Posted by: danummurik | March 11, 2008

Seandainya Hidup Tanpa Hp

Saat ini hp sudah menjadi kebutuhan layaknya pakaian, karena komunikasi merupakan kebutuhan dasar manusia. Orang perlu berkomunikasi jarak jauh, maka orang membutuhkan sarana telekomunikasi yakni hp. Anak-anak yang lahir di masa sekarang, kemudian 15 atau 20 tahun ke depan, tentu mereka akan bingung bagaimana sulitnya orang berhubungan tanpa hp. Mereka akan sulit membayangkannya.

***

Murid-murid sekolah Dasar itu sedang berbaris dengan rapi, di depan mereka seorang juru foto mengambil ancang-ancang untuk memotret mereka. “Siap, siap” kata juru foto, sambil menentukan focus. Salah seorang siswa SD pada saat bersamaan merogoh kantongnya dan mengambil handphone (Hp), tangan mungilnya dengan cetakan memainkan menu hp ia mengklik “kirim ke banyak nomor”.

Ternyata ia mengirimkan ke nomor teman-temannya yang sedang berbaris, ramailah bunyi hp di barisan itu. Mereka menoleh ke sesamanya, saat itu kilatan blitz tustel juru foto menyambar mereka. Jadilah gambar yang tidak diinginkan oleh juru foto, sementara siswa itu tersenyum melihat foto ia dan teman-temannya yang riang gembira membuka hp masing-masing.

Cerita di atas merupakan adegan dari sebuah iklan di televisi, berupaya menunjukkan biaya murah mengirim sms melalui salah satu operator tertentu. Dewasa ini kita memang berada di tengah revolusi teknologi telekomunikasi, melalui media hp. Kita menyaksikan begitu cepatnya perubahan jenis, merek, fitur, tipe hp menampilkan keunggulan produk masing-masing. Perubahan begitu cepat (revolusi), dimulai dari mengirim pesan teks (pager), kemudian muncul hp pada mulanya sekedar berbicara dan mengirim sms, kini berbagai fungsi untuk mengecek uang di bank, mengirim gambar, mengirim suara, bahkan gambar bergerak. Bahkan dengan perang tarif provider saling berlomba menunjukkan pulsa mereka paling murah.

Sekarang hp telah menjadi barang kebutuhan seperti pakaian, bayangkan saja anda menjadi bingung apabila berada pada tempat yang tidak ada signalnya. Atau tiba-tiba batteray hp ngedrop, atau kehabisan pulsa tentu akan membuat kita panik. Namun, cobalah kita mengingat kembali sepuluh, sembilan atau delapan tahun lalu ketika hp belum ada atau belum banyak dipakai orang.

***

Sebelum hp ada, kalau ingin bertemu teman kita mesti mendatanginya dengan mengira-ngira orang tersebut berada di suatu tempat atau rumahnya. Ketika sekolah atau kuliah dulu, jadwal teman ada di kost tentu sepulang sekolah. Bila orang yang dicari tidak ada di kost berarti kemungkinan besar ada di lingkungan kampus. Kadang-kadang, di depan pintu ditulis “sedang pergi ke kampus” atau “saya pulang, besok balik”.

Pola komunal cenderung terjadi sebelum orang memiliki hp, misalnya pada saat menunggu kuliah. Kalau dosennya belum masuk, kita akan berkumpul di kelas dan mengobrol sambil menunggu dosen. Bila berjanji, sering berkumpul di kampus dulu sehingga kita bisa bertemu satu sama lainya. Persahabatan dalam suatu komunitas menjadi makin erat. Saya masih ingat, sambil menunggu dosen kita bisa saling bercerita bertukar fikir pengalaman masing-masing bahkan berlangsung lama hingga jenuh.

Hubungan jarak jauh surat menjadi penting sebagai alat komunikasi, terutama bagi anak-anak kost. Tulisan tangan mengandung makna lebih dalam dari pada tulisan melalui ketikan, lekukan huruf, tebal-tipis goresan, pilihan warna kertas mengandung simbol untuk dimaknai lebih dalam, bukan hanya sekedar isi teksnya saja. Apalagi untuk minta kiriman uang kepada orang tua.

Pola demikian, memang secara waktu terjadi pemborosan, namun menunggu kabar merupakan peristiwa tersendiri yang menegangkan. Kini adanya hp, orang dengan cepat mendapatkan kabar yang diinginkan. Tidak perlu lagi bergerombol di kampus menunggu dosen hadir atau tidak, tinggal menunggu kabar sms dari teman. Kalau ada baru berangkat, kalau tidak bisa melakukan hal lain.

Kemajuan teknologi telekomunikasi kita telah memotong waktu menjadi lebih efesien, namun tanpa disadari itu menghapus ruang dan waktu yang bernama “menunggu” sekaligus mengubah hidup sosial dari komunal menjadi privasi. Orang yang berjanji tidak perlu saling menunggu lama di suatu tempat, bila ingin bertemu tinggal saling berkirim sms menanyakan posisi masing- masing.

Dulu kita pernah hidup tanpa hp, sekarang di tangan kita tergenggam hp ibarat pisau bermata dua ia bisa digunakan untuk apa saja. Menggunakan hp sesuai fungsinya kita kan dapat kemudahan, salah penggunaan kita akan dapat kesusahan dan semuanya itu bermula terjadi di ujung jari-jari tangan kita.


Responses

  1. WOW TANPA HP …..
    HAMPA HIDUP TERASA MUNGKIN …
    HAL ITU MUNGKIN KALAU HIDUP DI TENGAH HUTAN …..
    SALAM KENAL JUGA BROOOOO…
    TRIMS ATAS KUNJUNGAANYA …..

    Terimakasih juga aku dikunjungi

  2. …. Kita pun tak jarang melihat orang-orang, yang meski duduk satu meja, tapi sibuk dengan HP-nya masing-masing. Tubuh mereka memang berada di satu tempat yang sama, tapi jiwa mereka sedang mengelana di suatu tempat lain entah di mana. Masing-masing sibuk dengan telepon genggamnya sendiri, yang satu mungkin sedang menelepon atau ditelepon, yang satu sedang kirim sms, yang satunya lagi main game, satunya lagi mungkin hanya buka-buka fitur HP-nya lantaran tak tahu mau ngapain alias bengong karena ketiga temannya sibuk dengan telepon genggamnya masing-masing. Maka jadilah pertemuan orang-orang di satu meja dengan HP di genggaman masing-masing itu bersifat abstrak; ada bersama-sama di satu tempat tapi tak jelas mengapa mereka bersama di tempat itu…

    Mereka hanya bertemu fisik, namun lamunan melayang entah kemana mungkin terbawa sinya hp🙂

  3. Namun, fungsi HP. Banyak menyalahgukannya. Bhkan, karena sms masuk atau HP lagi berdering membuat orang lupa akan kekhusyukan beribadah. Apalagi, asyik otak-atik main game, bisa lupa dengan sholat..

    Sebenarnya, maksimal penggunaan hp secara umum saat ini memang sebatas telpon dan sms an. Tapi memang tergantung kita memanfaatkannya, jadi ada dua pilihan manusia memanfaatkan hp atau hp (baca: produsen) yang memanfaatkan USER. Kalau yang suka otak-atik, meskipun orang dewasa saya jadi ingat bunyi iklan dulu “masih ada sifat kekanakan dalam diri kita”

  4. Aslkm..

    Tanpa hape ah..biasa2 aja….malahan jadi enak..nggak ada yg hubungi..hihihhi

    tapi kalo nggak ada Tuhan di hati kita waaaah baru berabe…

    Kalau kelamaan nggak ada yang menghubungi, jadi bikin kita yang menghubungi orang.
    …. dan Tuhan bersama kita.

  5. saya ngga butuh hp. kadang butuh juga ding
    tapi saya merasa hp ngga gitu penting bagi orang yang mobilitasnya minim macam saya. semurah daun kering sekalipun kalo ngga penting, ngapain, coba?

    Syukurlah, kita gunakan sesuatu sesuai dengan manfaatnya saja bukan karena merasa membutuhkan.

  6. Sewaktu aku masih kerja, aku sering tinggal itu Hp sama sekretarisku waktu week-end/cuti.

    Aku perlu bener-bener tenang melakukan acara liburanku.

    Sekarangpun sering lupa bawa Hp kalo bepergian. No problem.

    Semuanya tergantung kebutuhan kita kan? dan memang liburan akan benar-benar menyenangkan kalau tidak ada gangguan, termasuk bunyi hp

  7. waduh tanpa hape bg anak muda skrg kyak sayur tnpa garam,tp comment2 yg diatas bener jg, kumpul2 tp pd sbk ma hapenya sndr2.aneh kan??

    Kalau udah ngumpul sama teman-teman, bukannya saling ngobrol tapi asyik maen hp masing-masing🙂

  8. Sulit untuk meninggalkan hp harus mikir 2x untuk ninggalin’y..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: