Posted by: danummurik | January 31, 2008

Hutang

Aku memaksakan diri mendatangi warung nasi tempat aku makan sore kemarin, walaupun sebenarnya agak malas tapi terus saja kukayuhkan sepeda antikku. Aku kemarin ketika mentraktir teman, menyerahkan uang kertas seratus ribu kepada penjual namun tidak ada kembaliannya. “Besok sore aja mas datang, ngga apa-apa ko” kata Mas tempat aku makan. Jadinya aku berhutang sama Mas itu.

Sebenarnya bisa saja, aku menunda untuk bayar, apalagi urusan utang-piutang lazim bagi kalangan mahasiswa. Tapi aku selalu tidak enak kalo telat membayar hutang, apalagi pura-pura lupa. Sampai di warung tenda di jalan Kaliurang km. 5 Jogja, aku ternyata tidak ketemu orang yang jualan kemarin. “Ini tentu temannya” batinku. Aku lantas bilang belum bayar kemarin, hutang sama temannya. Ternyata si Mas itu rupanya di dalam sedang nyuci piring, kebetulan aku lupa jumlahnya, jadi ia mengingatkan aku. Lunas sudah utangku sama dia. Tapi hutang dengan yang lain masih ada, he…he.. but semuanya akan ku bayar nanti sesuai berjanjian.

Bayangkan aja, kalo pedagang kecil dan modal sedikit harus menunggu perputaran uang karena pembelinya banyak berhutang. Tentu lama sekali dia bakal dapat keuntungan banyak, tapi para pedagang kecil biasanya lebih berjiwa besar daripada orang besar di negeri ini. Ibu jualan nasi dekat kostku cerita, sering mahasiswa lama baru bayar bahkan ada yang tidak sama sekali “saya maklum saja mereka kan mahasiswa, hitung-hitung saya bantu orang menuntut ilmu” begitu terangnya. Alih-alih seperti ibu penjual nasi itu, banyak pejabat di negeri ini justru memakan uang rakyat, memotong dana pembangunan. Ironis.

Lega hatiku bisa bayar hutang, tapi aku ingat ketika ngobrol dengan beberapa orang teman di kantin kampus Unlam Banjarmasin. Ada yang bercerita, ia merasa persahabatannya menjadi renggang, karena salah seorang temannya punya hutang (banyak pula) tapi belum dibayar-bayar tanpa penjelasan kepadanya. Hasrat hati ingin membantu teman, namun pada saat butuh uang kita tentu jadi ingat minjamin uang kepada orang lain.

“Hutan kepada teman itu, menggantung persahabatan” katanya, aku pikir ada benarnya juga dikala kita perlu mau nagih rasanya tidak enak dibiarkan malah dicuekin. Jadi serba salahkan? Mungkin tidak semua orang seperti itu, tapi kalau pas nasib apes, kita harus sabar dan sabar. Beda kalau kita banyak uang jadi walaupun belum dibayar tidak akan begitu merasa membutuhkan. Aku baru mengerti, menghutangi orang lebih berpahala dari memberikan uang.

Wallahu alam.


Responses

  1. nasib……nasib……….
    sabar ae bro ae………

  2. EHM….EHM..
    LISTRIK…LISTRIK…
    TELPON…TELPON….
    KEAMANAN…KKEAMANAN…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: