Posted by: danummurik | January 6, 2008

Di Dalam Lindungan Kelambu

Kelambu

Berbentuk kubus memanjang, terbuat kain tipis bernama kelambu bagiku merupakan benteng terakhir pertahanan hidup. Tirai tipis dari kelambu, seolah menjadi batas demarkasi memisahkan aku dengan lingkungan luar. Sejak kecil aku tidur dalam “lindungan” kelambu.

Kelambu juga menjadi ruang paling privacy bagi suami istri, selain kamar pribadi tebtunya. Seorang anak biasanya ikut orang tua dalam satu kelambu, hingga menginjak usia 7-8 tahun. Setelah itu, anak akan memisahkan diri, bisa tidur sendiri atau bersama saudara satu kelambu.

Anak kecil biasanya takut tidur sendiri, meskipun akhirnya terbiasa juga. Namun mendengar cerita hantu, menyebabkan takut tidur sendiri dalam kelambu. Oleh orang tua diletakkan buku kecil berisi Yasin di atas kelambu, keyakinan sederhana terhadap agama membuat anak-anak menjadi tenang dengan adanya Yasin tersebut.

Kelambu untuk keluarga, lebih besar ukurannya dan supaya kain kelambu kencang di pasang empat tongkat dari kayu (reng) yang ujungnya saling bersilangan. Di ujung kelambu terdapat ruang untuk memasukkan tongkat kayu, dulu orang tua menyimpan uang untuk di situ atau menyelipkan pulpen. Barangkali lebih memudah mengambilnya. Kelambu jenis ini, biasanya permanent artinya setelah dipakai tidak disimpan melainkan hanya dirapikan kainnya ke atas.

Adapun kelambu seperti dalam gambar di atas, digunakan untuk satu orang saja. Empat sudutnya dipasang tali untuk mengencangkan kelambu, tali-tali itu diikat pada kaitan misalnya paku pada dinding kamar. Setelah dipakai tali kelambu dilepaskan, dan disimpan.

Ketika aku kuliah di Banjarmasin, bersama dua orang teman satu kost kami memiliki masing-masing satu kelambu. Sehingga saat masing-masing kelambu kami dibentangkan, saya membayangkan tiga buah kapal sedang berlayar. Penghuni di dalamnya adalah nahkoda, bersama kelambu kami berlayar mengarungi alam mimpi.

Bagaimana kalau tidak ada kelambu, di daerah rawa-rawa apalagi musim penghujan menjadi ajang berkumpulnya nyamuk-nyamuk yang tidak memilih siapapun untuk digigitnya. Kalau ada kelambu, nyamuk tentu tidak akan bisa masuk. Orang yang tidak biasa menggunakan kelambu, menggunakan obat nyamuk untuk mengusir nyamuk. Namun efektifkah cara itu?

Aku pernah membandingkan teman yang tidur tanpa kelambu dengan aku yang memakai kelambu. Temanku melihat aku pakai kelambu, ia mencibir dan seolah-olah mengatakan tradisi kuno tapi aku diam saja. Kami tidur satu kamar, namun di sampingku dia tidak memakai kelambu. Kami dibatasi oleh kain tipis bernama kelambu. Meskipun obat nyamuk mengepul, tapi kulihat punggungnya terdapat bintik-bintik bekas gigitan nyamuk. Dan itu terjadi sepanjang dia tidak memakai kelambu. Begitu juga ketika tidur kita menghirup udara bercampur asap obat nyamuk, meskipun katanya obat nyamuk aman bagi kesehatan, apakah kita masih bisa yakin seratus persen. Sebab nyamuk saja mati karena obat bakar tersebut.

Selain melindungi dari gigitan nyamuk, di dalam kelambu menjadi ruang yang stabil terhadap udara malam. Kepercayaan masyarakat Dayak, tidur dalam kelambu bisa melindungi orang di dalamnya dari serangan parangmaya (santet). Sehingga disudut-sudut kelambu keluarga, sering digantungkan akar-akaran, kemudian botol yang berisi minyak dan berbagai properti lain untuk penangkal kejahatan ilmu hitam.

Satu hal dari kelambu, apabila kita tidak teratur membersihkannya yakni serangan dari dalam berupa serbuan motor tank. Kalau terkena gigitannya bisa lebih sakit dari nyamuk, yakni kutu yang bersarang dilipatan-lipatan kelambu, orang Bakumpai menyebutnya lilih, menurut orang Sampit makhluk itu bernama kimat dan orang Banjar menyebutnya pampijit.

 


Responses

  1. http://poenyarika.multiply.com

    buka ya mas,, =]

  2. http://poenyarika.multiply.com

    =]

  3. Kelambu juga menjadi ruang paling privacy bagi suami istri *jadi pengen punya suami* he..he

  4. pakai kelambu selain hemat juga sehat tanpa efek samping, tidur tenang dan nyaman, bangun tidur dijamin fresh dan bugar siap untuk melanjutkan kegiatan – kegiatan untuk mencari nafkah.

  5. Betul sekali kawan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: