Posted by: danummurik | February 18, 2008

Membaca, Kemudian Menulislah

Kebiasaan menulis dalam diri saya, setidaknya dirangsang oleh dua hal: ‘Dipaksa’ oleh dosen dan karena kegemaran membaca. Pertama, sewaktu kuliah di fakultas Dakwah IAIN Antasari Banjarmasin, dalam matakuliah tertentu kami diberikan rangsangan oleh dosen apabila tulisan kami dibuat oleh salah satu media cetak akan mendapatkan nilai A. Dari situlah mahasiswa bersemangat menulis, kemudian mengirimkan ke media massa, tulisan yang terbit dikliping dan diserahkan kepada dosen pengampu matakuliah bersangkutan.

Kedua, dan bagian ini menjadi pembahasan adalah kampus IAIN Antasari memiliki perpustakaan dengan berbagai macam koleksi buku serta diminati mahasiswa. Dalam dunia akademis, perpustakaan semestinya menjadi daya tarik bagi mahasiswa seperti mal, plasa atau pusat perbelanjaan yang menarik hati para pengunjung khususnya kaum terpelajar untuk belanja ilmu dan bertamasya intelektual, bukan menjadi tempat menyeramkan yang layak untuk dihindari.

Perpustakaan adalah jantung perguruan tinggi, seperti manusia kampus tidak akan hidup tanpa perpustakaan sebagai jantungnya” demikian diungkapkan oleh Prof. Aswadie Syukur, rektor IAIN Antasari ketika itu. Kalimat itu tidak hanya orasi sang Rektor, perpustakaan IAIN Antasari pernah terbakar dan mengubah sebagian besar koleksi buku yang tersedia menjadi abu namun setelah itu, tidak lama kemudian IAIN Antasari bangkit. Maka berdirilah perpustakaan kampus yang lebih megah, lengkap dengan koleksi berbagai macam buku.

Saya masih ingat perpustakaan kampus dulu (sebelum terbakar), tepat berada di depan fakultas Dakwah begitu banyaknya mahasiswa mengunjungi perpustakaan, menarik hati saya sebagai mahasiswa baru untuk melihat isinya. Kesempatan untuk masuk ke perpustakaan tidak hanya pada jam-jam kuliah saja, pihak kampus menerapkan kebijakan perpustakaan dibuka hingga malam hari. Begitulah diluar jam kuliah, saya bisa datang ke perpustakaan pada sore atau malam hari.

Selain buku-buku wajib dicari dalam acuan perkuliahan, iseng-iseng saya membaca buku tulisan Emha Ainun Nadjib (Emha), Jalaluddin Rakhmat (Kang Jalal), Amien Rais (Amien) dan Goenawan Muhammad (GM).

Menurut saya ini tulisan Emha itu aneh, kadang mistik saya merasa kembali ke masa lalu atau melompat ke masa depan, kadang menertawakan, mengkritik juga ada, bahkan banyak kritik. pokoknya menggelitik hati saya untuk terus membaca. Kalau tidak salah buku pertama saya baca berjudul Secangkir Kopi, tidak puas mencari satu buku saya cari karangan Emha yang lain. Beruntung kampus ini menyediakan keinginan saya, terbacalah buku lainnya seperti: (1) Duta Dari Masa Depan; (2) Sedang Tuhanpun “Berpuasa”; (3) Pilih Barokah atau Adzab Allah; (4) Mati Ketawa cara Saridin, Demokrasi Tolol; (5) Iblis Nusantara Dajjal Dunia; (5) Lautan Jilbab; (6) Budaya Tanding; (7) Markesot Bertutur Lagi.

Tulisan Emha membuat saya betul-betul kecanduan untuk terus membacanya, walaupun kadang ada kalimat-kalimat yang belum mengerti, saya tetap enjoy bertamasya menelusuri alam pikirannya. Selain buku-buku tersebut, saya merasa masih tidak cukup puas, akhirnya saya menjadi pemburu buku Emha di Pasar Hanyar dan toko-toko buku di Gang Penatu hingga Gramedia dan saya menemukan karya lain Emha, seperti: (1) Keranjang Sampah; (2) Titik Nadir Demokrasi, Kesunyian Manusia dalam Negara; (3) Ziarah Pemilu, Ziarah Politik, Ziarah Kebangsaan; (4) Jogja Indonesia Pulang Pergi. (5) Nasionalisme Muhammad.

Setamat kuliah di Fakultas Dakwah saya tetap mencari buku Emha, hingga mencari tulisannya di koran atau internet. Puncak kebahagiaan saya ketika bertemu langsung dengan penulisnya, kemudian saya menyodorkan bukunya Istriku Seribu. Emha memberikan kenangan berupa tulisan “Semoga Membuka Jendela Berkah” dan kemudian membubuhkan tanda tangan.

Di luar sadar saya, buku-buku itu menggelitik minat saya untuk menulis. Awalnya ketika saya menemukan kalimat-kalimat ‘aneh’ dan menarik, misalnya “saya diam-diam mengagumi bangsa yang besar ini, karena besarnya yang lain menjadi tidak terlihat”. kalimat itu penting bagi saya kemudian kalimat itu saya tulis tangan dalam buku. Saya kemudian mencoba memikirkan kalimat itu, bahkan mencoba menuliskan kalimat yang saya anggap mirip dengan pemahaman sendiri.

Selain karya Emha, tulisan Kang Jalal juga merangsang saya untuk menulis. Mengenal buku Kang Jalal, awalnya karena menulis buku-buku tentang teori Komunikasi karena kapasitas Kang Jalal sebagai pakar Komunikasi, buku-buku itu merupakan kebutuhan studi dari situlah saya membaca buku-bukunya yang lain. Perpustakaan kampus pulalah mempertemukan saya dengan buku Kang Jalal seperti; (1) Catatan Kang Jalal; (2) Islam Aktual; (3) Reformasi Sufistik Tidak puas hanya membaca dan meminjam di perpustakaan kalau ada uang saya cari dan beli buku-buku itu.

Tulisan Kang Jalal begitu runut, sistematis dan mudah membacanya, isi yang disampaikan menyentuh kesadarannya saya. Ada kalanya saya terharu, ketika kang Jalal bercerita tentang peristiwa di padang Karbala atau ketika sesama umat Islam saling berhadapan untuk bertempur. Salah seorang Sahabat ketika itu, menyatakan mereka yang berhadapan kita adalah sesama muslim namun berbeda keyakinan. Sama seperti tulisan Emha, kalimat-kalimat yang menggelitik itu saya kutip dan tulis kembali di buku termasuk buku Kang Jalal tentunya buku kepunyaan saya sendiri.

Di akhir studi saya di Fakultas Dakwah IAIN Antasari Banjarmasin, mahasiswa dituntut untuk menyusun skripsi. Kebetulan saat itu saya menjalani masa-masa reformasi, tokoh reformasi paling disebut namanya adalah Amien Rais. Langsung saja pilihan topik skripsi saya tentang Amien, khususnya mengkaji pemikirannya tentang Dakwah Islamiyah.

Kamu harus membaca buku-buku, artikel tulisan Amien ataupun karya orang lain tentang Amien Rais” begitulah kata Pak Syarbani Haira salah seorang dosen pembimbing skripsi saya. Buku Amien menjadi tuntutan dalam penggarapan skripsi saya, lagi-lagi perpustakaan kampus menyediakan kebutuhan buku-buku itu. Ketika membaca buku-buku Amien Rais sebut saja; (1) Cakrawala Islam: Antara Cinta dan Fakta; (2) Demi Kepentingan Bangsa; (3) Ijtihad dan Terobosan, Esai-Esai Reformasi; (4) Melangkah Karena Dipaksa Sejarah; (4) Tauhid Sosial Formula Menggempur Kesenjangan. Rupanya saya merasakan hal lebih, membaca tulisan Amien Rais, sama seperti membaca tulisan Emha dan Kang Jalal menjadi hobby saya.

Tulisan-tulisan Amien cukup tajam, menukik, mengiris, penuh kritik sosial. Kelebihan tulisan Amien, mungkin agak berlebihan tapi ketika membaca karyanya saya seperti berhadapan langsung dengan orangnya mirip ketika menonton ia berpidato atau dialog saat reformasi atau selama menjabat sebagai ketua MPR.

Baik tulisan Emha, Kang Jalal, Amien banyak memberikan inspirasi bagi saya, terutama karena mereka tajam memandang sesuatu sebagai kritik sosial apalagi dasar-dasar pijakan berfikir adalah dalil-dalil agama Islam.

Setelah tiga orang penulis itu, saya kemudian mengenal pemikiran Goenawan Muhammad (GM). Awalnya ketika tulisannya dalam kolom Catatan Pinggir, ternyata kumpulan essai GM telah dibukukan dalam Catatan Pinggir 1, Catatan Pinggir 2 dan seterusnya. Tulisan GM juga aneh, karena isinya seperti bergumam, ragu, mempertanyakan. Ia kaya akan bahan bacaan penunjang tulisannya, setiap peristiwa dilihat dari peristiwa lain. Saya ingat ketika pecah konflik antar etnis di Kalimatan Tengah, GM menulis di Catatan Pinggir Feng Hoang tentang pembantaian dan pemenggalan kepala di China pada masa lalu. Menelusuri pemikiran GM dalam catatan pinggir, terasa dibawa dalam berbagai tempat, susah ditebak dan diakhir tulisan mengandung kalimat penuh kejutan yang tidak disangka-sangka sebelumnya.

Terus terang membaca tulisan Emha Ainun Nadjib, Jalaluddin Rakhmat, Amien Rais dan Goenawan Muhammad banyak memberikan inspirasi, motivasi bahkan tuntunan dalam hal tulis menulis. Satu pertanyaan dalam diri saya ketika itu, bolehkah saya menuruti gaya menulis mereka. Karena kadang satu topik tulisan yang saya buat, mirip dengan struktur, gagasan, ataupun terinspirasi kalimat hingga judul yang berasal dari ide salah satu atau dari empat orang itu. Cukup lama pertanyaan itu mengendap, belum mendapatkan jawaban memuaskan hingga beberapa tahun kemudian.

 

***

Dalam sebuah perkuliahan di sebuah perguruan tinggi di negeri Belanda, “Kamu berdialog dengan siapa dalam membuat karya tulis ini?” tanya seorang guru besar Antropologi kepada seorang Mahasiswa yang tengah mengerjakan tugas akhirnya. Mahasiswa itu bingung, namun kemudian menjawab “Tidak, saya tidak mengerjakan dengan siapapun, saya menulis sendiri”.

Ternyata berdialog yang dikehendaki sang Maha Guru itu adalah agar mahasiswa memiliki sebuah karya tulis berhubungan dengan penelitian atau kajian yang sedang dilakukannya. Karya tulis itu tentu lebih berkualitas atau paling tidak bisa dianggap sejajar dengan kemampuan dia, dialog itu dilakukan dengan menelusuri karya tulis orang terdahulu sebagian acuan kemudian tentu saja dituntut kemampuan untuk mengkritisi dan mengimprovisasi acuan tersebut. Cara demikian diharapkan agar penulis lebih fokus, mutu tulisan nantinya tidak jauh tertinggal dari yang bahan acuan kalau perlu sejajar ataupun lebih dari hal tersebut.

Cerita di atas saya dapatkan ketika mengambil matakuliah Tafsir Kebudayaan diampu oleh Irwan Abdullah Guru Besar Antropologi. Tentu saja keterangan yang menyenangkan hati saya, karena sejalan dengan yang selama ini saya lakukan meskipun hanya berspekulasi. Saya telah membangun dialog dengan Emha Ainun Nadjib, Jalaluddin Rakhmat, Amien Rais dan Goenawan Muhammad. Luar biasa.

Bagaimana kalau meneliti dan menulis sesuatu yang benar-benar baru?” dengan terburu-buru saya menanyakan hal tersebut kepada seorang dosen ketika berlangsung perkuliahan di Antropologi UGM. “Kamu cari saja, tidak ada sesuatu yang benar-benar baru di bawah matahari ini. Coba sebutkan saja contohnya, akan saya dapatkan kajian seperti itu juga yang telah dilakukan orang sebelumnya” Tantang Sang Dosen.

Saya dan teman-teman tidak berkutik, ketika menyebutkan tema-tema khusus yang kami anggap benar-benar baru tidak diteliti orang. Ternyata selalu saja ada penelitian sebelumnya. Hal tersebut menyadarkan saya, agar membaca terus membaca sebanyak-banyaknya agar apa yang ditulis benar-benar menarik karena kita kaya akan data dari segi ide maupun gaya menulis bersumber dari bahan-bahan bacaan.

Oleh sebab itulah, sebuah tulisan menarik akan terlahir dari proses kerja keras dan bersusah payah. “Buku yang molek dan enak dibaca sesungguhnya dihasilkan oleh suatu proses yang sangat bertolak belakang: Bangun tengah malam, isolasi diri di ruang baca, jatuh sakit bahkan kehilangan orang-orang terdekat” (Abdullah, 2007). Sebaliknya sebuah karya tulis yang dibuat dengan mudah, lebih besar kemungkinan untuk susah dimengerti.

 


Responses

  1. Asl..udah berhasil usaha read more -nya kawan ?

    boleh liat blog di blogger nya?

    Belum bisa Bos, walaupun sudah saya coba

  2. Bagus, sebuah proses yang bagus; memang sih ada pepatah kuno, no new under the sun. Tapi, setiap kata yang kita tulis adalah baru sebarunya pikiran kita sebagai konsekuensi logis internalisasi. Menulis selalu membat yang baru. Kecali, kalau ngutip.

    Saya senang membaca postinganan ini. Pertanyaannya, kalau bekal untuk menulis sudah cukup, tetapi tidak menyulis dosa lho? Ya, karena investasi yang demikian susah payah didapat jadi hal sia-sia.

    Menulis, menulis, dan terus menulis. Bagaimana menurut Sampeyan?

    Ya, marilah menulis. Untuk diri pribadi saya, kiranya sudah dilakukan, sedang dan akan terus menulis.

  3. setuju banget pak , menulis itu emang harus dimotivasi dari diri sendiri
    menulis , menulis dan menulis
    silahkan mampir di tulisan ini
    makasih
    http://realylife.wordpress.com/2008/02/18/finally-aku-jadi-orang-biasa/

    Setuju. Mari kita menulis, untuk mengokohkan peradaban ummat manusia.

  4. Bicara tentang Amien, jadi ingat seorang temen di yogya pernah bilang “tuh pakde moe!”. Dengan sumringah, sejak saat itu aku pun mengklaim diri sebagai keponakan Amien:-D
    Seperti halnya kamu, membaca tulisannya memang menyenangkan. Sayangnya, saya merasa saya tidak begitu berbakat menulis Nas, paling berani juga bikin short story (yg kalo boleh nyombong, pernah dimuat sekali hehe).
    Emha, he’s my fav poem maker. dalam…menyentuh…berani… dengan alasan ini aku juga jadi suka Noe lho (anak beliau yang di Letto).
    oia, buat aku, tulisanmu sudah merepresentasikan dirimu koq, so…itu cukup khan?

    Terima kasih atas kunjungannya lagi, aku tidak tahu apakah tulisan itu merepresentasikan diri. Sebab mengenal jati-diri sendiri, apalagi sampai kepada refresentasi diri sungguh merupakan perjalanan amat panjang. Yang jelas aku akan menulis, menulis, terus menulis dan menulis lagi.

  5. Asl..kawan…coba yg ini

    http://edittag.blogspot.com/2006/11/blogger-read-more-on-beta-version.html

    atau yang ini

    http://kolom-tutorial.blogspot.com/2008/01/trik-mudah-membuat-more.html

    sy juga belajar dari sini mas….coba cari lagi di blog ini. ya thanks.

    Okey deh

  6. terima kasih sudah sering silaturahmi di blog saya
    tetap menulis hingga tak diizinkan untuk menulis

    Saya sudah mengalami dibenci pejabat karena nulis, tapi percayalah semakin dilarang mata pena ini akan makin tajam

  7. Membaca lalu mernungkan apa yang telah dibaca, kemudian menuliskan hasil perenungan itu… melalui rantai inilah peradapan dan budaya manusia dilahirkan dan dilanjutkan……

    Makasih mau mengunjungi blog saya dan atas komentarnya, bang Ogi

  8. siiip pamasn ae,, aken lagi manulis jua nah.tapi kada manujntung lagi./are ji inggawi lagi,,ma eyan mustagfirah be ida tapi kawa

    Are ji inggawi tapi kate-kate beh, dada kemajuan ei. En ikau tuh jaka ei mawe weblog kia.

  9. Dalam lingkup pekerjaaanku, yang lebih banyak operasional nya, ketemu klien, menganalisis, mempresentasikan, budaya menulisnya berbeda. Cara menulis nya adalah bahan hasil analisis, angka-angka, perkiraan untung rugi dan apakah suatu proyek akan feasible dengan berbagai skenario…dan dipresentasikan untuk mendapat persetujuan. Setelah itu, harus bisa diaplikasikan dilapangan. Tingkat keberhasilan adalah, bila yang kita kerjakan tadi, dilapangan bisa tercover jika terjadi risiko, dan menghasilkan keuntungan nyata.

    Sedang cara menulis lainnya, adalah menulis paper, untuk disampaikan dalam suatu presentasi ilmiah, atau untuk mendapatkan pengakuan, bahwa kita telah menemukan suatu sistem tertentu yang ada nilainya, yang lebih mempercepat proses, atau lebih built in control.

    Memang menjadi berbeda jika kita ingin menulis di blog atau di media yang pembacanya tak terbatas…walau setiap media telah ada segmentasinya masing-masing. Awal menulis di blog, segmen saya sederhana, untuk anak-anakku, calon menantuku (sekarang telah jadi menantu), anak buahku, dan murid-muridku yang bertebaran di seluruh Indonesia. Ternyata area meluas, sehingga saya juga harus memikirkan gaya tulisan agar lebih ringan, enak dibaca dan bisa menjembatani keinginan pembaca pada beberapa segmen yang berbeda. Dan ternyata ini sulit sekali, terutama jika ada pertanyaan bersifat teknis….karena beberapa pertanyaan yang menyangkut financial, jawabannya adalah kursus dan latihan…..

    Makasih mas komentarnya, saya dapat tambahan ilmu baru nih

  10. Ikutan aja

  11. Proses pembelajaran menulis yang bagus. Bagi saya tulisan anda penuh inspiratif…khususnya bagi pemula atau siapa saja yg ingin mempertajam ‘mata penanya’. Oh ya, lupa, tidak jamannya pake pena. sekarang nulis pake komputer, ya?

    Sampai sekarang saya masih menggunakan pena dan komputer. Penanya untuk menuliskan pokok-pokok pikiran di atas kertas, ketika tangan saya bergerak menggoreskan pena kadang inspirasi datang dari situ. Sementara komputer sebagai alat untuk mengembangkan tulisan.

  12. membaca perjalanan “belajar” sampeyan, saya seperti tengah bercermin dan membuka lembaran kenangan saya tahun 90-an ketika msh jadi musafir dan kuliah di malang. Emha, Amien, Jalaludin, GM, dll menurut saya adalah sebagian sumber utama keilmuan di indonesia yg cukup komprehensif dlm membedah “sesuatu” dg cukup obyektif dan universal. Usul saya, akan lbh afdol lagi kalo diperkaya dg bacaan2 dari cendekiawan muslim Internasional, apalagi kalo Ia seorang mualaf, menurut saya disamping memperluas wawasan juga menambah tebal keimanan kita. wallahu a’lam…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: