Posted by: danummurik | February 5, 2008

Pohon

Kampungku hanyalah sebuah pemukiman penduduk yang hanya memiliki sekitar 100 buah rumah. Tidak ada jalan keluar ke dunia lain dari kampungku, kecuali melalui sungai Barito ini, jika melayari sungai Barito hingga ke hulu, ada beberapa ibukota kabupaten yakni Buntok, Muarateweh dan Puruk Cahu lebih ke hulu berujung pada pegunungan Muller Schawanner. Jika ke hilir ada kota Marabahan dan Kota Banjarmasin yang kemudian bermuara di laut Jawa.

Aku selalu teringat kampungku, pada mulanya rumah penduduk didirikan menghadap sungai Barito hanya ada sedikit rumah berada di pinggir sungai. Sedangkan pohon kelapa banyak tumbuh dipinggir Sungai, waktu kecil kalau kehausan menahan dahaga berpuasa. Aku selalu berniat memetik buah kelapa dan airnya akan ku minum untuk berbuka nanti.

Namun paling mengesankan adalah tempat “pertapaanku” di atas pohon di tepi Sungai Barito ini. Kalau musim kemarau, pohon yang entah apa namanya mengeluarkan buah yang baunya seharum bunga melati. Aku termenung seorang diri di atas pohon, sambil menikmati angin sepoi-sepoi dan menghirum harum alami dari pohon itu. Kadang kupetik daun-daun di tangkainya, satu persatu ku lepaskan jatuh perlahan-lahan. Aku senang melihat daun jatuh, ia turun perlahan-lahan, meliuk-liuk indah sekali seperti liukan tubuh penari balet.

Kalau aku naik ke puncak pohon, aku seperti berada di menara pengintai karena bila bepergian ke kampung lain harus menumpang kapal. Nah di puncak pohon itulah, dari jauh sudah bisa ku lihat kalau ada kapal datang dari arah hulu aku pun berteriak memberitahukan dari pohon. Bila sudah kelamaan dari atas pohon, aku turun perlahan-lahan, namun kadang-kadang dahan pohon bisa kujadikan pijakan melompat. Seperti seorang peloncat indah, aku melompat dari atas pohon ke sungai Barito. “Byur” meskipun tubuhku tidak seringan daun yang jatuh, tapi aku menikmati meluncur dari ketinggian dan jatuh di air. Kalau sudah begitu, aku tidak segera muncul namun membiarkan beberapa detik hingga oksigen di rongga dadaku berkurang barulah aku muncul ke permukaan.

Masa sekarang hanya sedikit pohon di tepi sungai karena rumah-rumah penduduk sudah banyak berdiri. Tapi seiring dengan perkembangan teknologi, akupun mengenal pesawat cellular (handphone), beberapa tahun lalu ketika sinyal hp tidak bisa sama sekali diterima di kampungku. Namun ternyata ada yang mencoba ke belakang desa memanjat sebatang pohon, ia mendapatkan sinyal yang bagus. Akhirnya aku pun mencobanya ternyata benar, bahkan tidak jarang 3-4 orang dewasa seperti burung rakaku bertengger di atas pohon asyik mencari sinyal. Ketika hp ku aktifkan, sering masuk beberapa buah pesan pendek yang sebelumnya tertahan, pohon itulah menjadi penghubung kami dengan dunia luar.

Luar biasa…


Responses

  1. Ass…ehe…cara jitu juga yah? mudah2an Secepatya merasakan pemerataan pembangunan.amin. ntar Sy link juga yah

    #begitulah bos nasib kami, atau barangkali takdir… he,…he..#

  2. kaciaan deh nas. Aku cuma mbayangin, gimana jadinya dengan hape-hape para mbak-mbak or ibu-ibu? Apa mereka juga ikut-ikutan jadi tarzan pohon gitu…? Apa nggak heboh.

    Kebetulan ibu-ibu or mba-mba belum pada suka make hp,


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: