Posted by: danummurik | January 25, 2008

Menonton dengan Separo Badan

Malam itu, jarum jam baru menunjukkan pukul 7 malam tapi kegelapan sudah menguasai kampung. Kebanyakan penduduk menyalakan lampu minyak hanya sedikit penduduk menggunakan listrik melalui genset, orang-orang pun berkumpul di sebuah rumah yang menghidupkan televisi. Receiver parabola bertengger di atas atap rumah, siap menerima membuat semua siaran televisi swasta dan nasional bisa ditangkap.

Pandangan mata saya menyapu setiap penonton, ada orang tua dan muda, perempuan maupun laki-laki bergabung menonton televisi. Nampaknya pemilik rumah memang menyediakan ruangan sebagai tempat tontonan, sementara dia diuntungkan karena rumahnya juga berfungsi untuk berjualan sembako, makanan dan minuman, obat-obatan pokoknya semacam toserba ala orang kampung.

Malam ini, penduduk nampaknya menikmati sinetron tentang orang alim yang mengusir makhluk jejadian. Biasa, film Indonesia dengan mudah “menjual” ayat suci-suci untuk kepentingan mengusir hantu. Saat penonton asyik melihat sinetron, saya malah melihat mereka. Pandangan mata saya akhirnya tertuju seorang bapak yang menonton di luar ruangan rumah. Sebuah kursi panjang ia duduk, seorang penonton lain di belakangnya kadang duduk dan berdiri.

Sambil duduk bersila, ia mendongakkan kepalanya ke dalam rumah melalui sebuah jendela. Sesekali tangannya mengibas-ngibaskan sarung untuk mengusir nyamuk, maklum karena hanya beberapa orang di luar rumah maka ia menjadi salah satu sasaran empuk nyamuk-nyamuk. Jendela rumah memang memungkinkan untuk melihat televisi tanpa harus ikut berdesakan di ruangan, sebab puluhan penonton di dalam dengan berbagai komentar sepertinya tidak membuat ia berkonsentrasi.

Dari tempat saya mengamati, terdengar suara-suara dari televisi dengan volume dikeraskan sebab harus bersaing dengan suara genset yang dihidupkan oleh mesin diesel, sekitar duapuluh meter dari rumah tersebut. Lelaki itu berusia sekitar 45 tahun, tak bergeming dari tempat duduknya. Meskipun dari kepala sampai dada, masuk ke dalam rumah dan kaki dan pinggangnya berada di luar rumah.

Tak ada gerakan, kecuali jari tangannya menjepit sebatang rokok. Ketika iklan ditayangkan, ia mengalihkan pandangan matanya keluar, sehingga badannya keluar sepenuhnya. Rokok yang disedotnya dalam-dalam, mengepulkan asap tebal dari mulutnya, selain sebagai penikmat rokok, asap itu digunakan juga untuk mengusir nyamuk yang mengganggu keasikannya menonton.

Sesekali matanya melirik televisi untuk mengetahui berakhir tidaknya iklan, hantu barangkali lebih menarik baginya dari pada rayuan gadis cantik bintang iklan itu. Kadang-kadang badannya digerakkan berputar ke kiri dan kanan. Sinetron di mulai lagi, ia pun kembali menonton. Saya mendekati dan mencoba menyapanya, tak ada komentar, entah terlalu khusu’ menonton atau suara televisi dan genset membuat bising sehingga dia acuh saja.

Saat ia asyik menonton televisi, sungguh bapak itu berada di dunia yang berbeda. Dari kepala hingga dadanya masuk ke dalam rumah melalui jendela, ia melihat dunia lain melalui televisi barangkali pikirannya pun ikut terbawa. Ia ikut arus cerita, manakala sinetron hantu barangkali ia menjadi pahlawan pengusir hantu, berbaju putih memakai sorban, memutar tasbih, mulut komat-kamit dan tangan bergerak-gerak seolah-olah ingin mendorong batu karang. Kalau sang Idolanya adalah pujaan perempuan, jadilah bapak itu seperti pemuda tampan dan kaya raya. Sementara sebagian tubuhnya, dari dada hingga kaki berada di dunia nyata, dimana serbuan nyamuk-nyamuk liar yang tidak mengenal iklan pengusir nyamuk dalam televisi. Inilah dunia sebenarnya yang dimilikinya, hidup jauh dari kota, setiap hari peras keringat banting tulang mencari nafkah untuk anak istri. Mungkin juga inilah obat stress kaum jelata, sebab besok pagi-pagi ia harus kembali ke hutan bekerja dan bekerja.

Saya mau menjauh, tetapi mendadak di dalam rumah menjadi riuh, sebagian besar penonton berdiri. Merasa penasaran, saya mencoba melongok ke dalam, di televisi tanpa tertulis “bersambung”. Bapak itupun pergi tanpa komentar.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: