Posted by: danummurik | February 3, 2008

Banjir… Oh Sedihnya

Hari ini aku menonton berita sore di Trans 7, tentang berita banjir di Jakarta. Semula aku menduga banjir cuma di Jakarta, ternyata banjir terjadi di Makassar yang dalam tayangan televisi nampak air setinggi pinggang orang dewasa. Mengapa banjir terus terjadi, seperti lagu Ebiet G. Ade “apakah alam sudah tidak bersahabat lagi?” Aku teringat Irwan Abdullah yang ketika dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar antropologi UGM, mengingatkan bahwa bencana alam bukan berarti membuat manusia menjadi “the other” yang berarti tidak ada hubungan alam dengan manusia. Namun kemudian kemudian diyakini terjadi kaitan antara manusia dan alam.

Artinya bencana bukan karena faktor tiba-tiba dan manusia pasrah saja, tidak dan tidak sama sekali. Manusia harus mengamati, memikirkan untuk mencegah terjadi bencana termasuk banjir namun kenyataannya kita belum serius untuk mengantisipasi bencana.

Kini ketika kita mengalami bencana banjir, tentu upaya yang dilakukan adalah membantu korban. Aku ingat di tahun 2005, di kampungku dan beberapa daerah sepanjang Sungai Barito terjadi banjir besar, dikatakan begitu karena ketinggian air di atas ketinggian rata-rata bajir di tahun-tahun sebelumnya dan banjir berlangsung hingga dua bulan. Aku sedih kampungku kebanjiran, akan ada banyak dampaknya, ketika air tinggi habitat makhluk hidup akan terganggu, sehingga mereka akan berkeliaran mencari tempat yang tinggi termasuk binatang seperti ular binatang melata itu kadang masuk ke dalam rumah. Di kampung tetanggaku, ada anak kecil yang meninggal dunia karena dipatuk ular. Pun, susahnya bila orang meninggal dunia adalah bagaimana menguburkannya bila terjadi banjir, berarti dimana-mana air menggenang.

Paling menyedihkan aku ketika banjir, adalah ketika mengkoordinir bantuan medis kepada korban banjir di kampungku. LSM tempatku bekerja, menggandeng lembaga sosial yang bergerak di bidang pengobatan. Kami memilih datang ke kampung ketika air mulai menyurut, sebab ketika itu biasanya masyarakat akan menderita penyakit karena perubahan suhu seperti penyakit kulit.

Aku pulang kampung untuk memberitahukan masyarakat akan ada aksi sosial yakni pengobatan massal, mereka senang sekali sebab penyakit kulit dan diare sudah mulai menyerang. Waktu itu karena tergesa-gesa kembali ke Banjarmasin, tidak sempat memberitahukan kepala desa apalagi kalau berjalan air nyaris sampai sepinggang, kepada salah seorang aparat desa aku minta tolong agar ia mengurus segala persiapan di kampung termasuk memberitahukan kepada kepala desa.

Sesampainya di Banjarmasin, kami memastikan kelengkapan dan persiapan untuk berangkat. Kemudian aku menghubungi aparat desa di kampungku, ternyata sungguh mengejutkan katanya kepala desa tidak bertanggung jawab atas kedatangan kami kalau tidak melalui prosedur. Aku bingung kenapa begini? Belakangan kabar yang kudengar kepala desa tersinggung karena aku tidak menghadapnya saat itu. Batinku terguncang “Ya Tuhan, ini kampungku sedang dalam keadaan bencana banjir masyarakat banyak terkena penyakit mereka butuh pertolongan. Aku akan datang, apakah karena tidak menghadap kepala desa, karena tidak menempuh jalur birokrasi niat baikku dan teman-teman di sini menjadi terhalang”.

Kawan, ketika seorang menjadi berkuasa ia bukannya bertindak sebagai pelayan masyarakat melainkan berusaha untuk dihormati dan disanjung. Inilah wajah birokrasi Indonesia, ingat sebuah iklan rokok “kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah”.

Aku tetap berangkat namun melewati kampungku, terus ke kampung tetangga di sana kepala desanya menerima dengan tangan terbuka. “Tidak perlu pakai prosedur, sebab masyarakat perlu bantuan, ini bencana” katanya. Sedih hatiku ketika speedboat yang membawa rombongan beserta tim medis melewati kampung, hari itu Jumat ketika peduduk pulang dari mesjid dan melambai-lambaikan tangan menyuruh kami singgah. Sambil melintas, kuberi isyarat tangan agar mereka yang ingin berobat datang ke kampung tetangga.

Di sana kami diterima dengan baik, pengobatan berlangsung selama beberapa jam dan ratusan pasien datang berduyun-duyun untuk berobat. Pulangnya, aku singgah ke kampung namun sebentar saja beberapa orang menghampiri kami namun speedboat segera berlalu. Di kampung penduduk bertanya-tanya kenapa kami tidak singgah beruntung bibiku menjelaskan duduk perkaranya bahwa kami tidak bisa singgah. Mereka akhirnya memaklumi keadaan.

Kawan, pelajaran dari hal tersebut membuatku sadar. Meskipun di kampung sendiri, di mana rasa kekeluargaan sangat tinggi, solidaritas saling membantu timbul, kita tetap tidak serta merta bisa berbuat sesuatu meskipu untuk kebaikan. Waspadalah terhadap orang yang menginginkan dirinya disanjung-sanjung dan dihormati, orang yang mementingkan kepentingan pribadi daripada kepentingan masyarakat.

Na’ udzubillahi min dzalik.


Responses

  1. oh ternyata yg banjir bukan cm d jakarta (never sleep city)….

    jakarta terapung…jakarta butuh jukung…jakarta butuh pelampung…kalimantan lebih bingung….

    “BANJIR BUKAN BENCANA”

  2. Banjir bukan bencana artinya apakah banjir direncanakan Le???

  3. Asl…sama dgn kota tempat sy, langganan banjir, bisa jadi Azab,ujian atau pelajaRan bagi kita…….oiya lam kenal lagi, sy link yah…

  4. Rumahku kerendam banjir selama 5 hari air masuk rumah setinggi puting susu orang dewasa. Perabotan hancur berantakan mengapung laksana pecahnya kapal Titanic.Peristiwa ini terjadi di awal Februari 2007 dan awal Februari 2008.
    Dalam peristiwa banjir 2007 tadi aku sempatkan bikin dokumentasi banjir yang merendam permukimanku dengan handycam dan sekarang menjadi kenangan tersendiri bahwa banjir bisa menerjang kepada siapa saja apabila Tuhan telah berkehendak.

    Pengalaman kebanjiran tentu akan membuat kita berfikir untuk mengantisipasinya di masa mendatang.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: