Posted by: danummurik | February 29, 2008

Ayat-Ayat Cinta, Antara Novel dan Film

“maafkan bila ku tak sempurna
cinta ini tak mungkin ku cegah
ayat-ayat cinta bercerita
cintaku padamu
bila bahagia mulai menyentuh
seakan ku bisa hidup lebih lama
namun harus ku tinggalkan cinta
ketika ku bersujud” (Rossa, Ayat-ayat Cinta)

Sebelum film Ayat-Ayat Cinta yang diangkat dari novel Ayat-ayat Cinta ditayangkan, beberapa waktu lalu kometar dari film tersebut sudah muncul. Misalnya saja di http://hasanjunaidi.wordpress.com,

Komentar pemilik weblog “Tak ada karakter Tuan Boutros dan Yousef Boutros (Ayah dan adik Maria), padahal karakter ini cukup berpengaruh, sementara teman seflat Fahri cukup lengkap, bahkan menurutku mubadzir banget, itu tuh si Bimo ‘Jomblo’, Denis Adhiswara, niatnya ngelucu, tapi garing banget…!!!

Karakter Aisha terlihat terlalu glamour, terlalu emosional dan pencemburu… sorry to say, Rianti lebih terlihat seperti membawakan acara MTV, kaku banget… Coba lihat beberapa adegan Aisha yang terlalu manja ketika bersama Fahri… Aisha yang ‘lancang’ menjual komputer butut Fahri yang diceritakan sering ngadat, yang digantikan Aisha dengan Laptop mewah… Aisha yang merekam Fahri dengan Handycam, glamor de pokoknya… Bahkan ada adegan Aisha ngambek dan kabur dari rumah dan membiarkan Fahri dan Maria berdua.. dibawah ini gambar Aisha yang cemburu melihat Fahri bermesraan sama Maria, lihat deh matanya, gak ikhlas banget…”

Salah satu komentar pembacanya.

“emang yah, kl novel difilmkan jadi ga begitu bagus. Imajinasi kita yg terlanjur terbentuk ketika membaca terpaksa ‘dikotak2-an’ di filmnya”

Komentar saya dalam weblog itu

“Wah yang paling gak setuju baca komentar ini, tentu produser filmnya. Eh dapat dari mana film itu, padahal kalo gak salah belum tayang. ”

***

Atas dasar itu, saya ingin bertukar fikir tentang sebuah film yang diangkat dari cerita Novel. Apalah artinya sebuah film yang terilhami dari novel, apabila jalan cerita dalam film patuh kepada isi novel. Jika demikian terjadi, sutradaranya tidak ubah seperti seorang tukang terjemah saja. Film yang diangkat dari sebuah karya sastra, tanpa meninggalkan essensinya harus berani berimprovisasi.

Sebaiknya pembaca jangan terjebak, bahwa isi film itu sama dengan isi novel. Memang pembaca sering tidak bisa menghindarinya, hal tersebut karena pola pikir dan penilaiannya sudah didoktrin oleh novel yang ia baca. Padahal antara film dan novel menurut saya boleh saja beda, dan disitu letak kreatifitasnya. Yang tidak boleh hilang adalah essensi dan estetika dari film tersebut, kita harus memperhatikan simbol. Mungkin akan agak ketat jarak antara film yang diambil dengan sebuah karya tulis yang berasal dari latat-belakang sejarah, karena sesuatu yang benar terjadi adanya.

Dalam sebuah cerita yang disampaikan secara tertulis dalam novel misalnya, tentu harus kuat bermain kata-kata, diksi dan penuh metafora bahkan hiperbola untuk mendeskripsikan pesan yang ingin disampaikan. Sebuah novel untuk mendeskripsikan emosi, sedih, gembira dan bahagia hanya bisa dilakukan dengan tulisan, bahkan dalam ilustrasi foto pun belum memenuhi. Jadi kekuatan si penulis adalah bermain kata-kata.

Sebuah film mempunyai ruang yang berbeda, karena film memiliki dimensi suara dan gambar bergerak (mimik) atau audio visual, bahkan setting dimana kita menonton (bioskop atau televisi). Film tidak hanya disampaikan dengan kata-kata meskipun disitu salah satu kelebihannya, film harus kaya dengan isyarat non verbal. Saya membayangkan bagaimana adegan dalam novel misalnya konflik dalam bis ketika Fahri melerai orang Mesir yang memaki-maki perempuan Amerika, saya jua ingin melihat kekuatan simbol dimainkan ketika Maria menurunkan keranjangnya untuk Fahri. Bagaimana simbol keranjang itu menerjemahkan isyarat cinta dari seorang Maria, di sini keranjang merupakan perwakilan Maria untuk menyatakan cintanya, sebuah isyarat berbeda, selain “say with flower”. Dan masih banyak lagi yang harus dinilai. Yang jelas kehebatan sutradara tertantang untuk melihat sesuatu yang bahkan barangkali tidak menonjol dari isi novel, meskipun harus diakui karena novel laris duluan akan menjadi beban bagi sutradara agar film tersebut mendapat respon positif minimal sebanding dengan novel tersebut.

Setahu saya ada 2 novel best seller di Indonesia, Ayat-Ayat Cinta dan Laskar Pelangi cs. Bahkan kabarnya Laskar Pelangi juga akan difilmkan. Nah dengan membaca novel dan menonton filmnya, kita jadi mengetahui siapa yang tangguh, penulis novel atau sutradara film? Khusus Ayat-Ayat Cinta, apakah Habiburrahman El Shirazy sebagai penulis novel atau Hanung Bramantyo sang Sutradara. Jadi marilah kita saksikan keduanya, dengan membaca novel dan nonton filmnya. Syukur kita bisa membeli yang bukan bajakan. he…he…


Responses

  1. aku beli ayat2 cinta 2th lalu n kesan yang didapat waktu pertama baca “where can i find a man like fahri?” (coz i’m female perhaps:-)). sosok fahri demikian kuat pesonanya; prilaku, perspektif hidup, sisi religinya, juga kecerdasannya, almost perfect…
    lalu aisha, perempuan yang menginspirasi aku (n mungkin pembaca perempuan lain) untuk bisa lebih memandang cinta dari sudut berbeda, menemukan ikhlas..
    lalu masih ada lagi maria..
    karakter mereka yang begitu kuat mengisi imaji pembacalah yang membuat film ayat2 cinta menjadi perdebatan. memang seperti yang kamu bilang, seharusnya kita bisa membedakan antara sajian novel dan dalam film. hanya saja ketika esensi film tidak selaras dengan novel apalagi misi yang diemban di novel, rasanya wajar saja kalo menuai protes dari banyak pihak (termasuk temen2 akhwat di kantorku).
    kalo buat aku, meski sempat sedikit kecewa dengan pemilihan rianti sebagai aisha juga beberapa adegan yang seharusnya tidak perlu ada, namun film ini tetap sarat makna ditengah maraknya film produksi anak negeri yang temanya itu-itu saja.

    ps: thanks 4 testimonialnya ya pak:-D

    Orang punya pendapat berbeda, namun semoga bisa mengambil manfaatnya.

  2. Aku belum liat filmnya, baca bukunya sudah. Yang pasti, sampai sekarng belum ada niat nontonya. Entah nanti …

    Terserah aja bang,.. yang penting kita tetap menulis aja.

  3. nunggu pilem laskar pelangi nih. menuai kontroversi lagi gak ya?

    Iya nih, pengen juga nonton secepatnya. Ntar setelah laskar Pelangi barangkali ada film Laskar Cinta.. he…he..

  4. Aslkm..

    waah, semakin banyak update-an-nya pak?

    baca aja novelnya lebih menarik…….hehe

    Udah baca, emang menarik. Tapi tikungan peristiwanya tidak begitu tajam

  5. lagi-lagi soal cinta ya. eh dah pernah ke situs secret loves belum? bagus loh. ada linknya di blog ku

    Cinta, dimana-mana ada cinta. Weblogmu juga ada tentang Cinta kan?

  6. Sudah baca novelnya beberapa tahun yang lalu, dan sudah menonton filmnya. Yach..ternyata “kata” dan “pena” itu lebih tajam dari apapun🙂..filmya sih lumayan menghibur, pengambilan gambarnya juga bagus, tapi 1/2 sinetron dan 1/2 film..jadinya 1/2🙂

    Penilaian yang cerdas🙂

  7. saya mau nonton filmnya,tapi tidak pernah dapat tiket …

    Sabar aja Pak…

  8. Yang penting, kita tetap menempatkan novel dan film itu sebagai dua karya dengan dimensi berbeda. Sekali pun ada usaha untuk mengadaptasi novel ke dalam film, tetaplah tidak akan sesuai. Film punya keterbatasan menuangkan teks ke dalam bentuk visual. Maka itu, tetap kita berikan acungan jempol buat Kang Abik dan Hanung.

    Kita tunggu novel-novel yang akan difilmkan berikutnya!

    Tabik!

    Sepakat

  9. di jogja, saya nyoba nonton film ini lewat vcd rental. lantaran ingin nonton di bioskop, tapi sesampai di 21, antrian tiket sampe melebihi pintu masuk (halah, banyak alasan).

    sebelum nyewa vcd itu, saya sempet penasaran. karena saya sudah membaca novelnya.

    saya setel vcdnya. hmmmm, pelan-pelan mengikuti putaran keping vcd. agak hambar di awal. tapi akhirnya, awal yang hambar itu berubah jadi sedikit ada greget. emosi sempet terpancing di tengah-tengah.

    saya menunggu scene akhir, apakah sama dengan novelnya. jika ya, oh, begitu mengharukan. maria meninggal. tapi dasar vcd belum ori tuch!!! selama lebih dari satu jam, vcdnya berputar dengan baik. eh, tiba-tiba selesai. yeeeeeeeee! parah ni. ceritanya cuma sampai di bagian FAHRI menikahi MARIA. trus byar-pet. selesai. haha…. rentalan jogja, coy!

    saya masih penasaran. tapi dari yang sudah saya lihat, hasilnya lumayan. saya akan menebak, yang belum membaca novelnya, pasti terisak-isak menonton film ini. karena memang film ini berhasil menyalakan emosi penontonnya. tapi, mungkin yang terlalu mengharapkan film yang sama persis dengan novelnya, tanpa ada satu bagian pun yang terlewati, saya akan menebak, mereka kecewa.

    ya sudah lah, yang ada juga sudah lumayan bagus. makanya, lu lu pada beli novelnya sekalian!

    Setelah beli novelnya, dibaca ya… dan yang ori🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: