Posted by: danummurik | February 24, 2008

Ni Bawi ku, Perempuan Tangguh dan Penyayang

nenek.jpg

Cu… minta sedekah, kasiani saya cucu…” rayu seorang nenek dengan baju lusuh yang menghampiriku, ia berkata memelas minta kasihan. Kedua tangannya ditengahadahkan, siapa menerima uang pemberian berapa pun jumlahnya. Tidak sekali saya bertemu perempuan tua, atau nenek meminta-minta seperti itu, dimana-mana di setiap kota besar dan kecil selalu ada. Kadang kalau kita belum juga bereaksi, kalimat sakti lainnya siap diluncurkan dari mulutnya, “nenek, sudah lama tidak makan…” duh sedihnya, negeri agraris ini menderita kelaparan.

Memberikan sesuatu untuk orang yang benar-benar membutuhkan saya kira itu merupakan perbuatan manusiawi, apalagi Nabi bersabda tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Namun memberikan sesuatu untuk orang yang pekerjaannya mengharap pemberian, tentu harus kita pertimbangkan. Kadang saya iseng, selain menyerahkan uang kepada nenek-nenek itu sembari meminta doa. Ya barangkali saja orang dihadapan saya memang sedang kesusahan, orang demikian doanya akan cepat didengarkan Tuhan.

Ini uangnya nek.. tolong doakan pacar saya setia ya…”, nenek itu segera berlalu setelah saya berikan uang, namun respon atas permintaan saya agaknya terlambat tidak disampaikan langsung secara berhadapan. Barulah ketika nenek itu membalikkan badannya, sambil melangkah ia bergumam “… setia saja pacarmu, kalau kamu punya banyak uang”. Masya Allah, segitunya nenek itu, tega nian dia padaku atau karena salah ku sendiri karena memberikan uang recehan padanya. Mungkin beda tanggapannya kalau uang lembar puluhan ribu saya berikan.

***

Nenek peminta-minta itu, terus terang mengingatkan ku kepada ni bawi (“nenek” dalam bahasa Bakumpai) ku. Aku kemudian membandingkan ni bawiku, beliau orang yang saya anggap perempuan tangguh dan baik hati. Ni bawiku tangguh, karena tidak pernah meminta uang kepada kami cucunya apalagi kepada orang lain. Ni bawiku baik hati, karena justru beliaulah yang sering memberi uang pada cucu-cucunya.

Aku merasa beruntung karena punya ni bawi yang tangannya tidak berada di bawah, aku tahu beliau tangguh bukan berarti lebih kuat fisiknya dengan nenek peminta-minta itu. Lihat saja kaum pengemis sanggup berada di bawah terik matahari sepanjang hari, hanya untuk menengadahkan tanggannya meminta-minta. Ni bawiku mungkin tidak sekuat itu, tapi sekali lagi beliau tangguh luar biasa.

Ni bawi ku selalu bekerja, kadang beliau ikut menganyam tikar, menumbuk beras menjadi tepung, menimba air. Ni bawi ku perempuan pekerja keras, itu rahasianya. Kadang aku turun tangan membantu, kadang beliau mau bekerja sendiri, sebab orang yang sudah terbiasa bekerja sejak kecil akan merasa sakit bila berdiam diri terlalu lama.

Ni bawi ku bukan satu-satunya perempuan tangguh di kampungku, banyak nenek-nenek yang lebih dulu bangun pagi daripada anak muda termasuk aku. Sering aku bangun tidur lalu mencuci muka di pinggir sungai, kudengar riuh rendah suara mereka mengayuh jukung. “Kami mau pergi cari ikan” katanya, ketika aku tanya mau kemana. Mereka akan pulang sore hari, kemudian menjual ikannya pada pedagang.

Kadang kulihat ada yang membelah kayu sendiri, mereka hingga hari tua terus bekerja, meskipun anak cucunya berkecukupan. Ni bawi seperti ini adalah perempuan diusia senja yang tetap berwibawa, bukan hanya karena dari segi usia dan melahirkan orang tuaku. Ni bawiku tidak hanya sebatas itu, bahkan fungsi beliau nyaris seperti world bank yang memberikan bantuan kepada negara-negara miskin. Gaji pensiunan veteran yang beliau terima setiap bulan setelah kakekku meninggal dunia, merupakan penghasilan yang tidak diperuntukkan untuk beliau sendiri.

Ada kalanya pekerjaan orang di kampung mengalami masa paceklik, dengan murah hati ni bawi meminjamkan uang simpanan beliau (kadang diberi saja..he..he..). Jangan dianggap sepele penghasilan sehari-hari mereka, apalagi hanya mengayam tikar. Mereka tidak boros pengeluaran, kadang-kadang tikar anyaman mereka dikumpulkan hingga ratusan lembar jumlahnya, baru setelah perlu akan dijual.

Ni bawi ku hanya perempuan kampung biasa, tidak pernah mengenyam bangku pendidikan apalagi ilmu ekonomi, tapi praktek dalam mengelola keuangan sangat luar biasa. Lihat saja para sarjana, pegawai negeri, pengusaha, apalagi sarjana pengangguran hutangnya selalu ada. Ni bawi semakin tua semakin tangguh, ia lah aktor behind the scene sebenarnya menjadi penopang ekonomi keluarga.

Setiap aku pulang beliau selalu menyambutkan dengan bahagia, aku tidak mau didahului beliau, sering ku bawa kue atau oleh-oleh lainya untuk ni bawi dan anggota keluarga lainnya. Tapi tentu sebentar saja akan habis, justru ni bawi lah kalau selalu berjalan di kampung dan pulang ke rumah beliau membawa makanan. Kepada kami makanan itu dibagikan. Pemberian beliau jangan sekali-kali ditolak meskipun sanggup membeli seperti yang beliau beri, karena bagi ni bawi ku pemberian yang diterima oleh cucunya merupakan kebahagian luar bisa.

Sekali lagi aku bangga dengan ni bawi ku, beliau tetap tangguh di usia senja, berwibawa dan pemurah. I love You, my grand ma.. ni bawi ku.

 


Responses

  1. Pembukanya saja begitu menyentuh … Cu… minta sedekah, kasiani saya cucu…” dan penutupnya … I love You, my grand ma.. ni bawi ku. Sungguhmenyentuh.

    Wah saya tidak nyangka kalu tulisan ini menyentuh, terima kasih atas kesannya.

  2. Begitulah. Rasanya, nenek atau perempuan di kampung itu memang lebih tangguh dibanding yang tinggal di kota… Dan saya kira juga, orang kota memang manja-manja… hahaa…

    Sepakat Bos…. hidup Nenek di Kampung…

  3. Ya, memang sebaiknya semakin tua itu semakin bijaksana dan berwibawa. Salut.

    Kita perlu belajar dari orang tua, karena nantinya akan menjadi tua.

  4. Nenek yang seperti saya harapkan dan seperti nenek saya di Jogja, tapi kalo dijogja namanya Simbah Putri. Simbah Putri saya sangat baik sekali, beliau suka memberi apa saja kepada cucu-cucunya, hampir semua cucunya pasti disayanginya dan diperhatikannya…

    Salam untuk simbah Putri, tetap sehat dan penyayang.

  5. “tolong doakan pacar saya setia ya…”,
    sungguh do’a yang begitu menyentuh hati.

    Doa itu bisa dipakai oleh siapa saja.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: