Untuk Dunia

Kisah ringan dari dalam diri, dari pengalaman hidup, mari kita berbagi cerita.

Tumbang Samba, Aku Datang…

Ditulis oleh danummurik di/pada April 9, 2008

Akhirnya kesempatan itu datang juga, sudah lama aku ingin menjejakkan kaki di Tumbang Samba dan beberapa minggu lalu aku datang ke Tumbang Samba, daerah menjadi pusat perdagangan bagi masyarakat di sekitar DAS Katingan. Lokasi perdagangan di Tumbang Samba terdapat di dua tempat, pertama di pasar harian yang juga pemukiman penduduk berupa rumah toko, menjual pakaian, alat-alat elektronik (televisi, radio-tape, handphone), barang-barang sembako, warung makan, ikan, ayam potong, buah-buahan. Tempat ini dipisahkan oleh jalan beraspal dan rumah penduduk yang saling berhadapan dan berada di atas tebing sungai.

Kedua, saya baru menyadari setelah masuk ke kapal motor dan memandang dari sungai ternyata terdapat puluhan rumah lanting di tepi sungai yang menjual berbagai barang dagangan. Rumah lanting tidak hanya sekedar tempat tinggal bagi penghuninya, juga sebagai tempat berjualan seperti jual minyak (solar, minyak tanah dan bensin), beras, mie, nampak juga berjualan gitar yang digantungkan berdekatan dengan senapan angin, ada juga kasur, alat tangkap ikan seperti jala, warung makan dan minum, serta tas ransel. Saya sempat bertanya dalam hati ketika melihat ada begitu banyak tas ransel yang dijual di setiap lanting, sempat terfikir barangkali karena banyak anak sekolah (SMP dan SMA) tapi jawaban tepat saya dapatkan setelah di perjalanan.

Memperhatikan barang-barang dagangan yang terdapat di Tumbang Samba, kita bisa mengetahui apa mata pencaharian utama masyarakat, dan kebutuhan masyarakat setempat. Seperti kebutuhan akan minyak solar, merupakan bahan bakar penting bagi angkutan transportasi sungai dan kegiatan penambangan emas yang bisa dilihat di sepanjang sungai. Beras yang dijual di lanting, menunjukkan kebutuhan akan beras ternyata di pasok dari luar, di dalam kapal saya melihat masyarakat membawa beras yang dikemas rapi dengan merk Raja Lele. Tentu beras jenis ini berasal dari luar, berbeda kalau beras di jual tanpa kemasan kemungkinan besar berasal dari daerah sekitarnya.

Tumbang Samba sebagai sebuah kota kecamatan, nampaknya memperlihatkan kondisi penduduknya yang lebih cenderung menggunakan transportasi darat, karena dari sungai Katingan saya tidak mendapatkan transportasi jukung sebagai angkutan sehari-hari penduduk. Kalaupun ada hanya kapal masin motor dan speed boat yang menunjukkan tingkat ketergantungan terhadap transportasi sungai sudah mulai menurun dan mobilitas penduduk Tumbang Samba lebih ke daerah perkotaan (Kasongan, Sampit, Palangkara dan Banjarmasin).

Pagi di Tumbang SambaPerjalanan ini tidak hanya berhenti di Tumbang Samba, pukul 06.00 pagi kami kami berlima (Saya, Budi Kurniawan (wartawan dan penulis), Miss Laura (mhs S3 Sejarah Wisconsin University), Incek dan Bob (Mapala) dan Kobuta (penunjuk Jalan) berangkat dengan menggunakan kapal motor merupakan angkutan sungai yang membawa penumpang ke arah hulu sungai Katingan, yang berangkat hanya pada pagi hari.

Riam di Sungai KatinganSebuah kapal motor yang kami tumpangi membawa ke daerah hulu sungai Katingan. Desa demi desa telah terlewati. setelah melewati desa Tumbang Kalemei, perjalanan menjadi mendebarkan di depan kami sebuah kiham (riam) bernama Mangkikit siap menyamput kedatangan kami. Tanpa ragu juragan kapal mulai mencari jalan menembus riam Mangkikit, bunyi mesin kapal semakin nyaring menandakan laju kapal semakin dipercepat. Deru mesin kapal seakan beradu nyaring dengan gemuruh air di riam. Kapal menjadi oleng karena kecepatanya beradu kuat dengan arus air riam, beruntung juragan kami adalah orang berpengalaman pada bidangnya yang saya yakin pihak kepolisian atau Pihak Dinas Lalu Lintas Angkutan Sungai Danau dan Penyebarangan (DLLASDP) tidak perlu lagi memberikan surat izin mengembudi karena mereka terbukti di lapangan sebagai orang yang pandai.

Kapal Motor Mengarungi Riam

Saat paling mendebarkan justru setelah melewati riam Mangkikit ternyata mesin kami macet, beruntung sudah melewati arus deras. Sungguh tidak terbayangkan kalau saja mesin macet ketika berada di tengah riam tersebut. Terima kasih Tuhan nyawa kami selamat.

Lebih dari satu jam mesin diperbaiki, dan selama itu kapal motor yang lalu lalang berhenti melihat keadaan kapal kami. Ada yang meminjamkan kunci atau sekedar bertanya masalah kerusakan mesin, sesama penumpang yang saling kenal saling memanfaatkan kesempatan mengobrol dan bertanya kabar. Bagi sesama juragan dalam kesusahan seperti itu mereka menunjukkan simpati untuk saling membantu.

Foto : Budi & Bob

17 Tanggapan ke “Tumbang Samba, Aku Datang…”

  1. yetty berkata

    Selamat datang. Untuk yang kedua itu aku kurang menyadarinya. Dan aq malah belum pernah lo naik klotok di mangkikit itu. Pasti seru ya.

    Seru dan menegangkan bagi yang senang petualang, menakutkan bagi yang belum pernah :-)
    Aku arungi Kiham Mangkikit, Tabera, dll. Cukup samapi Tbg. Sanamang :-)

  2. olangbiaca berkata

    Aslkm……wah…enak ya…bisa melihat langsung kondisi masyarakat kita……tentu banyak pelajaran dan pengalaman penting yg didapat…

    Memang demikian bang, saya sangat senang di tempat yang begitu ramah dan bersahabat bukan sekedar basa-basi.

  3. olangbiaca berkata

    Aslkm…ya..benar olangbiaca di WP sekarang, ganti2 suasana.hehe

  4. Putri sudiarsa berkata

    Uh, pasti seru bgt pas di riam mangkikit tuh..Mgkn tmbh seru kalo datang kesitu pas ada pesta rakyat,..Yg kalo g salah stiap akhir tahun diadakan..

    Ayo kita datang bareng ke sana? :-)

  5. juliach berkata

    Jadi inget waktu kerja di Banjarmasin. Padahal di hotel sudah tersedia breakfast, tapi aku selalu ngluyur ke Barito utk cari sarapan di pasar terapung bersama Roger Gaude, klientku. Ternyata buat dia juga jadi kenangan manis.

    Sungai memang memberikan inspirasi dan kenangan yang sulit dilupakan.

  6. hafidzi berkata

    jadi ingat masa kecil dulu nih….
    duluuuuuuuuuuuu sering main disungai,
    sampe2 bikin kapal2 an dari batang pisang,hhee:))

    harat tuh….^^

  7. oalngbiaca berkata

    mana update-nya neh kawan, sibuk ya ?

  8. RED'S ARMY berkata

    Tumbang SAMBA MU . . .
    Tumbang SAMBA KU . . .
    TUMBANG SAMBA KITA SEMUA . . . . .

    SALAM DAMAI BUMI BAKUMPAI . . . . .

    Semua beraWAL DAri sEBUAH peRJALANAN PANJANG MERINTIS AWAl keHIdupan . . .

    MEWARNAI SETIAP PERUBAHAN . . .
    dari kayuh ZUKUNG samPAi deru mesin PEmBElah arus SunGAI katingan terus MengALir deRAS TanPA letih . . .
    MEngobarkan Semangat TanPA LeLAH untuk biSA majU . . .

    peRCIKan Setitik WAHana BERfikiRMU . . . KREAtiFItASmu . . . KE KamPOENG HALAMAN KIKTA SEMUA . . .

    GIVE UR IMAGINE TO UR HEAVEN . . .

  9. RED'S ARMY berkata

    GIVE UR IMAGINEEEEEEEEEEEEE

  10. yetty berkata

    datang lagi pas airnya surut, kita bisa jalan sampe ke tengah sungai lo

    Iya, apalagi musim kemarau mungkin bisa nyebrang pake jalan kaki. Cuma di daerah agak ke huku Katingan.

  11. priaatmaja berkata

    cerita ini bikin aku jadi pengen pulang kampung…
    aku sudah lama ga pulang,kebetulan letak kampung ku berada di hulu samba…desa tumbang sanamang….

    aku sudah lama ingin mempublikasikan keindahan alam kita disana tappi aku masih belum tau jalur-jalurnya….

    bisa bantuin ga??

    Aku pernah dengar Tumbang Sanamang, mungkin sekitar 8 jam dari Samba. Untuk mempublikasikannya tentu kita mesti tahu dan mengenal lingkungan tersebut.

  12. hendry berkata

    aku juga pernah kesana bahkan sampai ke ujung lagi tumbang habagoi… bahkan pernah tugas di nusa kutai.

    Wow luar biasa. Boleh dong berbagi cerita.

  13. tumbangsamba berkata

    Kalau aku sndiri malah sbagai kapten klotok yg sudah puluhan tahun malang melintang di sungai Samba(anak sungai katingan) yg jg harus melintasi jeram/riam, dan aku sendiri asli putra tbg samba (uluh itah kia).

  14. sugeng vanhelsing berkata

    waktunitu gw dpt tgs kerja di plk, tp syg blm pernah kesini pasti asyik deh…. palagi cw gw orang tumbang kuai…… salam bt keluarga disana

  15. Ferdy berkata

    Wach..,q gak prnh naek klotok menyusuri riam,gmn ya.? Tkut..

  16. Sigit berkata

    Riam mangkikit salah satu tempat wisata bagi masyarakat tumbang samba dan sekitarnya. Biasanya riam mangkikit dipenuhi wisatawan lokal pada lebaran hari kedua. Tp sayang, riam mangkikit lambat laun akan rusak jika penambang emas liat tidak ditertibkan.

    Terima kasih atas informasinya. Nah, potensi wisata sudah ada tinggal bagaimana mengembangkannya.

  17. nunugomez berkata

    iya mas, bener juga, saya skrg sedang di tumbang samba nih, masyarakatnya ramah2, baru 2 malam nih, besok ke katingan hulu, pokoknya seru abis dah, tanks

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>