Akhirnya kesempatan itu datang juga, sudah lama aku ingin menjejakkan kaki di Tumbang Samba dan beberapa minggu lalu aku datang ke Tumbang Samba, daerah menjadi pusat perdagangan bagi masyarakat di sekitar DAS Katingan. Lokasi perdagangan di Tumbang Samba terdapat di dua tempat, pertama di pasar harian yang juga pemukiman penduduk berupa rumah toko, menjual pakaian, alat-alat elektronik (televisi, radio-tape, handphone), barang-barang sembako, warung makan, ikan, ayam potong, buah-buahan. Tempat ini dipisahkan oleh jalan beraspal dan rumah penduduk yang saling berhadapan dan berada di atas tebing sungai.
Kedua, saya baru menyadari setelah masuk ke kapal motor dan memandang dari sungai ternyata terdapat puluhan rumah lanting di tepi sungai yang menjual berbagai barang dagangan. Rumah lanting tidak hanya sekedar tempat tinggal bagi penghuninya, juga sebagai tempat berjualan seperti jual minyak (solar, minyak tanah dan bensin), beras, mie, nampak juga berjualan gitar yang digantungkan berdekatan dengan senapan angin, ada juga kasur, alat tangkap ikan seperti jala, warung makan dan minum, serta tas ransel. Saya sempat bertanya dalam hati ketika melihat ada begitu banyak tas ransel yang dijual di setiap lanting, sempat terfikir barangkali karena banyak anak sekolah (SMP dan SMA) tapi jawaban tepat saya dapatkan setelah di perjalanan.
Memperhatikan barang-barang dagangan yang terdapat di Tumbang Samba, kita bisa mengetahui apa mata pencaharian utama masyarakat, dan kebutuhan masyarakat setempat. Seperti kebutuhan akan minyak solar, merupakan bahan bakar penting bagi angkutan transportasi sungai dan kegiatan penambangan emas yang bisa dilihat di sepanjang sungai. Beras yang dijual di lanting, menunjukkan kebutuhan akan beras ternyata di pasok dari luar, di dalam kapal saya melihat masyarakat membawa beras yang dikemas rapi dengan merk Raja Lele. Tentu beras jenis ini berasal dari luar, berbeda kalau beras di jual tanpa kemasan kemungkinan besar berasal dari daerah sekitarnya.
Tumbang Samba sebagai sebuah kota kecamatan, nampaknya memperlihatkan kondisi penduduknya yang lebih cenderung menggunakan transportasi darat, karena dari sungai Katingan saya tidak mendapatkan transportasi jukung sebagai angkutan sehari-hari penduduk. Kalaupun ada hanya kapal masin motor dan speed boat yang menunjukkan tingkat ketergantungan terhadap transportasi sungai sudah mulai menurun dan mobilitas penduduk Tumbang Samba lebih ke daerah perkotaan (Kasongan, Sampit, Palangkara dan Banjarmasin).
Perjalanan ini tidak hanya berhenti di Tumbang Samba, pukul 06.00 pagi kami kami berlima (Saya, Budi Kurniawan (wartawan dan penulis), Miss Laura (mhs S3 Sejarah Wisconsin University), Incek dan Bob (Mapala) dan Kobuta (penunjuk Jalan) berangkat dengan menggunakan kapal motor merupakan angkutan sungai yang membawa penumpang ke arah hulu sungai Katingan, yang berangkat hanya pada pagi hari.
Sebuah kapal motor yang kami tumpangi membawa ke daerah hulu sungai Katingan. Desa demi desa telah terlewati. setelah melewati desa Tumbang Kalemei, perjalanan menjadi mendebarkan di depan kami sebuah kiham (riam) bernama Mangkikit siap menyamput kedatangan kami. Tanpa ragu juragan kapal mulai mencari jalan menembus riam Mangkikit, bunyi mesin kapal semakin nyaring menandakan laju kapal semakin dipercepat. Deru mesin kapal seakan beradu nyaring dengan gemuruh air di riam. Kapal menjadi oleng karena kecepatanya beradu kuat dengan arus air riam, beruntung juragan kami adalah orang berpengalaman pada bidangnya yang saya yakin pihak kepolisian atau Pihak Dinas Lalu Lintas Angkutan Sungai Danau dan Penyebarangan (DLLASDP) tidak perlu lagi memberikan surat izin mengembudi karena mereka terbukti di lapangan sebagai orang yang pandai.

Saat paling mendebarkan justru setelah melewati riam Mangkikit ternyata mesin kami macet, beruntung sudah melewati arus deras. Sungguh tidak terbayangkan kalau saja mesin macet ketika berada di tengah riam tersebut. Terima kasih Tuhan nyawa kami selamat.
Lebih dari satu jam mesin diperbaiki, dan selama itu kapal motor yang lalu lalang berhenti melihat keadaan kapal kami. Ada yang meminjamkan kunci atau sekedar bertanya masalah kerusakan mesin, sesama penumpang yang saling kenal saling memanfaatkan kesempatan mengobrol dan bertanya kabar. Bagi sesama juragan dalam kesusahan seperti itu mereka menunjukkan simpati untuk saling membantu.
Foto : Budi & Bob
Selamat datang. Untuk yang kedua itu aku kurang menyadarinya. Dan aq malah belum pernah lo naik klotok di mangkikit itu. Pasti seru ya.
Seru dan menegangkan bagi yang senang petualang, menakutkan bagi yang belum pernah
Aku arungi Kiham Mangkikit, Tabera, dll. Cukup samapi Tbg. Sanamang
Oleh: yetty on April 10, 2008
at 11:19 am
Aslkm……wah…enak ya…bisa melihat langsung kondisi masyarakat kita……tentu banyak pelajaran dan pengalaman penting yg didapat…
Memang demikian bang, saya sangat senang di tempat yang begitu ramah dan bersahabat bukan sekedar basa-basi.
Oleh: olangbiaca on April 11, 2008
at 3:07 am
Aslkm…ya..benar olangbiaca di WP sekarang, ganti2 suasana.hehe
Oleh: olangbiaca on April 15, 2008
at 3:37 am
Uh, pasti seru bgt pas di riam mangkikit tuh..Mgkn tmbh seru kalo datang kesitu pas ada pesta rakyat,..Yg kalo g salah stiap akhir tahun diadakan..
Ayo kita datang bareng ke sana?
Oleh: Putri sudiarsa on April 20, 2008
at 5:10 am
Jadi inget waktu kerja di Banjarmasin. Padahal di hotel sudah tersedia breakfast, tapi aku selalu ngluyur ke Barito utk cari sarapan di pasar terapung bersama Roger Gaude, klientku. Ternyata buat dia juga jadi kenangan manis.
Sungai memang memberikan inspirasi dan kenangan yang sulit dilupakan.
Oleh: juliach on April 27, 2008
at 10:01 am
jadi ingat masa kecil dulu nih….
duluuuuuuuuuuuu sering main disungai,
sampe2 bikin kapal2 an dari batang pisang,hhee:))
harat tuh….^^
Oleh: hafidzi on Mei 1, 2008
at 6:18 am
mana update-nya neh kawan, sibuk ya ?
Oleh: oalngbiaca on Mei 2, 2008
at 4:44 am
Tumbang SAMBA MU . . .
Tumbang SAMBA KU . . .
TUMBANG SAMBA KITA SEMUA . . . . .
SALAM DAMAI BUMI BAKUMPAI . . . . .
Semua beraWAL DAri sEBUAH peRJALANAN PANJANG MERINTIS AWAl keHIdupan . . .
MEWARNAI SETIAP PERUBAHAN . . .
dari kayuh ZUKUNG samPAi deru mesin PEmBElah arus SunGAI katingan terus MengALir deRAS TanPA letih . . .
MEngobarkan Semangat TanPA LeLAH untuk biSA majU . . .
peRCIKan Setitik WAHana BERfikiRMU . . . KREAtiFItASmu . . . KE KamPOENG HALAMAN KIKTA SEMUA . . .
GIVE UR IMAGINE TO UR HEAVEN . . .
Oleh: RED'S ARMY on Mei 2, 2008
at 5:34 am
GIVE UR IMAGINEEEEEEEEEEEEE
Oleh: RED'S ARMY on Mei 2, 2008
at 5:36 am
datang lagi pas airnya surut, kita bisa jalan sampe ke tengah sungai lo
Iya, apalagi musim kemarau mungkin bisa nyebrang pake jalan kaki. Cuma di daerah agak ke huku Katingan.
Oleh: yetty on Mei 22, 2008
at 2:49 pm
cerita ini bikin aku jadi pengen pulang kampung…
aku sudah lama ga pulang,kebetulan letak kampung ku berada di hulu samba…desa tumbang sanamang….
aku sudah lama ingin mempublikasikan keindahan alam kita disana tappi aku masih belum tau jalur-jalurnya….
bisa bantuin ga??
Aku pernah dengar Tumbang Sanamang, mungkin sekitar 8 jam dari Samba. Untuk mempublikasikannya tentu kita mesti tahu dan mengenal lingkungan tersebut.
Oleh: priaatmaja on Maret 13, 2009
at 3:57 pm
aku juga pernah kesana bahkan sampai ke ujung lagi tumbang habagoi… bahkan pernah tugas di nusa kutai.
Wow luar biasa. Boleh dong berbagi cerita.
Oleh: hendry on Juni 24, 2009
at 5:07 am
Kalau aku sndiri malah sbagai kapten klotok yg sudah puluhan tahun malang melintang di sungai Samba(anak sungai katingan) yg jg harus melintasi jeram/riam, dan aku sendiri asli putra tbg samba (uluh itah kia).
Oleh: tumbangsamba on Agustus 11, 2009
at 1:05 pm
waktunitu gw dpt tgs kerja di plk, tp syg blm pernah kesini pasti asyik deh…. palagi cw gw orang tumbang kuai…… salam bt keluarga disana
Oleh: sugeng vanhelsing on Agustus 21, 2009
at 3:21 pm
Wach..,q gak prnh naek klotok menyusuri riam,gmn ya.? Tkut..
Oleh: Ferdy on September 12, 2009
at 3:04 pm
Riam mangkikit salah satu tempat wisata bagi masyarakat tumbang samba dan sekitarnya. Biasanya riam mangkikit dipenuhi wisatawan lokal pada lebaran hari kedua. Tp sayang, riam mangkikit lambat laun akan rusak jika penambang emas liat tidak ditertibkan.
Terima kasih atas informasinya. Nah, potensi wisata sudah ada tinggal bagaimana mengembangkannya.
Oleh: Sigit on September 29, 2009
at 7:34 am
iya mas, bener juga, saya skrg sedang di tumbang samba nih, masyarakatnya ramah2, baru 2 malam nih, besok ke katingan hulu, pokoknya seru abis dah, tanks
Oleh: nunugomez on Oktober 24, 2009
at 4:36 pm
sudah lama ga liat riaknya sungai katingan…
ga merasakan derasnya hempasan riam-riam.
salam rindu dari tanah sunda……
kami disini selalu mengagungkan namamu….
BORNEOku….
Oleh: priaatmaja on Desember 20, 2009
at 7:35 pm
tumbang samba….
aku mengenalnya hampir 2 thn yg lalu
masyarakatna yg ramah n unik membuatku terkesan, walau awalna sempet bertanya seperti apakah kota kecamatan ini, pi ternyata byk kisah yg kudapat
Oleh: wulandari on April 8, 2010
at 12:31 pm
tringat 12 tahun yg lalu saat ku pulang kampung di daerah hulu Samba n di daerah sananya riam makikit, dlu saya ingat kala itu di saat melewati riam tersebut seluruh penumpang disuruh turun dan berjalan kali mlawati hutan dan menanjak jalan yg mendaki, karena perahunya tidak bisa membawa penumpang dan untuk menhindari terjadinya karam perahu mkanya penumpang diminta untuk jalan kaki sampai daerah yang dituju.
Benar dan sampai sekarang masih seperti itu. Entah kenapa pemerintah tidak merintis jalan darat.
Oleh: Juliandi on Mei 21, 2010
at 4:27 pm
waw . . . . . Tumbang samba dengan beragam budaya ,, , bahkan Q sebut dengan . . . . ibukota katingan
Sepakat kawan. Banyak orang cerdas dan cantik dari Tumbang Samba.
Oleh: soswanto on Juni 2, 2010
at 4:23 pm
Tumbang Samba ada peluang jadi kabupaten ……….krEn
Ayo wujudkan………….
Oleh: sadewo on Juni 19, 2010
at 2:30 am
Klo ke tumbang hiran sudah bisa lewat jalan darat, klo ke tumbang sanamang masih harus lewat sungai.
Oleh: Sigit on Juni 28, 2010
at 5:21 am
tumbang samba memang okey, udah kangen aku untuk ke sana. tapi sayang Q harus menuntaskan study di kediri.
Q berasal dari paray tapi ibu orang katingan. he…
serasa ingin pulang.
Semoga kuliahnya cepat selesai dan pulang membangun petak danum.
Oleh: fuadi on Juli 12, 2010
at 11:49 am
Sungai Katingan masih lekat dihati saya sejak saya ikut membahas pra studi kelayakan pelabuhan sungai. Namun saya belum pernah kesana. Apalagi sangat ingin sekali melihat riam mangkikit, agar dapat di rancang bangunan berupa lock/shiplift, sehingga kecelakaan tidak terjadi lagi disana. amin
Semoga semua rencana demi kemashlahatan masyarakat setempat dapat berjalan dengan lancar
Oleh: ali mursal on September 21, 2010
at 4:02 am
Trayek angkutan sungai yang sudah tidak beroperasi di Sungai Katingan umumnya disebabkan oleh sudah terbukanya jalur angkutan jalan ke lokasi tersebut, yakni:-Terhubungnya jalan ke Tumbang Samba dari Kasongan menyebabkan berhentinya rute angkutan sungai dari Kasongan ke Tumbang Samba dan Terusan Danum (sebelah utara Tumbang Samba);
Iya, tapi untuk daerah hulu masih belum bisa dicapai dengan jalan darat.
Oleh: ali mursal on September 21, 2010
at 4:11 am
Saya sangat berminat untuk bermain riverboarding (Individual rafting) di riam mangkikit dan riam-riam yang lainnya di sungai katingan…
mohon info yg lebih lagi tetang jalur dan jarak tempauh serta alternatif tansportasi yang lebih mudah dan murah yang bisa digunanak… kalo ada info mohon sms ke no saya 0811519877 (Camang)
Wow, adventure yang menantang. Ayo siapa yang bisa bantu.
Oleh: chamang on September 27, 2010
at 4:00 pm
dari Tahun 2007-2009 terdapat penurunan yang signifikan dari lalulintas dan pelayanan angkutan sungai di WS Katingan. Kecenderungan ini dapat dilihat dari faktor internal maupun eksternal transportasi sungai. Dari aspek eksternal pengembangan jaringan jalan yang sudah terhubung dari Kasongan-Tumbang Samba dan Kasongan-Baun Bango bagaimanapun juga telah menyebabkan permintaan perjalanan (khususnya penumpang dan bahan pokok) menggunakan moda sungai menjadi berkurang pada koridor tersebut. Sedangkan dari faktor internal, terlihat bahwa kondisi pelabuhan di hampir semua lokasi mengalami kerusakan dan fasilitas pendukung yang kurang memadai. Sementara itu kondisi alur pelayaran juga semakin menurun dengan adanya pendangkalan dan penyempitan, serta kurangnya penyediaan rambu.
Pengembangan angkutan sungai yang diusulkan didasari kepada pemikiran sebagai berikut:
a. Sampai dengan jangka menengah (5-10 tahun y.a.d) peran angkutan sungai di Katingan masih sangat vital, karena pengembangan jaringan jalan Kabupaten yang menghubungkan antar ibukota kecamatan akan membutuhkan waktu dan biaya yang besar;
b. Arah peran sistem transportasi sungai di Katingan adalah:
- Dalam jangka pendek: menyediakan akses bagi semua wilayah terhadap pelayanan transportasi untuk mengakomodasi kebutuhan pokok dari sisi pendidikan, kesehatan, dan ekonomi;
- Dalam jangka panjang: sebagai moda angkutan barang, khususnya untuk memasarkan produk utama, yakni: rotan, kayu, kelapa sawit,
c. Untuk merevitalisasi dan mengoptimalkan peran angkutan sungai diperlukan beberapa langkah strategis sebagai berikut:
- Melakukan perbaikan dan penggantian dermaga sungai pada lokasi yang saat ini kondisinya sudah rusak
- Meningkatkan keselamatan pelayaran di sepanjang alur sungai Katingan dengan pengerukan dan pelengkapan fasilitas navigasi,
Oleh: ali mursal on September 28, 2010
at 5:18 am
Strategi dan program utama pengembangan transportasi sungai Katingan
Dengan memperhatikan arahan peran, tujuan dan misi pengembangan yang diidamkan, maka strategi pengembangan yang direkomendasikan berpijak kepada beberapa hal berikut:
1. Kondisi transportasi sungai di Katingan saat ini mengalami penurunan yang luar biasa, baik dari sisi kondisi pelabuhan, penyediaan sarana kapal sungai, jumlah trayek pelayanan angkutan sungai, maupun kualitas pelayanan (ketepatan waktu, biaya transportasi, dlsb). Oleh karena itu langkah utama yang harus dilakukan adalah MEREVITALISASI sistem transportasi sungai di Kabupaten Katingan dengan mengembalikan kapasitas dan kualitas pelayanan transportasi sungai sebagaimana mestinya sesuai kondisi semula (sebelum krisis ekonomi) sehingga masyarakat memiliki pilihan angkutan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya;
2. Memperhatikan kecenderungan ke depan, maka peran transportasi sungai akan mendapatkan saingan moda jalan, dimana terdapat sejumlah rencana pengembangan jaringan jalan (juga kereta api) oleh Pemda Kabupaten Katingan (maupun Pemprov dan Pusat). Oleh karena itu, strategi berikutnya adalah menciptakan PEMBAGIAN PERAN antara moda sungai dengan moda jalan yang efisien dan efektif dengan memperhatikan keunggulan komparatif setiap moda. Kemungkinan besar dari sisi biaya dan waktu untuk perjalanan penumpang, moda sungai akan kalah bersaing dengan moda jalan, khususnya pada area yang sudah terbangun jaringan jalan dan tersedia pelayanan angkutan jalan (umum). Moda sungai akan lebih berperan dalam menjangkau daerah yang belum tersedia jaringan jalan dan dalam angkutan barang skala besar bagi distribusi produk hasil alam (yang jika diangkut menggunakan moda jalan akan menimbulkan kerusakan jalan dan biaya sosial yang sangat tinggi);
3. Pada tahapan selanjutnya, peran setiap moda perlu dioptimalkan dalam mendukung perekonomian. In-efisiensi perlu dipangkas, peran setiap moda benar-benar diarahkan sesuai dengan keunggulan komparatifnya masing-masing. Sebagaimana diketahui, bahwa pengembangan jaringan jalan di Katingan saat ini masih dalam tahap awal, dimana kapasitas dan kelas jalan yang tersedia masih sangat terbatas. Dalam kondisi ini, maka penggunaan moda jalan untuk angkutan barang (apalagi komoditas rotan, kayu, dan pertanian yang spesifikasinya: berat namun harga satuan murah) tidak cukup bijaksana (kecuali untuk barang konsumsi, seperti: sandang, pangan, dan obat-obatan). Oleh karena itu, strategi yang dapat ditempuh dalam jangka panjang adalah OPTIMALISASI manfaat moda angkutan sungai Katingan bagi perekonomian, selain sebagai moda angkutan barang juga perlu ditingkatkan perannya dalam pariwisata. Perlu diperhatikan bahwa wilayah Katingan memiliki potensi wisata yang cukup baik, dari budaya asli dayak, riam-riam sungai, dan pariwisata petualangan.
Oleh: ali mursal on September 28, 2010
at 5:28 am
terdapat 3 kelompok pelabuhan yang diprioritaskan untuk ditangani, yakni:
- Rencana pelabuhan sungai kelas I (pusat penyebaran) (saat ini sudah ada dermaga), yakni: Pegatan/Selat Jeruju dan Kasongan;
- Rencana pelabuhan sungai Kelas II yang saat ini kondisi dermaganya rusak, yakni: Mendawai, Pendahara, Tumbang Samba, Tumbang Kaman;
- Rencana pelabuhan sungai Kelas III yang merupakan ibukota kecamatan yang saat ini kondisinya rusak, yakni: Tumbang Hiran, Petak Bahandang, Tumbang Senamang, Buntut Bali, Baung Bango;
- Rencana pelabuhan sungai Kelas III yang saat ini belum ada dermaganya namun sudah melayani angkutan penumpang yang cukup besar, yakni: Luwuk kanan/kiri, Dahian Tunggal, Tumbang Panggo, Menduing Lama.
Tahapan implementasi yang direkomendasikan tersebut perlu ditindaklanjuti dengan melakukan FS (Feasibility Study) khususnya untuk pelabuhan-pelabuhan yang memiliki prioritas untuk dilaksanakan dalam jangka pendek.
Oleh: ali mursal on September 28, 2010
at 5:33 am
wah tuh tmpat gue gede..
Oleh: hendri{ancol} on April 25, 2011
at 4:33 am
gue masa kecil nya hidup di tmbang samba..
Oleh: hendri{ancol} on April 25, 2011
at 4:34 am
tumbangsamba makin sip deh
Good
Oleh: misran on Mei 6, 2011
at 2:56 pm
sekitar tahun 1989 aku pernah berkunjung ke tumbang samba,..duh lamanya dari kasongan,..tentunya naik klotok .
Oleh: hajaruddin siregar on Mei 27, 2011
at 4:52 pm
jujur saja klo melihat kondisi tumbang samba yang semakin maju..sangat membanggakan,….
tapi aq tetap saja merindukan tumbang samba yang dulu… sungai yang jernih…hutan yang lebat…suasana pagi yang indah… ada banyak hal yang sekarang berubah ttp tidak diimbangi dengan kepedulian akan alam..
Oleh: cici on Juli 12, 2011
at 4:43 pm
Ayo ke Tumbang Samba lagi.
Oleh: danummurik on Juli 13, 2011
at 3:08 am
gue lahir d sono,skrang gue tinggal n kerja d tenggarong kalimantan timur,tiap lebaran gue pulang kampung,ada ngak teman2 yang kenal n ingat ama gue :suri
Oleh: Squid Mikrotik on Juli 25, 2011
at 6:02 pm
hasan basri
LOSMEN ” SUMBER MULIA ”
TUMBANG SAMBA
Oleh: hasan on Oktober 4, 2011
at 11:00 pm