Posted by: danummurik | March 8, 2008

Ketika Bapak Khatib Sedang Berkhotbah

Dalam satu minggu, kaum muslimin minimal sekali mendapat siraman rohani yakni pada hari Jumat. Sebelum shalat Jumat dilakukan seorang khatib naik ke atas mimbar dan menyampaikan khotbahnya, khotbah tersebut berisi puji-pujian kepada Allah SWT, dalam bentuk alhamdulillah, atau alhamdu. Kemudian khatib membaca shalawat kepada nabi Muhammad dengan menyebut nama beliau, selanjutnya berwasiat taqwa, membaca ayat Quran dan pada salah satu khotbah membaca doa untuk kaum muslimin dan muslimat. Dengan demikian, jelas kaum muslimin akan mendapatkan manfaat dari khotbah Jumat namun dalam prakteknya entah seberapa besar isi dari khotbah itu diterima oleh jemaah Jumat, karena bahkan sebaliknya mendengar khotbah Jumat hanya sekadar menjalankan kewajiban saja.

Jika kita amati dan datanglah ke beberapa masjid secara bergantian pada hari Jumat, memang ada khatib yang memberikan khotab secara jelas dan mudah dipahami oleh jemaah Jumat. Namun sering saya bertanya dalam hati terutama setelah khatib menyampaikan khotbahnya, apakah yang saya mengerti apa yang disampaikan beliau.

Inilah pengalaman saya, ketika mendengarkan khotbah Jumat, saya sering mendengarkan penyampaian khotbah dengan berbagai tema yang disampaikan dalam kesempatan yang sedemikian singkat. Praktis kita dibawa mengembara dari satu tema ke tema yang lain, misalnya khatib menyampaikan tema tentang jihad, belum tuntas masuk kepada tema taqwa, kemudian meloncat lagi ke tema tasawwuf, berbalik kepada fiqhm diselingi khatib menyinggung kalangan mahasiswa yang baru datang saat khotbah telah dimulai. Begitu berbelit-belit sering saya bingung jadinya.

Itu baru menyangkut materi, belum lagi masalah waktu, khatib kadang tidak memperhatikan alokasi waktu, karena terlalu banyak materi yang ingin dicurahkan. Waktu yang panjang dan khotbah tengah hari, apalagi misalnya masjid berada di terminal atau ketika orang sedang singgah dari perjalanan kadang membuyarkan konsentrasi jemaah sebab pikirannya akan terbagi dengan khotbah dan kekhawatiran ditinggalkan angkutan. Beruntung selama khotbah Jumat, jemaahnya hanya disuruhkan mendengarkan dengan saksama dan dilarang melakukan perbuatan yang sia-sia. Andai saja di forum bebas seperti dialog atau diskusi, tentu banyak mahasiswa angkat tangan untuk interupsi.

Materi bermacam-macam, waktu yang panjang ditambah lagi kemampuan vokal khatib tidak lantang meskipun menggunakan pengeras suara kadang-kadang sampai ditelinga jemaah Jumat secara lamat-lamat seperti mendengarkan suara dari kejauhan. Semua itu akan bercampur aduk menjadi satu, menyebabkan orang mengantuk. Sekarang konsentrasi terpecah, melawan kantuk dan fokus mendengarkan khotbah Jumat. Jika sudah demikian, khatib mesti menyadari bahwa benar secara verbal jamaah tidak boleh memprotes. Namun secara non-verbal, khatib mesti mengedarkan pandangannya kepada jamaah Jumat yang sedang duduk.

Saya sering mengamati, karena khotbah yang panjang dan bertele-tele, suara khatib yang seperti dari kejauhan. terdengar bergumam, menyebabkan banyak jamaah yang duduk, tubuhnya seperti pohon kelapa di tepi pantai bergoyang-goyang ditiup angin. Kadang kepala terangguk-angguk, mata kadang terpejam kadang terbuka. Mereka bukan mengerti, tapi menahan kantuk yang dahsyat. Inilah isyarat non-verbal sebagai protes yang tidak kuasa ditahan oleh Jamaah Jumat, apalagi misalnya kepala mereka sering menengok ke arah jarum jam itu menandakan sudah saatnya khotbah dihentikan.

Jika anda akan pergi shalat Jumat dan khawatir terjadi seperti pengalaman saya ini, sebaiknya antisipasi dilakukan. Pertama, Saya akan membaca koran, pada hari Jumat koran tertentu biasanya terdapat pengumuman khatib dan imam shalat Jumat. Saya akan melihat khatib dan imam favorite saya sedang berkhotbah di masjid mana. Jika jaraknya bisa saya tempuh, saya akan datang ke masjid tersebu. Kedua, jika tidak bisa. Luangkan waktu anda untuk menutup mata dan tidur sejenak sebelum berangkat ke masjid untuk shalat Jumat kemudian mandi. Itu akan menguatkan fisik melawan kantuk pada saat mendengarkan khotbah Jumat.

Bagi khatib, suasana demikian dalam khotbah Jumat tidak semestinya terjadi karena cukuplah menyederhanakan khotbah dan shalat Jumat.

Dari Jabir bin Samurah ra berkata: “Saya pernah shalat Jumat bersama Rasulullah saw, maka (lama) shalat dan khutbah beliau sederhana saja (tidak panjang dan tidak pendek)”. (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain Abu Wail ra menceritakan:

Dari Abu Wail Ra, katanya: “Ammar Ra pernah berkhutbah (Jumat) dihadapan kami, singkat tetapi padat. Ketika dia telah turun dari mimbar, kami berkata kepadanya: ‘Hai abu Yaqzhan, khutbah anda singkat dan padat. Alangkah baiknya kalau anda panjangkan sedikit lagi!’ Jawab Ammar: ‘Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: ‘Sesungguhnya barangsiapa yang lama shalatnya pendek khutbahnya, menandakan bahwa orang itu mengerti tentang agamanya. Karena itu panjangkanlah shalat dan pendekkan khutbah, karena sebagian dari khutbah itu adalah suhir (sugesti)”. (HR. Muslim)

Semoga kita semua mendapat berkah dari Allah SWT.


Responses

  1. Satu hal yang kadang kita lupakan dalam hidup, yakni “Apa sebenarnya urgensi kehidupan kita?” Jawabnya adalah tak lain dan tak bukan adalah PENGABDIAN KEPADA SANG KHALIQ (ALLAT SWT). Kalo hal itu sudah tertanam, maka apapun yang dilakukan, apa itu beribadah (Ibadah Jum’at), bermasyarakat ataupun bekerja, semua tidak ada masalah, tak akan lama dalam kegelisahan, tak terasa kecapaian, dsb… dsb..

    Anda benar, namun tentu Tuhan tidak mempersulit hambanya. Kita ingin beribadah tidak hanya sekedar kewajiban, namun juga sebagai hak hamba. Jadikanlah ibadah sebagai sesuatu yang menyenangkan, mudahkan urusan jangan persulit.

  2. Saya setuju dengan anda, bahwa Allah SWT tidak mempersulit hambanya.Karena Allah Jallalaluh Maha Mengetahui potensi sang hamba (Manusia). Olehnya sebab itu, jika kata “PENGABDIAN KEPADA SANG KHALIQ” benar-benar tertanam di jiwa kita, maka semuanya jadi enteng banget dech…
    Menjadikan ibadah sebagai sesuatu yang menyenangkan, jika dilandasi keinginan atau hasrat manusia, saya yakin TIDAK AKAN BISA… (kalo bisa dibilang omong doang atau bahan perdebatan atau penghias tulisan saja). Namun sejatinya Allah SWT yang menjadi hasrat dan tujuan, semua kehendaknya, tidak lain dan tidak bukan… dan perlu diingat, sangka-sangka hamba bisa dihiasi oleh nafsu yang menggoda, bahkan siasat syeitan semata…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: