sambil mengedipkan matanya kepada regu B, dengan nada tegas berkata “Ayo regu B jawab”. Kedipan mata itu nampaknya sebuah pertanda, namun temanku mencegah “Kalau kita salah jawab nilai kita akan dikurangi seratus itu bisa fatal, kalau tidak dijawab paling rendah kita menjadi juara 2. Itupun apabila ada regu lain yang bisa menjawab dengan tepat”.

Ah, tak terbayangkan kami juara dua, ikut cerdas cermat saja sudah bangga. Jadi juara, hebat betul sekolah kami. Segera saja aku membayangkan kalau dapat hadiah uang akan kubelikan sepatu, pengganti sepatu yang kebesaran ini, syukur-syukur kalau hadiahnya sepatu. “Ayo regu B jawab” teriak Pak Camat lagi, sambil mengedipkan mata. Merasa mendapat isyarat menguntungkan, seorang gadis di regu B mengacungkan tangan dan menjawab.

“Jawabannya B Pak.”

“Betul” kata dewan juri.

Bertepuk tanganlah semua penonton, terutama dari murid dan guru dari regu B, mereka merasa begitu lega. Aku dan teman-teman, cukup bangga sebagai juara dua. Begitulah setelah diumumkan siapa yang menjadi juara berdasarkan perolehan angka, lalu kami pun menanti hadiah yang diberikan. Bayangan saya seperti yang kulihat dalam televisi, kami bertiga disuruh maju dan menerima hadiah serta berjabat tangan dengan bapak camat.

Namun pengumuman dari panitia membuatku kaget, “Dengan berakhirnya acara ini, berakhir pula acara cerdas cermat. Untuk hadiahnya akan diberikan nanti setelah Bapak Camat pulang dari ibukota kabupaten”. Oh, kami pulang tanpa hadiah hanya bermodal kebanggaan meraih juara dua. Dalam perjalanan pulang, saya berfikir tentu hadiah itu akan diberikan melalui guru kami setelah berjumpa dengan bapak Camat.

Namun sampai aku berangkat ujian tidak ada hadiah yang dijanjikan, akupun terpaksa memakai sepatu yang kebesaran, namun lebih menyedihkan lagi, 2 orang temanku yang ikut mengharumkan nama baik sekolah, mereka termasuk 2 orang dari 3 orang teman yang tidak lulus SD. Padahal, selain prestasi kami, jumlah kami hanya 6 orang murid kelas 6. Kenapa hanya bisa lulus 3 orang dari 6 orang. Hatiku sedih, 3 orang temanku ternyata tidak mau ikut ujian tahun depan. Mereka memutuskan untuk berhenti sekolah. Kini, belasan tahun berlalu sudah berlalu, aku tahu hadiah itu bukan uang, bukan pulang sepatu karena hadiah itu hanya janji tinggal janji. Lebih menyedihkan lagi aku seperti tanaman liar, terlunta-lunta di rantau orang menuntut ilmu, dan pedih hatiku mengingat nasib temanku.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: