Posted by: danummurik | December 28, 2007

Daun Jadi Uang

Saya dulu tidak percaya, bahwa cerita orang-orang tua daun bisa dijadikan uang. Sangat tidak rasional bagi saya, itu hanya ilmu-ilmu gaib perbuatan pengabdi setan. Ilmu mangaji setan gundul, pengen kaya tanpa susah payah. Anak istri tercinta, kelak jadi tumbal pesugihan itu. Bisa Syirik, menyekutukan Tuhan.

Tapi yang aku lihat di Jogja, ternyata benar daun bisa jadi uang. Ceritanya dengan Haim teman orang Batak, kami jalan-jalan di pasar minggu pagi kampus UGM. Haim bikin saya kaget, dengan logat Batak dia ngomong “Bah macam apa pula ini, ko daun mereka jual mereka”. Aku tertegun dan menatap daun yang dijual itu, selama ini setahu aku daun sirih benar bisa dijual buat nenek-nenek menginang.

Setelah mencermati daun itu, kesadaranku sepertinya disedot ke dalam pusaran kearifan cerita orang-orang tua zaman dulu di kampung. Benar daun jadi uang, tapi tidak dengan mengabdikan diri pada setan. Aku amati daun itu, mungkin daun kayu jati. Daun itu dikeringkan sehingga yang kelihatan hanya serat-seratnya saja, kemudian dibikin seperti sayap kupu-kupu kemudian dari kayu juga dibikin serupa badan kupu-kupu. Kupu-kupu bersayap daun itu nampak cantik dengan cat watna-warni yang menghiasi tubuhnya.

Jogja ini ada-ada saja, aneh dan unik. Apalagi ketika aku diajak teman-teman ke Kasongan tempat kerajinan, dari tanah liat, rotan, kelapa, akar-akaran pokoknya di sana semua jadi uang karena kemampuan mereka membikin sesuatu dengan kerajinan tangan. Di Kalimantan tanah yang melimpah ruah sumber daya alam, apa yang terpakai dan bermanfaat di sini, di sana bisa terbengkalai. Buah kelapa yang sudah tua, tidak terpakai lagi, kalau jatuh mengapung di atas air. Aku kadang memanfaatnya untuk pelampung kecil buat berenang.

Di Kasongan, saya melihatnya berubah menjadi mainan kepala yang lucu. Matanya menatap aku, seolah menggoda bahkan lebih tepat menyindir. “Di tempatmu kau buang aku dengan sia-sia, di sini aku berkuasa dan berharga” Aku mengalihkan pandanganku dari buah kelapa yang menjadi mainan kepala itu, tapi sepertinya dia terus mengejek aku “Hayyo berapa uangmu, kalau isi dompetmu hanya sedikit jangan harap bisa memiliki aku”. Aku segera beranjak keluar melihat kerajinan lain, tapi aku masih sempat menoleh kepada kepala dari kelapa itu. Kulihat dia tersenyum, aku menjadi seperti orang gila. Kenapa pejabat-pejabat dari dinas perindustrian dan perdagangan di tempat aku, tidak memikirkan seperti ini. “Sungguh terlalu” kata bung Rhoma.

Orang tua bahkan nenek moyang dulu, sungguh arif mereka bisa membaca tanda-tanda zaman beberapa puluh tahun hingga berabad akan datang. Mereka tahu daun benar bisa jadi uang. Kita sering keliru memahami kearifan mereka.


Responses

  1. kayaknya lebih sip yang bakumpai deh… tulis dong kisah cinta dengan pujaan hatimu

  2. mungkin orang kita harus lebih bnyak belajar lagi untuk bersyukur atas limpahan hasil alam yang mereka miliki dengan memanfaatkan hasil tersebut dengan sebaik-baiknya, serta jangan cuma terfana dengan keadaan yang ada tapi, seharusnya berfikr bagaimana caranya dapat mengelola hasil alam tersebut agar mampu menghasilkan hasil yang lebih baik lagi…
    dan mungkin yang lebih ironinya di tempat kita adalah SDM yang kurang….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: