Posted by: danummurik | January 3, 2008

Pipa Air

Aku sering membandingkan tempatku dengan daerah-daerah yang sedang/telah kukunjungi, membandingkan dua tempat bisa ditemukan perbedaan tentu saja, selebihnya aku menemukan keunikan. Barangkali unik karena tidak ditemukan di tempat lain, atau semestinya ada di dua tempat berbeda tapi hanya ada di satu tempat.
Konkretnya, di Jogja aku sering membandingkan dengan kota Banjarmasin ibukota Propinsi atau ibukota kabupaten Batola Marabahan atau pula kampungku di pinggir sungai Barito.

Di kampus tercintaku UGM, aku sering menemukan kran air di berbagai tempat apalagi kalau sekitar taman. Kran itu merupakan ujung dari pipa-pipa untuk menyalurkan air, coba saja putar open kran, air akan menyembur deras. Aku sering iseng mencoba membuka kran, dan betul airnya selalu keluar berarti pipa-pipa selalu berisi air entah dari mana sumbernya.

Sahabat, jangan anggap perkara pipa air kutulis urusan adalah sepele, karena dari airlah sumber kehidupan. Aku pun menganggap pipa dan kran yang selalu mengucurkan air di Jogja adalah suatu keunikan, sederhana saja penilaianku pipa dan kran tersebut setia mengalirkan air buat kehidupan manusia.

Coba tengok kota Banjarmasin berjuluk seribu sungai, sulit sekali bertemu pipa dan kran berisi air. Kadang air hanya menetes perbutir saja, seolah Banjarmasin kota di tengah gurun. Padahal Banjarmasin dimana-mana ada air, kadangkala kalaupun airnya deras mengucur melalui pipa, tengok saja warna airnya keruh.

Mungkin pengakuan saya menyakitkan, but inilah kenyataan. Kenyataan bukan untuk kita dustai tapi harus terjadi perbaikan. Di sudut-sudut kampus sekumpulan mahasiswa bicara tentang grand idea seolah ingin merubah republik. Tak jadi persoalan sebenarnya, asal saja jika kita mau memulai dari sesuatu sederhana. Mulailah memikirkan agar air mengucur deras melalui pipa air leding, karena disitulah kehidupan berjalan. Bayangkan saja jika kita berdekatan dalam suatu diskusi, apa jadinya diskusi itu kalau saja bau badan pesertanya menyengat hidung, tercium aroma tidak sedap. Akibat sepele, jarang mandi hanya karena air tidak mengucur.

Marabahan ibukota kabupatenku, tepat berada ditepi sungai Barito sama uniknya. Kadang-kadang aku tinggal di komplek perumahan, numpang rumah kakakku. Jam-jam tertentu, PDAM nampaknya malas mengalirkan air untuk warga. Coba saja buka kran air dalam rumah, air hanya sanggup keluar setetes demi setetes. Lebih repot lagi, kalau air malas keluar di pagi hari padahal saat orang memulai kesibukan dan melepaskan berbagai macam hajat.

Aku sering mencari suaka ke tempat teman, di sana airnya masih mengalir deras. Aku numpang mandi, mencuci, dan lain sebagainya.Untung mereka berbaik hati, atau tidak mengeluh karena ada seorang pelarian apabila berhubungan dengan air selalu datang ke tempat mereka. Maafkan aku ya, ini terpaksa lho.

Aku bahagia bila sudah pulang kampung, kalau mandi cukup berdiri di atas batang, kalau bisa berenang loncat saja ke sungai. Sungguh nikmat badan basah semua, tidak perlu menunggu kucuran air. Sungai Barito adalah anugerah terindah dari Tuhan, namun jarang orang mau memikirkannya.

Kadang aku merenung saran tewang (di tepi) sungai Barito. Pikiranku hanyut dibawa air ke hilir, singgah di Marabahan, terus ke Banjarmasin terbang ke Jogja. Di kota ternyata unik juga, bagaimana tidak air adalah sumber kehidupan dan kehidupan mereka sangat bergantung dengan pipa-pipa air sebesar pergelangan tangan bayi saja.
Ajaib dan Luar biasa.


Responses

  1. makan nasi,pecel lele…
    ya udah siy, sepele…

    hehehe


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: