Posted by: danummurik | December 28, 2007

Sepeda Ontel

Foto Bersama sepeda Ontel

Jogja terkenal dengan sepeda ontelnya, hampir setiap tempat aku liat orang bersepeda. Aku tidak punya apa-apa, kalau kuliah jalan kaki jarak dari kost ke kampus lumayan jauh. Beruntung mas Dhana berbaik hati minjamin sepeda ontelnya yang tergantung di tembok samping rumahnya, katanya lama ngga ke pakai. Aku amati benar juga, sepeda itu udah jadi sarang laba-laba. Ceritanya sepeda itu bukan milik dia, tapi punya temannya orang Cina dan kaya pula, temannya ngga mau naik mobil dia suka naik sepeda itu. Kalaupun naik kendaraan bermotor, teman mas Dhana itu milih motor yang sangat lama dari jauh sudah kedengaran suaranya. Bising.

Ohh jadi batin aku kalau pakai sepeda itu dan tahu sejarahnya, berarti aku dikira orang kaya juga he..he… Yang penting sebenarnya aku tidak cape jalan kaki, ini di kota bung, kalu di desa aku di pedalaman Kalimantan jalan kaki bawa beban 10 hingga 15 kilo berjalan berjam-jam aku sanggup.

Singkat kata, singkat cerita aku bawa sepeda itu dan perbaiki sebelum dipakai. Ternyata aku orang gengsi juga, sebab ada sebagian kota di Nusantara termasuk kota aku memandang rendah orang pake sepeda. Nah, aku pertama kali naik sepeda ke kampus, rasa malu betul meliuk-meliuk di jejeran mobil-mobil mewah, kemudian masuk ke kampus pikiran aku dipandang puluhan pasang mata. Aku ngga geer, lebih tepatnya minder, aku kira bakal diolok-olok orang.

Aku salah, teman-teman malah senang liat aku naik sepeda. Apalagi aku liat, mahasiswa asing dari Jepang dan Cina di Jogja ini mereka naik sepeda. Wah ini aneh. Padahal berbagai merk sepeda motor dan mobil yang tumpah ruah ke republik ini dari dua negara itu. Mereka malahan naik sepeda, benar juga bangsa kita sangat konsumtif sekali. Berbahagialah aku sejak itu, dan tidak malu lagi naik sepeda.

Aku makin pede, si Vony gadis Cina anak kedokteran Unlam yang co as (betul ngga tulisannya?) ke RS. Sardjito Jogja waktu aku maen ke asrama Banjarbaru tempat mereka nginap mau aku ajak naik sepeda. Nah waktu itu temannya kebetulan beli tustel digital, pakai lensa panjang artinya bisa di zoom dari jauh. Maka berfotolah kami berdua di atas sepeda. Foto kami di atas sepeda ontel jadi data etnografi aku, kalau bersepeda tidak menurunkan gengsi malah lebih bergengsi dengan sepeda. Tiba-tiba datang teman-temannya, banyak lho mahasiswa kedokteran plus anak-anak asrama. Jadilah sepeda itu aku taruh melintang kami semua bersandar di sepeda itu foto bersama.

Ada lagi pas aku pulang dari kampus, tiba-tiba seorang teman Retno namanya memanggil. “aku mau ikut pulang naik sepeda”, pas aku tunggu dia nggak jadi kataya tidak enak ninggalin teman yang sedang jalan berdua. Aku penasaran, dan beberapa hari kemudian ngetes lagi.Aku tunggu dia pulang sendiri, bagaikan pahlawan kesorean, dengan pede aku ajak dia numpang boncengan sepeda aku. Tak dikira betul-betul mau, aneh juga alumni kuliah di luar negeri Amerika pula mau naik sepeda. “Kamu kenapa mau naik sepeda” aku tanya, jawabannya sederhana “disana juga aku bersepeda”.

Di situlah semangat aku bersepeda semakin menggebu-gebu, apalagi Tole teman kost suka tukar pinjam motor Veganya sama Ontel aku. Pokoknya aku bangga naik sepeda, saking bangganya aku bikin gantungan kunci sepeda dengan tulisan “naik ontel jadi master”. Vony, Tole, Retno makasih ya aku jadi pede naik ontel.

Orang bersepeda jangan sesekali dijadikan ukuran seberapa tebal uang di dalam dompet, atau seberapa tinggi digit uang tersimpan dalam kartu ATM. Buktinya, pulang dari kampus aku boncengan dengan Sauqi teman kost naik ontel. Kalau cape aku yang membawa atau sebaliknya dia bawa, pokoknya gantian dan kami sama-sama S2 lho. Pas dipinggir jalan, sebelum belok selokan di Gejayan itu, ada toko jual chasing hp. “Mampir dulu kawan” ajak aku, ternyata parkir penuh di depan toko. Tapi aku liat, paling depan ada mobil bagus dan sampingnya ada sedikit ruang kosong. “Kita parkir di situ gin Qi ai” kemudian aku mendorong sepeda, Ontel aku sungguh anggun berdiri dengan standar dua di samping mobil itu. Dari dalam saya liat cewek-cewek pelayannya senyum-senyum, senyum mereka Jogja banget. “Lihat mereka memperhatikan kita” kata Sauqi.

Senyum mereka tak putus-putus ketika kami masuk ke dalam toko aksesoris hp, kami tidak peduli biarlah toh mereka dengan senyum berarti memberi sedekah. Aku yakni senyum mereka itu, bukan karena melihat dua orang arjuna masuk toko, tapi melihat sepeda Ontel itu dengan penuh percaya diri kami sejajarkan dengan mobil bagus. Mungkin milik bos mereka. Setelah puas milih chasing di toko itu dan tidak dapat yang pas, kami pulang. Dengan sapaan khas Jogja pelayan itu nanya, “naik sepeda ya mas”. Kami tidak menjawab, tapi membalas dengan memberi sedekah, mengulas senyum juga sangat Jogja smile. Di perjalanan sambil membawa teman, aku dengar Sauqi menggerutu, “Mereka itu sudah liat malah tanya, apa kita naik sepeda”. Aku diam saja, sambil mempersiapkan jawaban supaya kami tidak berkecil hati tapi malah Sauqi yang membersarkan hatiku. “Mereka itu tidak tahu, biar kita naik sepeda seperti ini sanggup saja bayar SPP 4 juta Rupiah setiap semesternya, tidak pakai beasiswa lagi”.

Dari Jogja inilah aku pulang ke Kalimantan, nggak malu naik sepeda. Setiap sore aku ngajak keponakan Ali Mubin yang lucu, mutar-mutar kota Marabahan. Aku ngga malu dan pede aja, ntar kalo ditanya aku bilang di Jogja bayak orang bersepeda.


Responses

  1. Ah ini cerita koq pas aq dah di deportasi ke jogja sey…..

    jgn lupa vega merah banyak memberi andil dalam perjalanan hidup dan asmara mu…..

    skrg vega merah dah berubah jadi motor rongsok…

    hehehe…(kebanyakan dipake ngebonceng bule kali yeee….)

    Si Vega itu banyak jasanya lho, selain ngantar aku ke kampus iya juga ngantar kita jadi relawan pas gempa


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: