Posted by: danummurik | February 15, 2008

Hari-hari Kasih Sayang

Begitu luar biasanya setiap 14 Februari yang dirayakan sebagai moment hari kasih-sayang, manusia menjunjung tinggi fitrahnya sebagai makhluk yang memiliki perasaan. Namun Valentine’s Day, menjadi polemik bagi sebahagian orang, karena dianggap berasal dari suatu tradisi yang bertentangan.

Benar kalau melihat sejarah bahwa Valentine berasal dari keyakinan yang berbeda, tetapi masalah sesungguhnya terdapat pada pertanyaan apakah sejarah itu bersambung atau apakah mereka yang hidup sekarang memikirkan sejarah Valentine Day sebagai acuan bagi kaum pemuda yang memuja kasih sayang. Peduli apa mereka dengan sejarah itu?

Hemat saya, semuanya itu atas dasar fitrah manusia “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isterimu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (Ar-Rum:21) Artinya perkara manusia dengan perasaan cinta dan kasih sayang sungguh tidak bisa diceraikan sama sekali, apalagi asma Tuhan sendiri jelas menunjukkan sifat rahman (kasih) dan rahim (sayang).

Jadi Valentine Day hanyalah perkara momentum, yang perlu dikritisi adalah bukan hanya Valentine Day saja moment kasih sayang diagungkan banyak moment lain yang lebih agung dan tidak ada hubungan atau peniruan dengan Valentine’s Day. Misalnya moment kelahiran seorang anak, moment seorang istri yang menenangkan suaminya, moment seorang pemimpin mengabdikan diri sepenuhnya kepada umatnya, hingga moment ketika sakaratul maut.

Moment itulah yang ditemukan Abdul Muthalib ketika ia mendengar kelahiran seorang cucu dari mendiang anak kesayangannya Abdullah. Abdul Muthalib, ketika bayi mungil keluar dari rahim Aminah suami Abdullah. Dengan bahagia dia menggendong cucunya, dibawanya berkeliling Ka’bah, bayi itu dinamakannya Muhammad. Nama yang agak asing dalam kalangan Arab Mekkah saat itu, tapi beliau mengatakan “aku ingin cucuku menjadi orang terpuji kelak”. Kenyataannya memang demikian, Muhammad adalah rasulullah, seseorang yang menjadi manusia terpuji namanya selalu disebut dan akhlaknya begitu terpuji menjadi tauladan bagi umat manusia.

Begitu pula yang dilakukan Khadijah ketika mendapati suaminya Muhammad, yang merasakan kedinginan dan menggigil dalam keadaan ketakutan setelah menerima wahyu pertama. Di saat menentukan seperti itu, dengan rasa kasih sayang dan keyakinan mendalam Khadijadi melimpahkan rasa damai kepada suaminya dengan perkataan : “Oh Putra pamanku. Bergembiralah dan tabahkan hatimu. Demi dia yang memegang hidup Khadijah, aku berharap kiranya engkau akan menjadi nabi atas umat ini. Sama sekali Allah tidak akan mencemoohkan kau, sebab engkaulah yang mempererat tali kekeluargaan, jujur dalam kata-kata, kau yang memikul beban orang lain dan menghormati tamu dan menolong mereka yang dalam kesulitan atas jalan yang benar”.

Inilah moment yang keberadaan istri dengan kasih sayangnya sanggup menenangkan suami. “Dia tidak mungkin menjadikanmu kahin sayangku”. Perkataan Khadijah itu tulis Haekal, maka Muhammad merasa tenang kembali. Dipandangnya Khadijah dengan penuh terima kasih dan rasa kasih.

Muhammad sendiri, sebagai nabi dan rasul pemimpin ummat hingga akhir zaman, menunjukkan kasih sayang kepada ummatnya. Ketika seorang sahabat nampak begitu bingung melihat seorang pemimpin seperti Rasulullah yang kekuasaannya teramat luas hanya tidur beralaskan pelepah kurma, hingga di punggungnya nampak bekas dia berbaring.

Cinta kasih Rasulullah terhadap ummatnya diekspresikan dalam bentuk hidup sederhana, puncaknya perhatian Rasulullah semasa hidupnya terletak ketika beliau dalam keadaan sakaratul maut. Pada saat susah demikian, manusia manapun saya kira tidak sanggup memikirkan kepentingan orang lain kecuali kepentingan pribadinya. Namun Muhammad disaat moment kritis demikian, masih memikirkan ummatnya “ummati ya Jibril” rasul tidak sama sekali memikirkan di sorga mana ketika beliau pergi dari dunia fana ini justru yang ditanyakan bagaimana nasib umatnya sepeninggal beliau.

Ringkasnya kasih-sayang itu benar-benar ada dan hanya perkara menemukan momentum untuk mengekspresikannya. Umat Islam menunjukkan kasih sayangnya kepada rasul dengan cara bershalawat, atau membaca syair puji-pujian baik dalam maulid Diba’, Barzanji, Habsyi. Jadi apapun status anda baik terhadap pasangan hidup, suami kepada istri, pemimpin kepada rakyat, orang tua kepada anak ataupun sebaliknya marilah kita menemukan moment kasih sayang di setiap langkah hidup kita, kemudian mengekspresikan kasih sayang itu kepada siapapun orang yang dicintai. Agar ia tahu betapa anda mencintainya.


Responses

  1. Asl..yup setuju mas…….

    oiya mas tentang “read more” sy sih nggak ahli nya mas….mas kunjungi aja ini http://kolom-tutorial.blogspot.com/2007/06/read-more-versi-baru.html
    atau ini http://edittag.blogspot.com/2006/05/blogger-adding-read-more-to-your-post.html

    oke deh mas, mudah2an membantu ya mas. salam persahabatan slalu.

    Terimakasih infonya mas,ntar saya coba

  2. Kita herkasih sayan tiap hari dan sepanjan hari sajalah … seperti Rasulullah

    Setuju Bos, everyday, everytime with love

  3. Assalaamu ‘alekum bang… ane haturkan banyak terimakasih buat artikelnya. Ane sendiri sama sekali kagak pernah merayakan palentinan, tapi juga ngerasa kagak begitu terganggu ama orang-orang yang ngerayainnya.🙂 Salam kenal dari ane ya bang..

    Waalaikum salam, saya sepakat biarkan aja orang palentinan untuk ekspresi kasih sayang mereka yang cuma setahun sekali. Mari ungkapkan kasih sayang kita, setiap saat.

  4. ass… wah kayaknya mas-mas mesti tau dulu asal-usul Valentine day, baru komentar. kita nggak boleh lo meniru orang-orang yahudi dan Nasrani, ada hadistnya tu. apalagi valentine yang banyak nggak bagusnya. tapi terserahlah cuma saya sarankan kalo pendapat pribadi yang nggak ada dalilnya jangan di publish kayak gini cukup untuk diri sendiri aja. Semua kelak di pertanggung jawabkan di hadapan Allah Swt. wass

    Wa alaikum salam.
    “Allah is Our Lord and your Lord. For us is the responsibility for our deeds and for you for your deeds. There is no contention between us and you. Allah will bring us together and to Him is our final goal”.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: