Posted by: danummurik | January 3, 2008

Langgar dan Sepakbola

Sepakbola jangan dianggap sekedar olahraga, orang suka melihat sisi buruk terutama penggemar bola harus mengorbankan waktu begadang menonton tim kesayangannya bertanding. Apalagi dikaitkan dengan Langgar, kami sering menyebutnya demikian, orang menyebutnya musholla atau surau juga tempat ibadah shalat. Sungguh sulit mencari benang merahnya. Tapi sebaiknya diketahui sepakbola tidak hanya olahraga, ada aspek lain yang bermanfaat dengan mengolah si kulit bundar itu.

Tim kesebelasan sepakbola di kampungku, lumayan diperhitungkan di kampung-kampung tetangga. Aku masih ingat memesan bendera kepada tukang sablon di Banjarmasin, kuberi nama kesebelasan kampung ku PS Giha Mayau. Banyak sudah kampung menjadi “daerah jajahan” tim kesebelasan kampungku. Hasilnya kehebatan tim kami menyebar ke daerah lebih jauh, orang-orangpun mengundang bertanding. Kebetulan menang terus, maka ekspansi pun semakin jauh.

Sampai suatu saat, Pak Haji dari hulu sungai yang suka berdagang dengan kapalnya setiap minggu ke kampung ku, mengundang kesebelasan Giha Mayau bermain di kampungnya. Hari yang ditentukan berangkatlah kami dengan kelotok menuju Amuntai, tepatnya ke kampung Pak Haji. Perjalanan melelahkan lebih dari 3 jam di sungai Barito, kami sampai di Danau Panggang dan melanjutkan menggunakan jalan darat dan diangkut oleh sebuah mobil truk. Banyak orang kampungku tidak tahan naik mobil, di tengah perjalanan sebagian telah mabuk bahkan muntah. Hanya sempat istirahat sebentar, setelah sampai di kampung pak Haji kami bermain bola.

Di bawah guyuran hujan, disaksikan petir dan angin kencang gawang kami kebobolan hingga 7 kali. Tamatlah riwayat kesebelasan Giha Mahayau, kami takluk di tangan musuh. Kabar ini tersiar begitu cepat, meskipun tidak ada jalan darat tapi lebih cepat berita lewat pesawat cellular.

Tercenganglah penduduk setiap kampung, kesebelasan tak terkalahkan dari kampungku takluk, bukan sedikit malah kebobolan lebih dari setengah lusin. Di saat sedih, tak ubahnya sudah jatuh tertimpa tangga lagi. Pak Haji datang menantang bahwa giliran kesebelasan mereka untuk bertandang ke kampung kami. “Carilah pemain yang hebat, supaya permainan nantinya berimbang” tegasnya.

Sungguh berat beban tim kampungku, kami akan dibantai di kandang sendiri. Tak ingin malu, orang-orang tua berfikir keras, namun sia-sia saja meskipun di kumpulkan pemain hebat dan pilihan dari kampung lain, tak akan mampu menandingi mereka. Kepadaku, tetuha kampung meminta dicarikan pemain profesional di Banjarmasin untuk membantu, “jangan tanggung-tanggung bawa mereka satu klub” kata mereka.

Aku bingung siapa mesti kubawa, beruntung ada karibku Fauzan. Segera kuhubungi dia, jawabnya singkat “Beres, nanti kuhubungi teman-teman, namun mereka pemain profesional kamu harus bicara sama mereka”. Aku mengerti, mesti ada bayaran buat mereka dan hal biasa dalam pemain sepakbola, lebih penting lagi nama baik kampung jangan sampai dipermalukan. Segera kukabari penduduk, temanku menyanggupi bahkan akan membawa pemain-pemain dari divisi utama. Seperti anak-anak mendapat layang-layang jatuh, orang-orang tua di kampungku bertepuk tangan.

Kawan, sepakbola bukan hanya milik Brazil, Itali yang langganan juara dunia, tidak Inggris, Jerman, Prancis sang Jawara Eropa atau Thailand, Jepang negara-negara raksasa sepakbola Asia saja, di kampungku penduduk rela menyumbangkan uang untuk membayar pemain yang akan menyelamatkan muka kami. Sehari sebelum pertandingan, aku langsung ke Banjarmasin menjemput mereka dan keesokan harinya pagi-pagi sekali kami dari Banjarmasin.

Satu setengah jam perjalanan darat menuju Marabahan, dilanjutkan perjalanan sungai dengan perahu cepat sekitar satu jam sampai lah kami di kampung. Betapa terkejutnya aku mendapati kampung ku yang semula tidak ramai, kini penduduk dari pelosok daerah tumpah ruah. Di tepi sungai, berbaris kelotok dari berbagai ukuran seperti parkir mobil dijalan raya. Sementara di jalan kampung, saking banyaknya penonton melebihi jumlah konser group musik sepanjang sejarah konser dangdut tahunan di kampung-kampung tepi sungai Barito. Maklum saja, kalau menonton orkes dangdut barangkali hanya kalangan anak muda. Tapi ini sepakbola kawan, lihat saja yang datang dari kalangan tua, muda, laki-laki, perempuan berduyun-duyun menyaksikan pertandingan seakbola pertaruhan nama baik kampung.

Teman-teman yang datang sebagian masih saya ingat namanya: Fauzan, Eddy Susanto, Aulia, Aziz, Idang. Mereka pemain pilihan dari klub-klub se kota Banjarmasin. Ketika peluit tanda pertandingan di mulai, hingga beberapa menit awal pertandingan dengan kecepatan tinggi, kerjasama tim, aksi inidividu semua berjalan berimbang. Tidak ada sorak sorai, kami penonton menahan nafas akankah teman-temanku ini mampu menunjukkan pertandingan kerasnya.

Hingga suatu ketika, tusukan dari Fauzan gelandang sayap kanan sebagai seorang sprinter ia mudah melewati beberapa orang pemain lawan. Bola meluncur terarah dilepaskan melalui tendangan kaki kanannya, di daerah berbahaya musuh Eddy berlari menyongsong bola dan sundulan kepalanya merobek ketegangan. Bola sundulannya menerobos kawalan penjaga gawang musuh. Maka terjadilah Gol. Seketika itu juga teriakan bahagia penonton meledak seperti gelegar petir. Bahkan orang tua tak sadar lagi sebagai orang tua, mereka menghambur ke lapangan melempar kopiah ke atas, semua berbahagia.

Sekolah SD ku tepat berada di tepi lapangan bola, di sana berjejer kaum perempuan. Ibu-ibu maupun gadis-gadis pecandu bola, merekalah suporter hebat berdiri berbaris berteriak memberi semangat. Halaman sekolahku berubah fungsi menjadi tribun kehormatan seperti di stadion sepakbola resmi. Setiap pemain kami mencetak gol, tentu akan berlari ke depan penonton perempuan itu memberikan selebarasi. Luar biasa.

Terlalu banyak yang ingin kutulis, tapi yang jelas kami menang, dengan skor 5-1. Pak Haji nampaknya tidak terima, ia pulang dengan kepala tertunduk. Timnya pembantai kesebelasan kami, terperangah seperti mimpi buruk mereka kalah. Kalah telak pula, meski tidak setelak mereka mengalahkan kami. Rupanya pak Haji tidak puas, setahun kemudian menantang kembali.

Aku diminta lagi menghubungi teman-teman di Banjarmasin, saya bingung kalau kemarin teman-teman datang semata-mata niat membantu. Kini apalagi alasanku mengundang mereka, tentu untuk alasan profesionalisme pemain bola mereka patut dihargai selayaknya. Aku memutar otak, teringat bahwa waktu bermain bola penontonnya ribuan orang, waktu itu ada penonton protes ketika bayaran masuk menonton Rp. 2500,- katanya terlalu murah.

Lagi-lagi inilah sepakbola kawan, untuk acara tertentu tarif tiket masuk penonton kebanyakannya protes karena terlalu mahal. Beda dengan sepakbola, kalau penonton terhibur dengan permainan bola mereka bayar lebih mahal. Bahkan aneh, mereka protes karena tarif tiket masuk penonton terlalu murah. Saya dapat akal, anggap saja seribu orang masuk dan mereka bayar Rp. 5000,- per orang maka akan dapat Rp. 5 juta. Hasil seperti itu adalah keuntungan dan cukup langka untuk sebuah pertunjukan di kampung.

Jadi pertandingan sepakbola kali ini untuk pertandingan amal untuk perbaikan langgar di kampung, caranya tarif masuk penonton di naikkan dari Rp 2500,- per orang menjadi Rp. 5000,- per orang. Kepada tetuha kampung kuutarakan ide seperti itu, mereka setuju sekali, kepada teman-teman pemain bola kukatakan secara profesional kalian akan dihargai. Namun karena untuk pertandingan amal, mereka juga bersedia toleransi. “Kita jarang beramal, sepakbola inilah kesempatan kita beramal untuk perbaikan moshulla” celetuk salah seorang dari pemain.

Pak Haji setelah setahun lalu kalah, kini mengaku datang dengan kekuatan hebat. Kampung kami tumpah ruah penonton, lebih banyak karena tahun lalu ada yang tidak datang dan penasaran mendengar kabar big match dua raksasa sepakbola. “Mereka hebat seperti di TV” saja kata penonton. Tak ada yang protes ketika tarif masuk dinaikkan 100 persen, apalagi setelah tahu untuk amal pembangunan langgar kampungku. Penonton malah memberi lebih, katanya sedekah untuk pembangunan langgar.

Di lapangan dua kesebelasan tengah berhadap-hadapan, dendam kesumat merasuk dada tim lawan. Sementara tim kami, mereka bermain dengan niat beramal tanpa harus membiarkan bola bersarang di dalam gawang kami. Disaksikan ribuan penonton, seperti tahun dulu lapangan ini kembali bergemuruh oleh sorak sorai. Pertandingan lebih seru, lebih asyik bahkan menghibur karena skill pemain benar-benar berubah menjadi tarian perempuan cantik. Bola memang ajaib. Ada hawa permusuhan, ada seni, bahagia, sedih, juga ada kemenangan dan di lain pihak ada kekalahan. Dan jangan lupa, ada ibadah keuntungan bersih pertandingan untuk amal.

Kebahagiaan masih berada dipihak kami, angka 5-1 menjadi bukti kemenangan kampungku yang tentunya dibantu teman-teman dari Banjarmasin. Kesedihan pada tim lawan karena kiper mereka harus memugut bola masuk sebanyak lima kali di dalam gawangnya. Pak Haji manajer mereka kembali pulang dengan kepala tertunduk. Kawan langgar di kampungku jarang terperhatikan karena ketidak mampuan penduduk mencari dana perbaikan, apalagi banjir pernah merendam rumah-rumah penduduk, termasuk langgar ini ikut terendam dan rusak.

Setelah pertandingan usai, ternyata perhitungan bersih keuntungan main cukup menggembirakan. Beberapa minggu setelah pertandingan amal, kepada kawan-kawanku pemain bola yang baik hati, kukatakan langgar di kampungku sudah kembali seperti baru dibangun, karena kehebatan kalian mengolah kulit bundar di kampungku. Terima kasih kawan.


Responses

  1. hahaha…hari gini masih maen bola….

    “play FUTSAL, not FOOTBALL”

    futsal(enjoy and fun)
    football(all about dangerous)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: