Posted by: danummurik | February 4, 2008

Kunang-Kunang di Sungai Barito

kunang.jpg

Makhluk kecil sebangsa lalat itu, suka terbang di malam hari dan mengeluarkan cahaya yang berkelap-kelip. Apalagi kalau malam gelap tak ada cahaya bulan, tak ada sinar listrik cahaya kunang-kunang makin terang. Kunang-kunang barangkali menjadi inspirasi bagi pengarang lagu, “Kunang-kunang tunjukkan aku jalan, kutersesat di tengah gelap malam. Ooo Kunang-kunang terangi jalan. Oo Kunang-kunang kumau pulang. Kunang-kunang aduhai engkau datang…”.

***

Waktu kecil aku senang mengejar sang kunang-kunang untuk menangkapnya, karena penasaran kenapa dia bercahaya, ternyata binatang ini gesit dan lincah aku harus berjuang keras. Setelah kutangkap, ku amati tubuhnya ternyata bagian ekor kunang-kunang lah mengeluarkan cahaya. Aku ingin bermain-main lebih lama menangkap kunang-kunang tapi ibuku melarang, sambil menakut-nakuti, katanya kunang-kunang itu adalah kuku hantu.

Setelah aku besar, pengejaran dan permainanku terhadap kunang-kunang ternyata diwarisi oleh keponakanku Amat, dia anak pemberani dan bandel walaupun tubuhnya kecil, kalau bicara agak cadel. Ketika kegelapan semakin menggulita, anak-anak ada yang bermain di pekatnya malam, sebagian memilih masuk ke dalam rumah. “Amat, ayo Mat pulang, kamu jangan main kunang-kunang itu. Hati-hati, mereka kuku hantu. Nanti dicekiknya leher kamu”. Teriak ibunya memanggil Amat yang sedang asyik menangkap kunang-kunang.

Amat tak peduli, kedua tangan mungilnya lincah bergerak menangkap kunang-kunang. “Hup…hup.. ah lepas” kata Amat, sambil terus berjuang menangkap kunang-kunang. Entah kenapa ia tak kunjung bisa menangkap kunang-kunang, dan makhluk itu bukannya menjauh malah berputar-putar di sekitar tubuh Amat. Mungkin karena putus asa, keberanian Amat menjadi luruh. Akhirnya, “Hantuuuuuuu….” teriaknya ketakutan sambil berlari ke dalam rumah.

***

Di pinggir tebing sungai Barito aku sering duduk, memandang ke tengah sungai. Kadang ada lanting (rakit) yang melintasi sungai, rakit biasanya terdiri dari ratusan batang kayu tebangan dan besarnya hampir sepelukkan orang dewasa. Di ujung-ujung batang itu diletakkan lampu minyak dengan sumbu besar, agar bila dihidupkan lampunya tidak akan padam ditiup angin. Kalau malam hari, lampu dinyalakan maka itulah kesenanganku memandang lanting yang bergerak.

Setiap lampu minyak yang dinyalakan di sisi lanting atau di ujung batang kayu, akan menjelma seperti kunang-kunang. Karena jumlah lampu minyak itu banyak, maka dari kejauhan akan nampak seperti ribuan kunang-kunang terbang tepat di permukaan sungai Barito. Mereka nampak anggun berkelip-kelip, tentu kunang-kunang asli akan iri melihatnya.

Kalau dari sungai Barito di malam hari yang gelap gulita, aku biasa bepergian dan melihat ke pinggir sungai. Kali ini kunang-kunang benaran, binatang bercahaya ini menyelimuti pepohononan sehingga daun-daun dari pohon itu tampak berubah menjadi cahaya, seperti pohon natal. Dalam jarak tertentu, pohon-pohon yang dihinggapi ribuan kunang-kunang terlihat seperti bintang yang jatuh luruh dari langit, bergantungan dan kelap kelip di dahan pohon. Sungguh indah kunang-kunang di tepi sungai Barito di malam hari, aku bertanya dalam hati akankah semua ini lestari. Masihkah nanti pohon-pohon itu ada disitu? Kuingat puisi Sapardi Djoko Damono:

Seandainya pohon ini kita relakan saja

Dalam upacara korban kapak dan gergaji

Diteduh rimbun mana pula kita

Bisa menjelma menjadi manusia kembali.

Tidak ada pohon, maka tidak ada tempat kunang-kunang itu hingga, tidak kulihat kembali di malam hari bintang-bintang yang jatuh luruh dari atas langit dan bergantungan di pepohonan. Ah, kalau pohon-pohon ditebang oleh kaum kapitalis seperti kepala yang dicukur gundul, kelak benar kata ibuku kunang-kunang akan menjelma menjadi kuku hantu, mencekik leher manusia.

Catatan gambar kunang-kunang diambil dari http://www.jempol.info/kunang.jpg


Responses

  1. dada tapi ada hindai kangkunag utuh te

    Ikau ela bangang lah tak, kareh numun aken um

  2. aku juga suka kunang2…..aku penasaran apa yg dimakan kumbang ini, begitu juga dgn larvanya…

  3. aku juga suka kunang-kunang, asal jangan mata yang berkunang-kunang ya he he he ….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: