Memaknai Asa di Alam Nirsadar

Ada keteraturan dibalik ketidakteraturan (ASA)

WANI-WANI TAKUT

Saya memberanikan diri untuk tampil membahasa buku Bungkam Mata Gergaji (BMG) karya Ali Syamsudin Arsi (ASA), salah seorang sastrawan produktif Kalimantan Selatan. Produktivitas ASA terbukti baik bagi orang telah mengenalnya sejak lama atau pun baru mengenal. Di bagian akhir BMG terdapat sederet daftar karya sastra ASA, kita pun menjadi tahu bahwa BMG adalah salah satu tetralogi Gumam ASA. Keberanian saya disertai perasaan ‘wami-wani takut’ karena menghadapi dua persoalan serius terhadap BMG. Pertama, BMG susah dibaca, tidak mudah dipahami. Kedua, kalau mengalami kesulitan pertama, tentu lebih susah lagi untuk membahasnya.

 Dua persoalan itu semakin parah mengingat saya bukanlah seorang sastrawan, pengamat sastra apalagi kritikus sastra dan tak lebih hanya seorang penikmat sastra. Sangat memalukan jika saya menyamar menjadi sastrawan, tentu akan ditertawakan karena tak ubahnya Tarzan masuk kota. Secara psikologis juga ada kesulitan. Saya ini anak kemarin sore, kalau terlalu berani pada orang tua bisa katulahan. Oleh karena itu, saya tidak membahas BMG dengan pendekatan sastra ataupun kebahasaan karena bukan keahlian saya.

Saya merasa beruntung memiliki disiplin ilmu ‘keranjang sampah’ yakni antropologi. Nyaris semua bidang dapat dimasuki antropologi, baik seni, kedokteran, pertanian, begitu pula sastra. Antropologi mampu bersekutu dengan disiplin ilmu yang lain. Faktor inilah membuat saya berani untuk tampil membahas BMG karya ASA, fokusnya pada pemikiran ASA yang terkandung dalam BMG. Keberanian saya setidaknya diperkuat oleh dua orang mahaguru antropologi UGM, pertama Irwan Abdullah tahun 2005 menulis Kepak Sayap Si Burung Merak: Blues untuk Rendra. Tulisannya berisi tentang pengalaman terhadap karya dan pementasan Rendra yang nampaknya sejalan dengan konsep pengalaman dan ekspresi dari Edward M. Bruner Tulisan kedua dari Heddy Shri Ahimsa Putra yang membahas secara serius tiga buah karya sastra Umar Kayam yakni Sri Sumarah, Bawuk dan Para Priyayi(Lihat Salam (ed), 1998: Ahimsa-Putra, 2006). Bagian kedua ini menjadi pilihan saya untuk membahas karya ASA dalam BMG. Selanjutnya, MEMAKNAI ASA DI ALAM NIRSADAR

Apakah Ramadhan itu wahai Sahabat?

Sahabat, apakah Ramadhan itu sekedar adu keras suara mik di musholla dan masjid hingga larut malam? Lalu kemudian membuat orang kesulitan tidur atau Tuhan seakan jauh sehingga harus menggunakan pengeras suara?

Apakah Ramadhan itu hanya pelampiasan hasrat makan minum pada waktu berbuka di luar daya tampung perut kita. Setelah kita menahan haus dan lapar sejak mentari terbit hingga terbenam?

Apakah Ramadhan itu menjdkan kita ekspresif dgn lifestyle? Penghujung bulan puasa nanti, kita berbondong menyerbu toko-toko pakaian membeli baju baru. Padahal hanya dipakai untuk sehari saja.

Sahabat, apakah ritus ramadhan yang telah kita perbuat benar membawa kita menjd orang yg bertaqwa?

Suara Azan di SPBU

Kamis malam (14/3) sekitar pukul 17.40 Wita, saya masuk dalam barisan pengendara motor yang antri untuk mengisi bensin di SPBU jalan Sultan Adam Banjarmasin. Sambil menunggu giliran mengisi bensin, saya mendengar suara musik “metal” atau melayu total versi grup musik ST 12 dari musik player.

Saya terpikir bahwa petugas SPBU ini kreatif. Sambil melayani pelanggan yang mengisi bensin, ia menghibur diri sekaligus menghibur pelanggan. Tanpa terasa giliran saya semakin dekat.

Segera saya membuka kunci tempat duduk bersiap-siap membuka tutup bensin motor. Saya akan mendapat giliran ketiga, tentu akan sebentar saja apalagi iringan musik yang mendayu-dayu dapat menghilangkan kebosanan. Benar saja, setelah motor di depan adalah giliran saya. Continue reading

Pergulatan Hidup Guru, Tacut, Gandak, Bos di Lingkungan Tambang

Oleh: Nasrullah

Satu lagi sebuah novel dengan latar belakang lingkungan tambang terbit yang menambah khazanah sastra, khususnya di Kalimantan Selatan. Sandi Firly, penulisnya pun sudah tak asing lagi di kalangan sastrawan Kalimantan Selatan. Ia adalah orang yang berada di garis depan memompa semangat sastrawan dalam berkarya, sebab ia pernah menjadi pengasuh rubrik sastra di salah harian yang terbit di kota Banjarmasin. Kini ia maju lebih ke depan lagi melalui novel Rumah Debu (RD). Selain mengokohkan eksistensi kecintaannya sebagai sastrawan, juga sebagai kepedulian terhadap lingkungan.

Sebagai seorang penikmat karya sastra, begitu membaca novel RD saya melihat tiga hal yang mesti dicermati. Pertama, ciri khas sebuah novel. Kedua, karakter tokoh. Ketiga, pemilihan dan pengolahan tema. Continue reading

Surat dari Padang (2)

“Turunkan Tanganmu Bung”

oleh: Nasrullah

Datang ke ranah Minang akan terasa ada yang kurang, jika tidak mengunjungi kota Bukittinggi. Sewaktu kecil, saya mengenal kota Bukittinggi melalui pancaran gelombang menengah (medium wave) siaran RRI Bukittinggi yang diterima timbul tenggelam radio transistor milik ayah saya. Continue reading

Surat dari Padang (1)

Pria Kesepian di Dalam Angkot

Jika ingin berada di tengah-tengah perempuan, masuklah angkutan kota (angkot) di Padang. Urusan perempuan di dalam angkot ternyata menarik untuk dijadikan cerita, meskipun dalam tulisan ini dibahas secara sederhana. Setidaknya, inilah yang saya rasakan setelah beberapa kali menumpang angkot di Kota Padang. Continue reading