Posted by: danummurik | June 23, 2017

Malabar, Denyut di Jantung kota Banjarmasin

Hari ini kawasan Malabar nampak lengang, seolah tidak ada tanda bahwa sekarang adalah H-2 lebaran, atau menjelang 1 Syawal 1438 H. Suasana lengang ini sesungguhnya keadaan tidak biasa apabila kilas balik ingatan kita pada penghujung tahun 80-an dan awal 90-an.

Titik Keramaian Malabar di Masa Lalu

Malabar termasuk kawasan Minseng adalah titik crowded para pengunjung dengan pelbagai kegiatan. Tidak jauh dari situ, ada dermaga Pasar Lima tempat bersandar bis air yang melayari tujuan dari dan menuju Puruk Cahu atau Palangkaraya sebelum bergeser ke pelabuhan Banjar Raya atau kapal motor (motor boat) hingga kelotok yang membawa penumpang dari kawasan terdekat.

Malabar adalah titik awal kawasan Jalan Pangeran Samudera, Banjarmasin yang menumpah ruahkan pengunjung, pelancong, peniaga, pebisnis bahkan pelajar dari pelosok Kalimantan Selatan hingga Kalimantan Tengah yang bertambat di sekitar pelabuhan Pasar Lima. Dari situ, pengunjung bisa ke Pasar Sudimampir, Pasar Harum Manis atau menunaikan shalat lima waktu di masjid Noor. Di sini pulalah menjadi second terminal taksi kuning (angkutan kota) setelah terminal Pasar Hanyar.

Mengenang Malabar tak ubahnya menyenandungkan nyanyian Ahmad Albar, “denyut di jantungmu kota, pusat gelisah dan tawa”. Malabar jantung kota Banjarmasin ini dipompa pada masa Orde Baru ketika perekonomian rakyat sedang sehat dan kuat.

Transportasi sungai mencapai era keemasan karena mengangkut hasil bumi berupa rotan, karet, padi, hingga angkutan penumpang moda transportasi sungai menuju kota Banjarmasin. Kesuksesan kaum urban yang bermigrasi ulang alik antara lain ditandai dengan souvenir dari sekitar Malabar ini.

Sebuah toko pakaian bernama Lima Cahaya  seindah namanya membentuk life style anak muda hingga ke pelosok desa dengan berbagai pakaian branded waktu itu. Sebut saja Walrus, Osella, Oto Ono, Hassenda, Country Fiesta, Palo Alto dan sebagainya.

Toko Lima Cahaya tetap bersinar, meski tidak seterang di masa lalu.

Saya menduga nasib Lima Cahaya akan sama dengan induk semangnya Malabar. Senasib pula dengan Mitra Plaza yang runtuh pasca kerusuhan 23 Mei 1997. Terlebih lagi saat ini berbagai pusat pertokoan besar bermunculan. Ternyata di luar dugaan, Lima Cahaya masih bercahaya meski tidak seterang dulu. Pembeli masih antri di depan kasir untuk membayar pakaian yang akan dibeli.

Saya mengunjungi hingga ke lantai 3. Di sana saya menemukan celana jeans merk legendaris Levi’s 505. Pengguna celana itu adalah kelompok high class karena harganya mencapai jutaan. Ada pula baju cap payung. Saya hampir lupa baju yang menunjukkann kesan high class bermerk Arnold Palmer dengan menyandang motto the Men is Legend. Statement diberikan produsen baju itu secara eksplisit sangat maskulin sekali.

Malabar, Lima Cahaya bahkan pasar-pasar sekitarnya adalah jantung kehidupan kota. Kepada tukang parkir motor, saya bertanya tentang suasana lengang ini. Jawabnya “Pas padatnya hari minggu tadi. Bubuhan hulu sungai pada datangan” (Kepadatan terjadi pada hari minggu tadi. Orang-orang dari Hulu Sungai berdatangan).

Posted by: danummurik | June 25, 2016

Tujuh Destinasi Menarik di Kecamatan Kuripan

Jambu Baru

Oleh : Nasrullah

Tidak lengkap kalau hanya mengenal Kecamatan Kuripan kabupaten Barito Kuala hanya dari keterpencilannya. Sebagaimana sebuah koin memiliki dua sisi berbeda, begitu pula kecamatan Kuripan yang terletak bagian hulu (utara) Batola selalu ramai oleh lalu lintas sungai yang menghubungi tiga kawasan utama: Ke arah hulu adalah kota-kota tua di pesisir sungai Barito, yakni Buntok, Muara Teweh dan Puruk Cahu, sedangkan ke bagian hilir sebelah kiri adalah kota Marabahan dan Banjarmasin. Adapun bagian kanan persimpangan Sungai Barito adalah menelusuri sungai Pulau Petak akan bertemu dengan kota Kuala Kapuas. Lalu lalang perahu besar tug boat membawa tongkang berisi batu bara, rakit kayu, kapal-kapal barang dan penumpang dari dan ke kota-kota tersebut di atas adalah pemandangan yang biasa di Kecamatan Kuripan.

Selain itu, Kecamatan Kuripan yang terdiri dari desa Tabatan Lama, Tabatan Baru, Rimbun Tulang, Kuripan, Asia Baru, Jarenang, Kabuau, Hampelas dan Jambu Baru sebenarnya memiliki tujuh tempat yang menarik dikunjungi. Read More…

Posted by: danummurik | June 9, 2015

Menguak Fenomena Gila Batu Akik

Oleh: Nasrullah
IMG_20150519_081221

Mica, keponakanku berjualan ‘akik’ yang diambilnya dari halaman rumah.

Tahun 2014, bangsa Indonesia terkotak-kotak oleh hasrat berkuasa dan keberpihakan kepada salah seorang calon legislatif, calon kepala daerah hingga calon Presiden. Sebaliknya, tahun 2015 ini, kearifan lokal bangsa Indonesia menyatukan kembali pengkotakan itu dengan adanya ‘kegilaan’ bersama terhadap batu akik, atau batu apapun yang dilekatkan pada sebuah cincin. Read More…

Posted by: danummurik | April 17, 2015

Mahasiswa Sufistik atau Pejuang Skripsi

Tahukah anda mahasiswa yang sedang menulis skripsi dan ingin segera lulus, mereka mengalami perilaku kesufian. Saya tidak menyampaikan kuantitas kesufian tersebut, tetapi melihat kepada indikator sufistik dalam sikap mahasiswa. Indikator tersebut dapat saya ketahui ketika sedang membimbing skripsi mahasiswa.

Berikut ini lima indikator mahasiswa sufistik. Read More…

Posted by: danummurik | July 13, 2014

Mengkritisi Krisis Gaza

Oleh: Nasrullah

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

(Composed by Michael Heart)

Jarak fisik antara Indonesia dengan Gaza, Palestina, tentulah sangat jauh, jangankan menempuh perjalanan melalui laut menggunakan pesawat sekalipun membutuhkan waktu yang lama. Jarak yang begitu jauh itu, rupanya berbeda dengan hati perasaan bangsa Indonesia terhadap orang-orang yang sedang bertarung menyabung nyawa di sana. Hati dan perasaan bangsa Indonesia tidak ada jarak sedikit pun dengan orang-orang menderita di jalur Gaza, Palestina. Read More…

Posted by: danummurik | April 14, 2014

Keajaiban Yogya

Malam itu, tepatnya sekitar delapan tahun lalu, aku mengayuh sepeda ontel sambil berharap keajaiban. Dari Pringgolayan, aku menyusuri jalan di tepi Selokan Mataram, kemudian menyeberang jalan Gejayan (Sekarang Affandi), melewati kampus UNJ, Fakutas Kedokteran Hewan UGM dan terus menyusuri jalan Bulak Sumur menuju ATM di depan kantor BNI UGM. Di benakku, keajaiban itu adalah masih ada sisa uang yang bisa ditarik dalam Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Read More…

Older Posts »

Categories